(Bagian 2 dari 3)

Lutfi Sarif Hidayat
Direktur Civilization Analysis Forum (CAF)

Daya Beli Rendah
Selain itu, kegentingan memaksa yang lain dalam ekonomi adalah sebagaimana yang saya baca dari hasil riset dari Irvan Tengku Harja, staf riset Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) tentang penurunan daya beli dan PHK massal. Dalam tulisan tersebut, diungkapkan bahwa paket kebijakan ekonomi sebanyak 14 (empat belas) jilid selama 3 tahun Jokowi memimpin. Mulai dari (1) kepastian usaha, (2) izin investasi, (3) penurunan bunga KUR, (4) pengupahan, (5) menghilangkan pajak berganda, (6) insentif pajak di KEK, (7) kemudahan akses permodalan, (8) pembangunan kilang minyak, (9) pembangunan pembangkit listrik, (10) melindungi usaha kecil, (11) dana investasi real estate (DIRE, (12) permudah izin bangunan usaha, (13) reformasi perijinan usaha, hingga (14) roadmap e-commerce. Ternyata belum sepenuhnya efektif untuk perekonomian rakyat.

Hal ini terlihat dengan turunnya daya beli yang mengakibatkan efek domino pada sektor ritel. Pada sekitaran akhir Juni atau awal Juli 2017 ini mencuat di berbagai media massa mengenai tutupnya gerai-gerai ritel dan turunnya omzet usaha sektor ritel di Indonesia. Seperti yang terjadi di Pasar tanah Abang, pedagang di pasar tersebut mengeluhkan sepinya pembeli di momen Idul Fitri tahun ini dan menyampaikan bahwa omzet penjualan mereka turun 65% dibanding tahun sebelumnya.

Selain sektor tekstil, sektor ritel makanan dan minuman pun mengalami hal yang sama, demikian nampak pada tutupnya seluruh gerai 7-Eleven di Jakarta karena penjualan tidak mencapai target. Di sektor ritel elektronik, penurunan omzet nampak terjadi di Pasar Glodok sepanjang 3 tahun kebelakang. Dan bahkan dikabarkan dalam sebuah media bahwa lantai 2 hingga lantai 5, tidak ada pedagang elektronik yang berjualan, dan sebagian besar kios bertuliskan 'disewakan' dan 'dijual'.

Fenomena yang terjadi di Pasar Tanah Abang, 7-Eleven, dan Pasar Glodok adalah sebagian contoh representatif dari kondisi perekonomian sektor ritel secara keseluruhan. Indikasi kuat dari turunnya omzet penjualan dan tutupnya gerai-gerai ritel dikarenakan daya beli masyarakat yang semakin melemah. Hal tersebut dapat dilihat bahwa kontribusi pengeluaran konsumsi rumah tangga terhadap PDB (atas harga berlaku menurut pengeluaran) triwulan I-2017 sebesar56,94%, turun dibanding 2016 di triwulan yang sama dengan prosentase 57,70% (BPS, 2017).

Turunnya daya beli masyarakat tersebut disebabkan beberapa hal, salah satunya karena rendahnya upah buruh. Demikian dapat diamati pada tren pertumbuhan upah minumum provinsi (UMP) DKI Jakarta yang mengalami penurunan. Nilai UMP Jakarta 2013 naik 44% dibanding 2012, namun dari 2013 ke 2014 UMP Jakarta tutun drastis dari naik 44% hanya menjadi naik 11%. Dari 2014 ke 2015 pun sama, hanya naik 11%, dan dari 2015 ke 2016 naik ke 15%. Sedangkan 2016 ke 2017 pertumbuhan mengalami penurunan di angka 8%. Tidak hanya upah buruh industri yang mengalami penurunan dari tahun ke tahun, upah riil buruh tani nasional pun turun 0,19% dan upah riil buruh bangunan turun 0,29% (BPS, 2017). Turunnya upah buruh secara riil tersebut diperberat dengan kebijakan pemerintah seperti pencabutan subsidi BBM dan TDL. [MO]

( Baca Juga : "Perppu" Tepat Sasaran Bagian 1)

Posting Komentar