Oleh: Sinyak

Kiriman Naskah| Media Oposisi- Dalam perjalannya,  panggung sejarah selalu menyediakan ruang bagi kemunculan pemimpin-pemimpin Diktator, Represif nan Otoriter disetiap kurun. Bermula dari era Namrud-Ibrahim, cerita Fir’aun vs Musa, berkolosal ke masa Muhhammad menghadapi para Pimpinan Quraisy. Bahkan, hingga zaman modern sekalipun, Dunia masih melahirkan manusia seperti Hitler dan Mussolini. 

Kisah kediktatoran itu tidak saja berhenti di skala global ataupun setelah tumbangnya tahta Hitler dan Mussolini, Belahan dunia yang lain juga memiliki cerita yang sama -mulai dari kecil ataupun besarnya skala kediktatoran yang dilakukan- termasuk Indonesia. 

Orde Lama dengan Demokrasi Terpimpinnya, dibawah kendali penuh Sang Panglima Besar Revolusi kala itu juga bertindak Represif terhadap siapa saja yang menolak Ideologi Nasakom dengan tuduhan “Kontra-Revolusioner”. Mengikuti gaya kepemimpinan dalam kurunnya, Rezim junta militer Orde Baru juga mengendalikan Negara dengan amat sangat Represif dan Otoriter. Pihak-pihak yang di cap “Anti Pancasila” dengan kacamatanya, tak segan-segan untuk diberangus, baik secara Hukum maupun dengan cara yang lebih kejam dan diktator. 

Tak jauh berbeda dengan masa itu, wajah Rezim hari ini yang terlihat polos namun bengis kembali mengulang sejarah pendahulunya. Melalui Perppu No.2 tahun 2017 yang menimbulkan polemik dan menciptakan kegaduhan ditengah-tengah masyarakat, Nyanian lawas “Anti Pancasila” kembali diputar untuk menghabisi lawan-lawan politiknya dengan “sewenang-wenang”, tanpa diberi ruang untuk membela diri apalagi memberi penjelasan.

Tetapi dibalik semuanya, jika kita membuka tabir dibelakang layar munculnya kediktatoran itu, akan berpangkal dan bermuara pada “kalahnya kekuatan logika” yang melintas dan menyeberang menuju kepada “logika kekuatan (kekuasaan)”. Logika tangan besi kekuasaan itulah yang dipakai dan melatarbelakangi lahirnya kediktatoran dan otoritarianisme.

Kekalahan Namrud di hadapan Sesembahannya

Diutusnya Ibrahim di tengah-tengah kaumnya dengan misi Tauhid bukanlah tugas yang ringan, mengingat model spiritual yang berkembang kala itu merupakan tradisi penyembahan terhadap berhala. Namun, peribadatan ala jahiliyah yang telah mengakar itu harus di ubah menjadi model spiritual yang benar dengan hanya menyembah kepada Allah selaku Tuhan yang menciptakan manusia, jagad raya, dan kehidupan.

Ilustrasi Namrud
Tiba pada satu peristiwa terbongkarnya tindakan Ibrahim yang menghancurkan seluruh berhala-berhala yang dijadikan sesembahan oleh kaumnya, dengan hanya menyisakan satu berhala yang paling besar dan mengalungkan kapak dileher berhala itu, Ibrahim pun disidang secara terbuka oleh Namrud. Sampai dipertanyaan terakhir yang diperkarakan oleh Namrud dan pengikutnya, Ibrahim menjawab dengan kekuatan logika yang meruntuhkan seluruh konsep ketuhanan kaumnya. 

Kala Namrud bertanya “Ibrahim, benarkah anda yang menghancurkan Tuhan-Tuhan kami?”, Ibrahim menunjuk kepada berhala besar yang tersisa “Hadzaa Kabiir (Ini yang paling besar)” jawab Ibrahim sambil ber-thauriyyah (ungkapan yang memiliki dua makna). 

