Menikung Manuver Madzhab Selangkangan
oleh : VAL (Redaktur Majalah Ruang)
Media Oposisi- Kemari kawan, duduk sini, mendekatlah. Saya akan bercerita pada kalian tentang satu hal. Sebenarnya ini kegelisahan yang sudah sejak lama menumpuk. Hanya belum ada waktu yang tepat untuk menyampaikannya. Dan saya rasa sekaranglah saat itu.
Sudah lama hal ini saya pikir-pikir di dalam kepala, direnungkan oleh hati. Berputar-putar, momentum itu justru lahir ketika saya sedang di jalan, di atas sebuah sepeda motor. Berkelebat begitu saja.
Ketika itu Saya baru saja pulang menghadiri sebuah kegiatan diskusi. Membahas masalah sepele saja. Persoalan Negara. Ya, sepele memang. Saat ini membahas tentang situasi negara memang dianggap sepele, terlalu sok aktivis, melelahkan. Negara ini terlampau banyak intrik, penuh dengan kepentingan, sarat akan permainan kotor. Terlihat buang-buang waktu dan tenaga. Toh, Negara ini masih seperti itu-itu saja.
Banyak yang bilang begini pada saya,
“Halah, politik lagi, ideology lagi, urusan negara lagi. Sok idealis!! Urus sajalah urusanmu sendiri. Mandi pagi saja jarang. Malah mau ngomongin negara.”
Ya, masih banyak memang orang-orang bermulut semacam ini. Bau benar mulutmu.
Saat diskusi berlangsung, seperti biasa. Kalian sudah bisa menebak berapa orang yang hadir. Tak akan jauh-jauh dari angka jari kaki kalian. Dan selalu, itu-itu saja muka yang datang. Terkadang saya juga muak. “ah, Kau lagi!”.
Tapi saya masih bersyukur mereka mau hadir dan ikut berdialektika. Masih peduli dengan keadaan sekitarnya. Karena kawan, kalian harus tahu. Harga nasi kucing yang kalian makan, harga buku yang kalian baca, murah-mahal, soal apapun yang terjadi di negara ini. itu asalnya dari urusan dan keputusan politik kenegaraan. Tidak mau kalian peduli sedikit saja? ini bukan hanya tentang satu-dua orang. Ini tentang kita! stupid.
Ah, ayo kita lanjutkan saja dulu. Diskusi ini harusnya banyak yang hadir, karena diundang. Tapi tak datang. Yang tidak hadir ini, macam-macam alasannya.
“Yaelah bro, banyak tugas. Diskusinya ditunda aja.”
“Sorry, gak bisa ikutan dulu. Kakak saya mau nikahan.”
“Waduh, Diskusi Politik ya? Ane lagi ada kajian Pra-nikah ini. Izin dulu ya.”
“Bro, diskusi kita digeser aja ya? Kita mau ikutan training ‘menjaga selangkangan’ dulu.”
Naaah, yang terakhir ini, yang muncul secara tiba-tiba dalam otak saya. Entah kenapa. Satu acara ini selalu saja dibanjiri ratusan bahkan ribuan orang. Dan sangat rutin dilakukan. Tidak se-laku diskusi ideology yang memang kesannya “berat” dan “sok-sok’an”.
“Training Menjaga Selangkangan; Meraih kesuksesan tanpa pacaran”
Kalau sudah begitu temanya. Berbondong-bondong sudah. Jangankan gratis, harus bayar puluhan ribu pun mereka rela. Walau lagi ada kelas, mereka tinggalkan. Walau jarak jauh akan ditempuh.
Lalu saya jadi berpikir, sepenting dan segenting itukah masalah selangkangan ini, Ya Tuhaann?
Apakah perubahan pada Negeri ini akan kita mulai dari urusan selangkangan mereka? Atau urusan yang berbau dengan cinta ini memang berimbas besar pada perubahan pola pikir anak-anak muda kita saat ini?
Apakah pengalihan topik pada hal-hal yang pemuda senangi ini akan terus berjalan, lantas membuka mata mereka pada persoalan negara?
