Jokowi dan Presiden China Xi Jinping



Oleh: Don Zakiyamani
Ketua Umum Jaringan Intelektual Muda Islam (JIMI)

Indonesia baru saja merayakan hari kemerdekaannya dengan berbagai kegiatan. Mulai dari kegiatan formal upacara kenaikkan bendera hingga kegiatan hiburan yang dilaksanakan rakyat. 

Perayaan hari kemerdekaan itu seolah mampu melupakan segala persoalan bangsa ini. Suka cita sekaligus rasa syukur mampu mengabaikan The Dark-Passenger (penumpang gelap) bangsa Indonesia. 

Para penumpang gelap yang selama ini menikmati kemerdekaan masih aman diposisi masing-masing. Globalisasi menyelamatkan mereka dari ancaman pemilik sah republik ini. Mereka leluasa mengeksploitasi segala anugerah illahi pada negeri ini tanpa belas kasih.

Ulah mereka didukung pemerintahan ciptaan mereka sendiri. Kita lihat bagaimana proyek reklamasi dibela habis-habisan padahal rakyat tak mendapat apa-apa. Para penumpang gelap dinegeri ini seolah tuan tanah yang wajib dibela pemerintah.

Uang mereka mengatur segalanya, ekonomi, politik, hukum, budaya, serta apapun yang dapat menambah pundi-pundi rekening mereka. Mereka merupakan pengusaha Cina yang didukung pemerintah Cina, inilah neo-kolonialisme.

Saat ini usaha penumpang gelap republik semakin kuat, mereka menguasai segala lini. Hal itulah yang menyebabkan mereka dengan sombongnya membuat new-city tanpa izin siapapun. Tentu bukan hal sulit bagi mereka mendapatkan izin pembangunan kota baru bernama Meikarta. 

Satu hal yang sungguh menjijikkan ketika upaya pelanggaran konstitusi itu mendapat lisensi dari pemerintahan saat ini. Tentu saja hal itu berbanding terbalik dengan para pejuang kemerdekaan bangsa ini. Kita lengah dengan memilih pemimpin berdasarkan wajah dan pencitraan semata. Pemerintah kita lemah dihadapan Asing dan begitu gagah dihadapan rakyat sendiri.

Bila hari membangun kota baru begitu mudah bagi mereka, bukan mustahil besok akan ada negara baru dinegeri ini. Semudah itukah negeri ini dijajah sementara kita menganggap diri bangsa merdeka. Apakah Presiden Jokowi benar-benar hanya petugas partai sebagaimana pernyataan Megawati.

Bila Jokowi hanya petugas partai, bangsa ini tentu hanya penting saat pilpres. Rakyat dijanjikan hal-hal indah, mimpi-mimpi kebahagiaan, serta kepolosan yang direkayasa. Marwah bangsa ini benar-benar menuju titik nadir, Jokowi menjadi salah satu orang yang paling bertanggung jawab atas hal itu.

Bukan bermaksud menuduh namun Presiden merupakan panglima tertinggi, kepala pemerintahan sekaligus kepala negara. Presidenlah yang paling dominan menentukan marwah bangsa ini, mulia atau terhina, berkah atau bencana.

Jokowi tak perlu malu mengakui bahwa marwah bangsa ini dibawah pemerintahannya sedang jatuh. Jokowi harus berani mengakui bangsa Indonesia telah dipandang sebelah mata oleh bangsa lain sejak dia memimpin. 

Kita percaya Jokowi dengan ksatria berani mengakui ketakutannya pada bangsa Cina. Kita juga percaya Jokowi akan berani melibas siapapun kecuali pada Cina, itulah sebabnya soal reklamasi dan Meikarta Jokowi tak segagah urusan Freeport. Walaupun urusan Freeport sebenarnya Jokowi tak segagah yang digambarkan media-media pendukungnya.

Kita adalah bangsa yang ramah, cinta damai, dan tak ingin perpecahan terjadi hanya karena perbuatan beberapa orang. Kita berharap Jokowi beserta para pendukungnya berani undur diri, mengakui kesalahan. Bila hal itu dilakukan Jokowi dengan penuh ketulusan, tentu sejarah akan mencatat sikap kenegarawannya.

Namun bila Jokowi masih saja bersikukuh dia hebat, dia paling Pancasilais serta argumen pembenarannya lainnya, wajar bila rakyat berkata dan bertanya, apakah Jokowi takut dengan Cina, takut dengan Asing, takut dengan pengusaha, dan ketakutan-ketakutan lain yang tidak benar. Takut yang benar hanya takut pada illahi Yang Maha Kuasa, takut berbuat dosa apalagi terhadap rakyat banyak.

Sebagai rakyat, kita semua patut mempertanyakan jati diri Jokowi yang diberi amanah memimpin. Apakah Jokowi melayani rakyat atau melayani taipan-taipan serta Cina yang sedang butuh negara koloni. Jokowi harus sadar, sikap melemahnya pada Cina dan pengusaha Taipan tidak menguntungkan rakyat dan bangsa ini, justru tidak sesui Bung Karno dan Nawa Cita dan Tri Saktinya.

Bagaimana pun rakyat sebagian memiliki 'dosa' politik karena memilih pemimpin yang takut Cina. Pemimpin yang selalu berada disisi Taipan dan berhadapan dengan rakyatnya sendiri. Jokowi harus sadar bahwa rakyat diam bukan berarti tak berpikir serta tak bergerak. Rakyat Indonesia masih penuh pertimbangan, apakah membiarkan proses ini hingga 2019 atau mengadakan perubahan total.

Setiap kita punya skenario, Jokowi punya skenario mempertahankan kekuasaan. Ada pihak yang ingin Jokowi segera lengser dengan skenarionya sendiri, ada pula yang ingin menunggu proses pilpres, namun  semua skenario itu pada akhirnya harus patuh pada skenario Tuhan, dan pertanyaan rakyat ini masih sama, apakah benar Jokowi takut Cina? Atau Sebaliknya Sebagai tangan Kanan kepercayaan. [Mo]

Posting Komentar