Namrud menangkap ungkapan Ibrahim bahwa patung terbesar itu yang menghancurkan patung-patung lainnya, “bukankah ini hanya sebuah patung? bagaimana mungkin ia (patung terbesar) yang menghancurkan?” ketus Namrud, tak terima dengan jawban Ibrahim yang irasional. “Jika  itu hanya patung yang sifatnya benda mati, mengapa kalian tetap menyembahnya? Bukankah Allah yang Maha Hidup lagi Menghidupkan dan Mematikan lebih pantas untuk disembah?” buru Ibrahim yang mencoba menyadarkan Namrud dan kaumnya.

Namun apa daya, Ibrahim yang hanya berstatus rakyat biasa terpaksa digiring ke lapangan pembakaran atas titah penguasa yang sedang naik pitam akibat dipermalukan didepan Sesembahannya oleh kekuatan logika Ibrahim.

Tuhan yang Tenggelam

Berpindah ke belahan utara Benua Afrika, kala Allah mengutus Musa di era seorang Raja diraja yang dikultuskan oleh rakyatnya, Penguasa tersohor dunia pada masanya. Namun pada satu peristiwa singgasana kekuasaannya terguncang oleh seoarang anak yang dipelihara dalam istananya.

Upaya seruan dan penyadaran ke arah kebenaran yang dilakukan Musa kepada umatnya menjadi hal yang niscaya mendapatkan pertentangan yang keras dari sang Raja diraja, Fir’aun. Hingga pada klimaksnya Fir’aun dan Musa terlibat dalam perdebatan yang sengit. “Ana Rabbukumul ‘alaa (Aku Tuhanmu yang Maha tinggi)” ucap Fir’aun dengan angkuhnya. 


Ilustrasi Nabi Musa

“Tuhanku, Dialah yang Menghidupkan lagi Mematikan, Dia pula yang menerbitkan matahari dari timur dan menerbenamkannya di barat” Ketus Musa dengan tenang. “Aku juga bisa Menghidupkan (membiarkan hidup) dan Mematikan (Membunuh)” Tegas Fir’aun dengan geram alang kepalang. “Kalau begitu, cobalah terbitkan Matahari dari barat dan tenggelamkan ia di ufuk timur” Tantang Musa kepada Fir’aun. 

Sontak, Fir’aunpun naik Pitam dan menyeru kepada para pasukannya untuk memburu dan membunuh Musa. Selaku pihak yang lemah, Lari adalah satu-satunya jalan keluar dari buruan Fir’aun dan bala tentaranya, tragisnya Musa terhenti di jalan buntu laut Merah. 

Namun sebuah keajaiban diluar batas nalar manusia terjadi pada peristiwa bersejarah itu, Laut yang terbentang luas dihadapan Musa dan pengikutnya terbelah setelah mendapat pukulan tongkat Musa, memberi jalan keluar bagi Utusan Tuhan dan orang-orang yang membenarkan kenabiannya. Fir’aun yang fikiran dan jiwanya sedang dilanda prahara emosi kemarahan tetap mengejar dan memburu Musa yang hampir sampai diseberang lautan.

Tatkala Musa dan orang-orang yang setia bersamanya tiba di tepian, tak disangka laut merah yang tadinya membelah diri tiba-tiba menyatu dan menutup jalan pelarian Musa serta menenggelamkan Fir’aun dan pasukan yang tunduk dibawah kendalinya. Berabad-abad kemudian peristiwa sejarah yang menjadi cerita rakyat di negeri piramid tersebut dibenarkan oleh penemuan jasad sang durjana Fir’aun yang terawetkan oleh garam lautan yang hari ini dimuseumkan.

Para pewaris Fir’aun

Matinya fir’aun bukan berarti berakhirnya masa kediktatoran, mungkin mitos re-inkarnasi benar adanya, nyawa sang durjana agaknya tak diterima disisi Tuhan, seakan ia terus bergentayangan mencari wadah untuk ditempatkan dan melahirkan kembali dirinya dalam wujud yang baru. mulai dari era dunia belum terpolar menjadi nyata dan maya hingga zaman anak manusia hidup di alam social media, para pewaris fir’aun terus bermunculan dimana-mana.

