"Namun di satu sisi bukan menjadi rahasia umum lagi mutu dan kualitas pendidikan di indonesia tidak sesuai dengan yang diinginkan, justru menimbulkan masalah baru"

oleh: Bunga Erlita Rosalia,S.KG

media oposisi- Berbicara pembangunan manusia di sebuah negeri yang menjadi pilar penopang peradaban umat manusia, maka kita akan membicarakan pendidikan. Termasuk bicara pendidikan di Indonesia yang sudah seharusnya melahirkan generasi yang cemerlang untuk membangun peradaban. Namun di satu sisi bukan menjadi rahasia umum lagi mutu dan kualitas pendidikan di indonesia tidak sesuai dengan yang diinginkan, justru menimbulkan masalah baru. Mulai dari pergantian kurikulum seperti percobaan sampai kesejahteraan guru,tenaga pendidik serta infrastruktur yang tidak memadai, Menjadi catatan kita bersama, belum lagi aspek yang lain berkaitan budi pekerti dan akhlaq peserta didik yang kerap kali menyisakan masalah seperti tawuran pelajar, rusaknya generasi muda akibat narkoba dan sex bebeas, pengangguran intelektual dan segudang masalah lainya.


Tahun 2015 UNICEF mencatat sebanyak 2,5 Juta anak Indonesia tidak dapat mengenyam pendidikan lanjutan yakni sebanyak 600 ribu anak usia sekolah dasar (SD) dan 1,9 juta anak sekolah menengah (SMP).  Data statistik tingkat provinsi dan kabupaten menunjukkan bahwa terdapat dampak paling rentan yang sebagian besar berasal dari keluarga miskin sehingga tidak mampu melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya. Fakta tersebut cukup membuat dahi kita berkerut dan merasakan keprihatinan akan sistem pendidikan indonesia

Hal itu menandakan pendidikan hari ini menjadi komuditas dan barang dagangan dimana orang orang yang tidak memiliki kemampun tidak dapat mengakses pendidikan, ditambah lagi produk pendidikan sekuler melahirkan manusia manusia yang kering dan rapuh dari sisi spiritualitas merupakan keberhasilan kapitalisme yang membuat pendidikan ini hanya melayani kepentingan pasar bukan untuk membangun peradaban yang cemerlang. Harusnya sebuah negara menjamin warganya untuk dapat menikmati pendidikan. Walaupun pemerintah kita menaikkan anggaran pendidikan dalam APBN, akan tetapi fondasi dasar akan fungsi pendidikan mengarah pada permintaan pasar yang hanya akan mencetak kuli yang menggerakkan roda kapitalisme dan ini tidak sesuai karena peradaban kapitalisme telah nyata begitu rakus meng eksploitasi umat manusia dan sumber daya alamnya.

Wajah pendidikan di indonesia yang masih dibangun berdasarkan frame sekulerisme, melahirkan hasil pendidikan yang jauh panggang dari api. Nyatanya pendidikan di Indonesia tidak menjadikan kita semakin baik. Berarti ini adalah bukti sebuah kegagalan sistem yang diterapkan.[mo]


Posting Komentar