Gambar Provokasi DetikX


Bekasi| Media Oposisi- Entah apa yang ada di benak detikcom ketika merilis investigasi tentang HTI. Detikcom dalam rubrik investigas bernama detikX memfitnah HTI sebagai organisasi pembohong. DetikX menuding perkataan Jubir HTI,Ismail Yusanto adalah kebohongan.

Ia membenturkan statemen Ismail, bahwa HTI hanya menggunakan dana iurang dari anggotanya dengan klaim sepihak DetikX yang tidak jelas sumbernya.


Simak tulisan berikut…

Ia (Ismail Yusanto) menambahkan, dana untuk menjalankan organisasi selama ini didapatkan dari iuran anggota yang bergabung dengan HTI. Namun besaran iurannya sangat bervariasi di antara jemaah. Dana ini biasanya didapatkan ketika digelar pengajian-pengajian jemaah.
”Dari iuran anggota. Ada yang Rp 10 ribu per bulan, ada yang Rp 50 ribu, ada yang Rp 100 ribu, sampai Rp 1 juta. Ya kan ngaji itu macem-macem,” kata dia
 
Jubir HTI,Ismail Yusanto

Detik X membenturkan dengan klaim sepihaknya serta menuding anggota HTI menerima gaji besar dalam bentuk dolar AS
Sumber detikX yang mengetahui seluk-beluk HTI mengatakan pendanaan HTI berasal dari Timur Tengah. Namun dana itu ditransfer menggunakan rekening dari London, Inggris, dan beberapa negara lainnya. Setiap mengadakan kegiatan, HTI selalu mengajukan proposal. Bahkan instruktur di HTI menerima gaji cukup besar dalam bentuk dolar Amerika Serikat.

Tak puas dengan framing negatif terhadap Jubir HTI, detik X bahkan mengorek aktivitas bisnis pribadi para anggota HTI . Kita lihat di tulisan berikut,

Sumber dana juga didapatkan dari sejumlah anggota yang berwirausaha, yang awal modalnya dari dana UKM. Salah satunya yang dimiliki petinggi HTI asal Jawa Timur, yang membangun usaha di Yogyakarta, Malang, dan Bogor. Ada juga yang berusaha melatih yoga, bahkan masak-memasak juga dilakukan.

Beberapa jenis usaha yang diduga menjadi sumber dana HTI itu tak menyebut nama ormas tersebut. Karena itu, ketika ormas ini dibekukan, usaha bisnis mereka tetap berjalan. Apalagi HTI terbilang menguasai cukup banyak usaha di sejumlah kampus, seperti jasa fotokopi dan laundry.
Kita lihat, detikX tidak bisa membedakan antara aktivitas HTI dan aktivitas anggota HTI sebagai manusia yang berhak untuk mencari nafkah. DetikX menuding sekaligus menggeneralisir bahwa seluruh aktivitas bisnis yang dilakukan anggota HTI merupakan aktivitas pengumpulan dana HTI sebagai sebuah ormas. 

Detik X lupa bahwa anggota HTI adalah manusia yang berhak mencari nafkah dan mereka tidak dibayar ketika beraktivitas di HTI. [MO]

Posting Komentar