Kekuasaan laksana belati bermata dua,ia bisa menjadi wasilah surga atau neraka. Anggapan Kekuasaan adalah ujian bukanlah isapan jempol semata,setidaknya sampai detik ini. Sedikit kita menengok sejarah peradaban manusia, teramat banyak kerusakan dan kebaikan yang timbul dari kekuasaan yang dipegang. Tak sedikit yang mencela kekuasaan karena menimbulkan mudharat,namun banyak pula yang memuja kekuasaan karena bisa menimbulkan keberkahan.

Kekuasaan bisa didapatkan melalui berbagai cara seperti warisan,pembunuhan penguasa sebelumnya,dipilih dan lain lain. Kekuasaan dalam peradaban manusia,mengharuskan adanya kebijakan yang lahir dari kekuasaan untuk membuktikan kekuasaannya. Contoh sederhananya,3 orang bepergian jauh dengan satu orang ditunjuk sebagai ketua perjalanan/amir safar,alhasil tampuk kekuasaan diperoleh si ketua dan ia harus menggunakannya sebagai bukti kekuasaanya dengan cara menentukan rute yang dipilih,kendaraan yang dipakai dan lain lain. Tentu,bila membahas kekuasaan dalam konteks kenegaraan,jelas lebih wajib lagi seorang pemimpin untuk membuat kebijakan.

Kebijakan tak selamanya berisi kebajikan,banyak pula kebijakan pemimpin yang “brengsek”. Dunia tentu tidak akan lupa dengan kebijakan apartheid di afrika selatan beberapa dekade lalu,masih di benua yang sama pula di negara Uganda,sosok Idi Amin berhasil menorehkan luka dengan membunuh ratusan ribu orang yang dianggap bertentangan dengannya tanpa pengadilan.

Tidak hanya penguasa di benua hitam,penguasa di benua eropa idem ditto. Tidak ada yang bisa melupakan kebijakan keji Adolf Hitler dan Mussolini yang ingin menguasai daratan eropa. Revolusi perancis dipicu oleh kebijakan keji Louis XVI, tidak bisa pula dilupakan dalam sejarah kekejian penguasa benua biru. Kekejian lain dilakukan oleh Presiden Amerika Serikat ke 41, Josh Bush berupa pembunuhan jutaan orang di Irak pada abad 21 oleh tentara Amerika dengan dalih mencari senjata pemusnah massal tidak bisa dilupakan.  

Begitulah kekuasaan,surga atau neraka seolah tak jauh jaraknya. Adapun bila kekuasaan ditujukan untuk surga dunia,yakni pengokohan kekuasaan,pembungkaman pihak pihak kritis
tentu pemerkosaan hukum dan undang undang yang berlaku amat mudah terjadi seperti yang terjadi di Indonesia di era rezim jokowi. Kebijakan terbitnya perpu yang ia ambil sebagai bentuk pembuktiaan kekuasaanya tidak mencari surga ilahi,namun sekedar surga dunia. Kebijakan yang memotong jalur hukum terkat pembubaran organisasi masyarakat dengan melacurkan makna “situasi genting”,bila negara dalam situasi genting mengapa Jokowi masih bisa wira wiri.[Mo]


Redaktur: Maulana 

Posting Komentar