Spesial Redaksi| Mediaoposisi.com- Meski berbeda ideologi politik, Indonesia dan Vietnam ternyata memiliki hubungan yang naik turun. Penyematan Jiran yang Labil dirasa sesuai menggambarkan hubungan Indonesia dan Vietnam. Labilnya hubungan kedua Negara ini ditengarai terjadi karena kepentingan maritim. Berikut penelusuran redaksi Mediaoposisi.com mengenai naik turunnya hubungan kedua negara.

Hubungan Indonesia Vietnam sempat pada puncak kemesraannya pada 2015 dan 2016 lalu. Pada 2015 Menteri Luar Negeri (Menlu) Vietnam Pham Binh Minh bertemu dengan Menlu Indonesia Retno Marsudi untuk membahas Laut China Selatan. Binh Minh menegaskan diperlukan sebuah langkah nyata untuk menjaga kondusifitas kawasan laut rawan konflik tersebut.


“Kami melihat adanya keadaan yang mendesak bila melihat perkembangan terbaru di Laut China Selatan. Dan, kami juga melihat diperlukannya langkah terpadu untuk menjaga stabilitas, kedamaian, dan keamanan maritim, dan kebebasan untuk melakukan navigasi di Laut China Selatan,” kata Binh Minh Kamis (25/6/2015).



 



Di Pemerintahan Jokowi-JK  Makin Mesra

Pada 2016 ,Menteri Keamanan Publik Republik Sosialis Vietnam, To Lam, menemui Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK). Vietnam meminta dukungan penuh Indonesia untuk membantu mengatasi konflik Laut Cina Selatan yang melibatkan sejumlah negara ASEAN dengan Cina.


JK pun menerima kunjungan tersebut dan mendesak permasalahan Laut China Selatan diselesaikan secara hukum internasional, yakni Konvensi Hukum Laut Internasional (UNCLOS). 



"Indonesia posisi kita agar masalah ini bisa diselesaikan secara hukum internasional dalam hal ini UNCLOS. Itu yang paling baik dan yang paling tepat dipakai," kata JK di kantor Wakil Presiden, Jakarta, Jumat (10/6/2016).



Pada hari itu juga, Dewi Fortuna Anwar, deputi bidang Dukungan Kebijakan Pemerintahan turut menyampaikan To Lam meminta kepada JK untuk mewujudkan kondusifitas Laut Cinta Selatan demi hubungan baik Indonesia dan Vietnam.


"Beliau juga meminta dalam menangani Laut Cina Selatan supaya Indonesia-Vietnam akan bersatu," kata Dewi.

 


Sempat Diwarnai Konflik

Berdasarkan penelusuran Mediaoposisi.com,hubungan kedua negara sempat renggang karena masalah maritim. Kapal Patroli Hiu Macan 01, pada 10 April lalu, mengamankan empat kapal nelayan berbendara Vietnam beserta 31 anak buah kapal (ABK) yang berkewarganegaraan Vietnam.

“Seluruh ABK merupakan warga negara Vietnam. Kapal tidak dilengkapi dokumen dan menggunakan alat tangkap yang melanggar undang-undang. “Penyidik masih melakukan pemeriksaan,” tukas Erik Sostenes Tambunan, Kepala Stasiun Pengawas Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Pontianak(21/4).

Sebelumnya ada 13 kapal dengan 96 anak buah kapal yang ditangkap KP Hiu Macan 01, Selasa (21/03/17). “Ditetapkan 13 tersangka dari kasus tersebut. Namun pemberkasan belum selesai,” ujar Erik.

Tidak hanya itu, konflik semakin memanas pada bulan Juli. TNI AL dituding melukai empat nelayan Vietnam di Laut Cina Selatan . Otoritas Vietnam mengabarkan dua orang mengalami luka berat.

 Hal ini tentu saja dibantah keras milter Indonesia.  TNI AL Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Ade Supandi tak membantah adanya tembakan namun ia beralasan tembakan tersebut sebagai tembakan peringatan,bukan tembakan untuk Nelayan.

“Jadi tembakan itu hanya bersifat peringatan, bukan ke kapal jadi tidak ada yang luka,” kata dia di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (25/7)


Sekretaris Jenderal Partai Komunis Vietnam (PKV) Nguyen Phu Trong


Sekjen PKV Datang : Mulai Rajut Kemesraan

Sekretaris Jenderal Partai Komunis Vietnam (PKV) Nguyen Phu Trong berkunjung ke Indonesia pada 22-24 Agustus 2017 dan menemui Presiden Joko Widodo.

“Sekjen Nguyen Phu Trong berkunjung ke Indonesia dengan didampingi menteri-menteri terkait dan pelaku bisnis Vietnam, kata Direktur Jenderal Asia Pasifik Afrika Kementerian Luar Negeri Desra Percaya di Jakarta, Senin (21/8).

Otoritas tertinggi Vietnam itu berencana mengadakan pertemuan untuk membahas isu maritim dan sektor strategis dengan Presiden Joko Widodo pada 23 Agustus 2017  

Desra menyebutkan bahwa kunjungan Sekjen PKV itu adalah untuk meningkatkan kerja sama Indonesia-Vietnam di berbagai bidang, terutama kerja sama di bidang maritim dan isu strategis lain.

Desra mengatakan kunjungan otoritas tertinggi Vietnam penting bagi Indonesia karena ada faktor mesranya hubungan kedua negara di bidang ekonomi,.
"Ada kesempatan besar bagi peningkatan kerja sama antara Indonesia dan Vietnam di bidang perdagangan dan investasi," kata dia.

Tak hanya itu, pertemuan kedua pejabat negara tersebut juga akan membahas isu sensitif,yaitu ZEE Indonesia.

“Pertemuan ini akan memberikan momentum dan mendorong percepatan penyelesaian batas ZEE sesuai dengan Konvensi Hukum Laut Internasional 1982," ungkap Desra.



Kedekatan Presiden Jokowi dengan Partai Komunis Vietnam, seolah melupakan pada statemennya beberap waktu lalu untuk menggebuk komunis. Kita tentu tidak lupa ketegasan beliau untuk menggebuk PKI.

“Banyak yang menyampaikan kepada saya, ada kebangkitan komunis dan PKI di Indonesia. Saya ingin bertanya, di mana? Tunjukan kepada saya lokasinya di mana?" ujar Jokowi dalam silaturahim di Pondok Pesantren Miftahul Huda, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Sabtu (10/6/2017).



"Kalau memang ada betul, ya tunjukan ke pemerintah. Detik itu juga akan saya gebuk," lanjutnya tanpa menjelaskan langkah setelah “digebuk”

Itulah statemen presiden yang pernah menghiasi cover depan majalah TIME tersebut? [MO]



sumber: berbagai sumber

Posting Komentar