Oleh:Muhammad Fadhilah Abdussalam
Mahasiswa Fakultas Ekonomi, dan Aktivis GEMA Pembebasan Gunadarma.

Jakarta | Media Oposisi-Pendidikan di Indonesia lagi-lagi tercoreng. Sebuah video yang menayangkan sejumlah Mahasiswa di Universitas Gunadarma  mem-bully seseorang beredar di dunia maya. Dalam video tersebut, seorang Mahasiswa yang berkebutuhan khusus, menjadi korban bullying. Seorang Mahasiswa tampak menarik dan menahan ransel korban hingga ia tertahan untuk berjalan, Mahasiswa lain yang ikut bullying, terdengar mencemooh korban. Karena sudah tidak bisa menahan emosi, korban mencoba melepaskan tarikan ransel  dan akhirnya melempar tempat sampah ke para pembully.

Tentu saja, fakta miris ini membuat banyak pihak merasa prihatin. Menteri Sosial Khofifah Indar Parawangsa meminta pihak kampus memberi sanksi kepada para pelaku bully terhadap para Mahasiswa berkebutuhan khusus. Undang-Undang Penyandang Disabilitas, menurut dia, menjunjung tinggi hak-hak penyandang disabilitas, salah satunya pendidikan.

“Mudah-mudahan kita tidak sekedar prihatin. Saya mendorong merekomendasikan supaya kampus memberi sanksi pada pelaku dan memberikan keberpihakan secara resmi kepada korban Bullying”, kata Khofifah usai memperingati Hari Anak Nasional di Jakarta, Minggu (16/07). Sebagaimana dilansir di kumparan.com (16/07).

Bullying ini harus dipandang penting untuk menegaskan akar masalah kekerasan yang melanda generasi saat ini adalah persoalan sistemik. Setidaknya, ada hal yang melandasi terjadinya kasus ini.

Kasus bullying adalah satu kasus yang tidak bisa dianggap terpisah dari kasus-kasus kenakalan dan penyimpangan perilaku lainnya. Seks bebas, geng motor anarkis, tawuran, konsumsi narkoba, kecanduan ngelem, mencuri, memperkosa, bahkan membunuh adalah juga  potret lain generasi saat ini. Apa yang menyebabkan terjadinya berbagai penyimpangan perilaku remaja ini?

1. Sistem Kapitalisme yang diadopsi sebagai ideologi negara ini telah melahirkan kebebasan berkeyakinan, berperilaku, berpendapat dan memiliki harta. Inilah yang mendasari penerapan konsep hak asasi manusia (HAM). Akibatnya semua orang termasuk mahasiswa merasa berhak berbuat apapun, tak peduli orang lain terganggu dengan ulahnya. Perbuatan-perbuatan asusila pun sudah dianggap biasa, karena yang lain juga melakukannya. Inilah yang menjadi sumber lahirnya berbagai penyimpangan perilaku.

2. Sekularisme yang mewarnai sistem pendidikan menjadikan pendidikan agama hanya  formalitas belaka, tidak ada strategi untuk menjadikan tuntunan agama difahami dan berikutnya diamalkan oleh mahasiswa, sehingga berpengaruh dalam perilaku kesehariannya. Karenanya sistem pendidikan telah gagal menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas, yang tidak sekedar IQ-nya yang tinggi tapi juga memiliki iman yang kuat dalam kehidupannya.

3. Berkembangnya budaya permisif, serba boleh dan hedonis telah memberikan pengaruh buruk pada pembinaan generasi. Juga adanya kepentingan ekonomi untuk membiarkan media menayangkan kepornoan dan kekerasan.  Hal ini diperburuk dengan lunaknya sanksi bagi pelaku Bullying sebagaimana ditetapkan dalam Undang-undang Peradilan. Semua itu  semakin menunjukkan tidak adanya keseriusan pemerintah untuk menciptakan iklim kondusif bagi pembinaan generasi.

Jangan berdiam diri membiarkan negeri ini kehilangan sumber daya manusia yang mumpuni di masa mendatang karena para mahasiswanya  rusak. Kita membutuhkan sistem pengganti untuk menuntaskan permasalahan tersebut. Sistem pengganti tersebut adalah Islam sebagai ideologi dan sumber aturan kehidupan. Islam memiliki sistem yang sempurna untuk mengatur kehidupan manusia termasuk generasi muda . Semua subsistem terintegrasi dalam kesamaan visi untuk taat kepada Allah SWT, Sang Pencipta manusia, kehidupan dan alam semesta yang disediakan untuk manusia.

Sistem pendidikan pun mendukung visi tersebut. Kampus  merupakan ajang untuk mendapatkan ilmu untuk diaplikasikan dalam kehidupan. Mahasiswa dibekali pemahaman Islam yang kuat untuk kehidupannya. Ketika mereka terjun ke masyarakat, halal dan haram otomatis akan menjadi landasan aktifitasnya. Perilaku yang menyimpang tidak akan teraplikasi dalam kehidupan.

Negara Islam (Khilafah Islamiyah) akan mengeliminir fasilitas-fasilitas yang bisa mengakibatkan perilaku menyimpang generasi muda, semacam situs pornografi, tempat-tempat nongkrong atau rumah-rumah dugem. Negara juga akan memberikan hukuman yang tegas terhadap perilaku menyimpang, karena Islam juga memiliki sistem sanksi yang jelas dan adil. Negara Islam (Khilafah Islamiyah)  juga akan mengarahkan orang tua dan menanamkan melalui kurikulum pendidikan agar anak-anak dididik perilaku dan budi pekerti yang benar sesuai dengan ajaran Islam. 

Mereka diajarkan untuk memilih kalimat-kalimat yang baik, sikap sopan-santun, kasih-sayang terhadap saudara dan orang lain. Mereka juga diajarkan untuk memilih cara yang benar ketika memenuhi kebutuhan hidup dan memilih barang halal yang akan mereka gunakan. Dengan begitu, kelak terbentuk pribadi anak yang shalih dan terikat dengan aturan Islam.

Orang tua memiliki waktu dan perhatian yang cukup bagi keluarga karena sistem ekonomi Islam akan menghasilkan masyarakat yang sejahtera berkeadilan. Masyarakat yang peduli juga akan lahir dari budaya amar makruf nahi munkar.

Sudah selayaknya sistem kapitalisme sekularisme yang penuh dengan kerusakan ini diganti dengan sistem Islam yang penuh dengan keharmonisan dan kemaslahatan. Marilah bersegera mewujudkannya!


يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu” (QS al-Anfal [8]: 24)

Posting Komentar