Yogyakarta| Media Oposisi- Sabtu (22/7) Presiden Republik Indonesia Joko Widodo (Jokowi) menghadiri acara peletakan batu pertama pembangunan museum Muhammadiyah di kawasan Kampus unit 4 Universitas Ahmad Dahlan (UAD).

Jokowi tampak terperangah ketika melihat proses pembangunan gedung unit 4 UAD yang memiliki 10 lantai dan menghabiskan dana hingga 300 Miliar. Tak heran Jokowi sampai bertanya kepada Haedar Nashir selaku Ketua Umum Muhammadiyah, “Pak Ketum, Muhammadiyah dapat uang sebanyak itu darimana?”.

Menjawab pertanyaan Jokowi tersebut, Haedar dengan bangga menjelaskan bahwa dana yang diperoleh Muhammadiyah bersumber dari masyarakat, warga Muhammadiyah, serta unit-unit bisnis yang dibangun Muhammadiyah tanpa kucuran dana dari pemerintah. “Muhammadiyah selalu punya elan vital untuk berbuat yang terbaik buat masyarakat, lewat RS, sekolah, dan berbagai macam dakwah yang sifatnya bilhal,” jelas Haedar pada Minggu (23/7).

Pembangunan gedung yang menghabiskan dana 300 M i,Muhammadiyah tidak menerima kucuran dana pemerintah

Muhammadiyah mempunyai prinsip sedikit bicara banyak bekerja, ingin bangsa ini menjadi bangsa yang unggul, bangsa yang tidak terlalu banyak retorika. “Namun kenyataanya kita kalah saing, tidak kuat SDM, dan tidak punya tonggak-tonggak kemajuan,” imbuh Haedar.

Berbeda dengan Muhammadiyah, Nahdatul Ulama justru mendapat 1,5 T dana dari pemerintah untuk kredit ultra mikro. "Di 2017 ada anggaran Rp 1,5 triliun investasi pemerintah diperuntukan program-program ultra mikro atau di bawah sizenya dari KUR”  jelas Sri Mulyani di Kantor Pusat PBNU, Jakarta Pusat, Kamis (23/2). [MO]

Posting Komentar