Ilustrasi Fir'aun

Ketika bumi sedang berkecamuk dalam suasana Perang Dunia, kita ingat betul beberapa Nama dari pemimpin-pemimpin besar eropa bertengger di papan atas klasemen pemimpin terkejam kala itu. Sampai hari ini kita masih mengingat nama-nama seperti Lenin, Stalin, Hitler dan Mussolini yang tak segan-segan mengekseskusi orang-orang, kelompok, bangsa, bahkan negara yang tak sepaham dengan mereka. 

Setelah PD berakhir belahan dunia lain juga ikut melahirkan pemimpin-pemimpin yang serupa mereka. Di mesir muncul seorang Husni Mubarrak, Ben Ali di Tunisia, Kadafi di Libya, Hafeez Asad di Suriah yang hari ini digantikan oleh anaknya Bashar Asad yang tak henti membunuh rakyatnya sendiri dengan cara-cara yang tidak manusiawi.

Bom Waktu untuk Para Tiran

Diantara mereka ada yang bernasib sama seperti Fir’aun, bahkan lebih tragis dari sang durjana saat menghembuskan nafas perpisahannya pun tak sedikit. Dunia masih mengingat betul bagaimana hari-hari yang melelahkan bagi Nicolae Ceausescu, diktator dari Rumania menjelang detik-detik nyawa yang terhempas dari tubuh tuanya dengan sangat tragis. Dikisahkan saat peristiwa 16 desember 1989 yang bersejarah bagi rakyat Rumania merupakan puncak dari luapan kemarahan rakyat yang tak bisa dibendung lagi atas perilaku semena-mena pemimpin otoriter itu. 

Demonstrasi besar-besaran berlangsung hebat, walaupun berhadapan dengan moncong senjata polisi dan ribuan penduduk sipil telah tumbang, bom waktupun meledak. tak ada yang bisa menghentikan lonceng Revolusi yang sudah berdenteng. Tentara yang secara legal-formal harusnya berada dibelakang penguasa, berbalik arah atas dorongan nuraninya mendukung Revolusi dari rakyat yang tak mampu lagi untuk dibendung.


Para Tiran Penguasa Diktator

Tiba pada adegan mobil pribadi Ceausescu yang kehabisan bahan bakar saat melakukan pelarian dari kejaran rakyat yang sedang diliputi gejolak amarah, bukannya melayani konsumen dengan mengisi bahan bakar, petugas SPBU yang mengetahui bahwa ini adalah mobil sang pemimpin bengis menolak untuk mengisi, bahkan iapun ikut mengutuk, mencerca dan ingin membunuhnya. 

Akhir dari pelariannya, tiran berusia 72 tahun bernasib malang itupun tertangkap, dan bersama istrinya ia mati dihadapan 5 moncong senjata penembak. Tak puas akan kematiannya, pernah ada dari sekelompok rakyat yang membongkar kembali kuburnya dan mencabik-cabik lagi mayatnya, Alasan itu pula yang membuat kuburannya di semen secara permanent.

Tak lama berselang, nasib yang dihadapi oleh kadaffi pun tak jauh berbeda dari Ceausescu, panasnya gejolak Arab Spring di tahun 2011 menjalar hingga ke Libya, Pemimpin diktator dibelahan utara benua Afrika itu pun mati secara tragis di dalam got setelah diburu oleh rakyatnya sendiri.

Peristiwa sejarah diatas seharusnya bisa menjadi pelajaran bagi Pemimpin yang berlagak bak seorang Tirani yang kejam dan berkelakuan semena-mena terhadap rakyatnya yang hanya sebatas manusia biasa yang memiliki batas kesabaran, Jangan sampai amarah rakyat yang masih terpendam menjadi bom waktu yang mampu meledakkan logika kekuatan yang kalian pergunakan!. [Mo]

Posting Komentar