Ilustrasi Hoax Demokrasi



JAKARTA, Media Oposisi- Sebuah kelompok penyebar isu berbau suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) menamai diri mereka sebagai Saracen. Sindikat ini bahkan kerap menyebar proposal ke sejumlah pihak dan menyatakan bisa menyebar isu bernuansa SARA.


Puluhan juta rupiah mereka ajukan ke pihak tertentu yang mengatasnamakan Saracen. Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Brigjen Faril Imran mengatakan kelompok Saracen adalah buzzer yang dibayar untuk menyebarkan ujaran kebencian (hate speech) bernuansa SARA hingga berita hoax. Mereka memiliki pengikut hingga ratusan ribu akun.

Polisi belum menyebutkan apa alasan kelompok ini memakai nama Saracen. Nama ini sebetulnya memiliki sejarah panjang meski sebetulnya belum tercatat siapa yang pertama kali menamakan diri sebagai Saracen. Nama Saracen juga merupakan sebuah ujaran kebencian barat terhadap dunia timur saat itu yakni para pengikut Muhammad SAW atau Umat Islam.

Ujaran kebencian tentu tidak berdiri sendiri, segala sesuatu pasti tercipta. Memang di alam demokrasi yang semua manusia bebas melakukan apapun tanpa batasan yang menyebabkan berbagai ketimpangan.

Keberadaan Saracen, termasuk Buzzer dan Hoax tidak seperti anak yang lahir begitu saja tanpa seorang ibu.  Artinya, keberadaan para sindikat dan aktivitasnya memiliki asal muasal sebab-bebab tertentu.  Dengan kata lain, mereka akibat dari sebab.  Lahirnya anak disebabkan adanya ibu kandung yang melahirkannya.

Ibu kandung ini tidak lain adalah Demokrasi.  Mereka adalah anak kandungnya.  Konstelasi politik yang didasari oleh freedom of speech, kebebasan berpendapat, yang saat ini semakin bebas, tidak teratur, dan tidak berbatas.  Apalagi kebebasan berpendapat tersebut dibungkus dengan ambisi kekuasaan sekaligus keinginan untuk menghancurkan lawan-lawan politik sehingga hal ini meniscayakan lahirnya aktor-aktor yang senantiasa memprovokasi jalannya misi-misi melanggengkan kekuasaan.

Fakta membuktikan ketika rakyat semakin kritis terhadap penguasa disebabkan liarnya kebijakan pemerintah seperti mencabut subsidi BBM, impor bahan pangan, ditambah gencarnya investasi asing dan hutang, terlebih membiarkan penista Al-Qur’an berkeliaran, justru anehnya semakin muncul isu SARA beredar.  Isu hoax semakin banyak.


Ilustrasi

Kehati-hatian seakan terhadap hoax seakan diciptakan untuk menutupu seluruh fakta kebijakan politik pemerintah kekinian yang dinilai HOAX.  Maka, jelas sekali bahwa Buzzer, Saracen, serta Hoax adalah anak kandung dari Demokrasi !

Terlepas dari kasus yang ditangani Polri bicara tentang para buzzer dan hoax hal ini merupakan anak kandung demokrasi. sebab dalam demokrasi para penghasut bisa menjelma menjadi buzzer yang menyebarkan hoax untuk menghasut serta memanipulasi.

Demokrasi Cacat Sejak Lahir

Demokrasi sejatinya sistem yang cacat sejak kelahirannya. Bahkan sistem ini juga dicaci-maki di negeri asalnya, Yunani. Aristoteles (348-322 SM) menyebut demokrasi sebagai Mobocracy atau the rule of the mob. Ia menggambarkan demokrasi sebagai sebuah sistem yang bobrok, karena sebagai pemerintahan yang dilakukan oleh massa, demokrasi rentan akan anarkhisme.    

Plato (472-347 SM) mengatakan bahwa liberalisasi adalah akar demokrasi, sekaligus biang petaka mengapa negara demokrasi akan gagal selama-lamanya. Dalam pemerintahan demokratis, kepentingan rakyat diperhatikan sedemikian rupa dan kebebasan pun dijamin oleh pemerintah. Semua warga negara adalah orang-orang yang bebas. Kemerdekaan dan kebebasan merupakan prinsip yang paling utama. Maka tidak heran para buzzer akan memproduksi hoax dan bisa bergerak dalam banyak kelompok seperti Saracen.

Bahkan Plato mengatakan, “.…they are free men; the city is full of freedom and liberty of speech, and men in it may do what they like.” (Republic, page: 11). (…mereka adalah orang-orang yang merdeka, negara penuh dengan kemerdekaan dan kebebasan berbicara, dan orang-orang didalamnya boleh melakukan apa yang disukainya, red).


Piramida sistem demokrasi Kapitalisme

Orang-orang akan mengejar kemerdekaan dan kebebasan yang tidak terbatas. Akibatnya bencana bagi negara dan warganya. Setiap orang ingin mengatur diri sendiri dan berbuat sesuka hatinya sehingga timbullah berbagai kerusuhan yang disebabkan berbagai tindakan kekerasan(violence), ketidaktertiban atau kekacauan (anarchy), kejangakkan/ tidak bermoral (licentiousness) dan ketidaksopanan (immodesty).

Maka tidak heran jika hari ini lahir Saracen-saracen baru yang saling mengadu domba dan penuh caci makai. Ujungnya saling menyalahkan dan menuding tapi melupakan induk yang melahirkan. seharunya jika ingin menghancurkan Hoax dan membrangus para buzzer hancurkanlah induknya yang melahirkan yakni demokrasi itu sendiri.

Penyesatan Opini

Bahkan selama sistem demokrasi masih ada maka politik culas ala Machiavelli akan berkembang pesat dengan jargon kebebasan menjelma menjadi buzzer hoax dan penghasut. Tapi aneh nya jika yang disalahkan adalah umat islam maka penguasa juga telah melakukan kebencian dan membrangus.

Sepertinya pernyataan ini sangat tepat: “Pembuat hoax terbaik adalah penguasa. Karena mereka memiliki seluruh peralatan untuk berbohong. Intelijen dia punya, data statistik dia punya, media dia punya. Orang marah. Tapi itu faktanya. Hanya pemerintah yang mampu berbohong secara sempurna. Saya tidak ingin dia berbohong tapi potentially dia bisa lakukan itu,” Rock Gerung. [Mo]




Posting Komentar