Anggap saja begini. Mungkin ini cara berpikirnya. Saya coba renungkan sedikit logikanya.
Kita angkat satu permasalahan yang dekat dengan jiwa anak muda. apa itu? Cinta! Apalagi? Selangkangan!
Nah, melihat kelakuan remaja sekarang yang sudah melampaui batas, esek-esek sampai aborsi-aborsian. Maka kita perlu mengangkat ini tinggi-tinggi. Arahkan mereka pada topik yang dekat ini. Topik yang menyenangkan ini. Beri tahu mereka bahwa ini salah. Lalu mereka akan terbuka pikirannya bahwa ini salah, kemudian mereka tidak akan pacaran dan memikirkan selangkangan mereka lagi. Akhirnya akan kita bawa mereka ke arah selanjutnya, yakni persoalan negara!!

Lul, Bah*Lul. Logika macam apa ini?!!

Ada dua hal yang terbuka saat “Training Selangkangan macam ini”, yang notabene, kebanyakan target mereka adalah pemuda nan pemudi. Anggap saja, mereka yang datang tercuci otaknya. (ini baru anggapan, karena juga tak semua bisa tercuci). Saat mereka tahu bahwa pacaran, esek-esek, sampai aborsi itu perbuatan jahanam. Maka, pilihan mereka, Satu, Berhenti pacaran. Kedua, Langsung Kawin.
Satu, saat mereka berhenti dengan perbuatan laknat yang berhubungan dengan selangkangan, mereka butuh lubang kegiatan baru.
Di sinilah letak logika yang terbalik. Karena mereka disadarkan dengan persoalan mudah, masalah selangkangan. Maka, saat mereka diajak untuk berpikir lebih tinggi, contoh saja, masalah Harga dolar naik yang bisa buat harga nasi kucing angkringan melonjak 500perak, mereka akan terseok-seok. Tak sanggup berpikir, akan terlampau sulit untuk mereka melompat berpikir sejauh itu. Logika Ekonomi yang buat otak bolak-balik. Apalagi ditambah dengan soal-soal negara yang amburadul, ameseyuu. MODYAR KOWE!
Apalagi, saat lubang kegiatan baru, yang harusnya jadi jalan lanjutan dari “training Mahzab selangkangan” ini tidak tergarap dengan baik. Saking sibuknya menggarap Training Cinta, Diskusi politik-ideologi-negara jadi anak tiri.
Anak-anak muda ini sudah terlanjur sayang dengan Diskusi soal cinta dan selangkangan. Jika mereka dibawa ke arah politik sedikit saja. mereka merasa tertipu.
“Ahh, ternyata malah ke sini kita dibawa. Munafik”, begitu kata mereka. MODYAR dua kali kita, kawan.
Lantas, kemana harus pergi anak-anak muda yang penuh dengan nafsu terbendung ini? Akhirnya, resikonya, mereka akan hilang lenyap, atau bahkan kembali lagi pada kehidupan lama mereka. Dan akan muncul serangan balik. Tahu sendirilah, bagaimana jika anak muda labil tidak terpuaskan egonya.
Itu satu. Ini yang dua. Anggap mereka langsung melampiaskan nafsu mereka dengan yang halal. Ini justru muncul penyakit yang tak kalah lebih berbahaya.
Hilang setelah kawin.
Rata-rata dari mereka masih belia. Mereka sudah disibukkan, selalu diiming-imingi dengan hidup berkah nikah dini. Tapi tidak dengan persiapan pikiran dan emosi yang matang. Mereka akan kewalahan dengan ini. Karena mereka memang dipecut dari awal soal selangkangannya, bukan pikirannya.
Mereka mulai disibukkan berkasih-sayang dengan istri mereka. terlampau cinta mencari harta untuk menghidupi keluarga. Pontang-panting. Bahkan tak sedikit yang akhirnya maen kompor, saling memanaskan, “Ayoo, siapa lagi yang mau kawin?”. Adu narsis siapa pasangan yang paling romantis dan bahagia.
Hilang sudah waktunya untuk berdiskusi tentang persoalan rakyat. Lenyap!!
