Ilustrasi Perppu

Yogyakarta|Media Oposisi- Entah kealpaan atau kurang membaca sejarah,lagi lagi segelintir penduduk negeri ini dengan begitu mudahnya dibodohi melalui politik pecah belah,devide et impera. Seperti kita ketahui bersama,devide it impera ialah adu domba oleh pihak yang berkuasa kepada kelompok kelompok kecil untuk mencegah mereka bersatu. Dengan kata lain,tujuannya untuk memecah belah persatuan dari kelompok kecil menjadi kelompok yang lebih besar dan kuat. Ibarat lidi,akan lebih sulit mematahkan lidi yang disatukan daripada mematahkan lidi yang kecil.

Negeri ini punya sejarah kelam dengan politik devide et impera. Ya, penjajah Belanda dengan mudah mengadu domba kerajaan kerajaan di negeri ini sehingga Belanda mampu berkuasa lebih lama di negeri ini. Belanda mengadu domba kerajaan kerajaan untuk mencegah kerajaan tersebut bersatu melawan Belanda.

History will repeat itself . Dalam konteks kali ini,terkhusus pasca penerbitan Perppu. Jelas nampak pihak yang diadu domba untuk memusuhi pihak lain,lebih kejinya devide et impera saat ini berbarengan dengan pelaksanaan politik belah bambu. Satu pihak,sebut saja X diprovokasi oleh pemerintah untuk memusuhi pihak Y dengan tuduhan yang tidak bisa dibuktikan di pengadilan lalu X diguyur dana 1,5 T oleh pemerintah.

Di sisi lain,ada satu pihak Y yang sengaja dihabisi sehabis habisnya tanpa mampu dibuktikan kesalahannya. Beruntung pihak ini sadar bahwa ia selain menjadi korban politik belah bambu,ia sadar pula bahwa sedang diadu domba. Karena kesadaran inilah,pihak Y ini tidak menjadikan X sebagai musuh utamanya.

Pihak Y bukanlah pihak yang doyan koar koar saya pancasila,saya cinta negeri dan slogan slogan sejenisnya. Namun aktivitasnya dalam membongkar kebijakan kapitalistik pemerintah jelas lebih bisa membuktikan kepada masyarakat,bahwa Y lebih berpihak kepada siapa ![MO]


Redaktur : Max

Posting Komentar