“Jangankan rakyat brooo, Perut anak-istriku saja belum terisi.”
Tidak kata kalian? Oooo, banyak yang seperti ini!! sungguh. Sudah saya lihat berkali-kali yang macam ini.
Kenapa hal ini bisa terjadi?
Itu sudah resiko memulai dari persoalan Nafsu dan Syahwat.
Bagi saya “Mahzab Selangkangan” ini manuver politik yang kebablasan. Menyilaukan mata. Memang menaikkan popularitas di kalangan remaja. Tapi, resiko malah jadi lebih besar. Energy kita harus habis mengurus langkah maju-mundur.
Belum lagi. Ini semacam memancing di air keruh. Tak jelas siapa yang akan terpancing, sudah terpancingpun tak tahu mau diletakkan di kolam mana.
Aneh saja, jika mereka yang mengklaim diri sebagai aktivis lebih riuh mulutnya saat bicara tentang cinta dan merah jambu, ketimbang persoalan rakyat dan negara. Mereka yang mengaku aktivis, tapi pinky ini, memancing, tapi mereka justru terpancing menjauh dari tujuan utama mereka tentang sebuah gerakan politis yang radikal.
Para tokoh “Mazhab Selangkangan” ini pun semacam sudah melayang jiwanya. Keasyikan bermain di wilayah merah jambu. Sulit memang, jika kita tidak konsisten dengan jalan juang.
Saya berpikir, mari kembali kawan. Saya jadi ingat kata perkataan kawan saya, malam itu dia berkata, Bang Naga namanya.
“Idealisme itu menurutku bukan hanya tentang berpikir benar. Tapi adalah sebuah sikap konsisten.” Prok-prok-prok. Tepuk tangan buat kawan saya ini.
Ya, konsisten. Jika memang tugas kita dari awal adalah menyadarkan pikiran masyarakat agar berpikir politis, mendalam, dan cemerlang. Sudah, itu saja jadi rambu kita. Tak bijak jika kita disibukkan bermain hal ecek-ecek yang tak politis sama sekali.
Mari kita mulai ini dari tekanan. Karena memang tekanan yang akan membuat suatu hal menjadi indah, kuat, dan bersinar. Tekan pikiran mereka terhadap persoalan-persoalan yang luas. Masalah kehidupan. Soal mereka pada Tuhan. Soal mereka tentang negara. Soal mereka tentang Masyarakat. Logika ekonomi yang berat. Bawa mereka dari awal tentang masalah politik yang memba*bi buta.
Katakan jujur sejak awal. TUGAS KITA BERAT, INI TIDAK MUDAH, KITA SEDANG MERANCANG PERUBAHAN YANG MENGGUNCANG DUNIA. KITA MULAI DI BAWAH TEKANAN PADA PIKIRAN. BUKAN DARI BAWAH SELANGKANGAN.
Dengan begitu, sudah pecah pikiran pemuda-pemudi kita sejak awal. Dan tak ada waktu buat mereka memikirkan selangkangan. Sebab sudah kita sibukkan dengan soal-soal yang berat sejak awal, dan mereka menelan itu dengan baik. Jika sudah tiba waktunya untuk memenuhi panggilan Sunnah, menikah, mereka akan lebih senyap, dan sewajarnya saja. Tapi Tetap pada Jalur Revolusi, dengan aktivitas politik, menyadarkan masyarakat atas setiap persoalan negara.
Kalau sudah begitu, saya pikir tak akan sepi lagi diskusi-diskusi Politik-ekonomi-ideologi “berat” yang diadakan. Saya tidak akan merasa sepi lagi saat ikut hadir. Hollaaaa
Jadi panjang ini, maafkan saya jika terlalu lancang bicara. Cukup saya rasa. Nanti saya malah dilempar batu. itu hanya pikiran saya, boleh setuju, boleh tidak. Banyak yang masih ingin saya tuliskan. Tapi itu saja dulu. nanti kita lanjutkan lagi. Ini bukan sumpah serapah, hanya sebuah kejujuran yang gelisah. [MO]
Salam.

sumber : klik

Posting Komentar