Fahri Hamzah
NARASI HTI DAN ISOLASI NEGARA PADA RAKYATNYA SENDIRI


Sore ini, 
Mungkin sampai malam,
Secara maraton saya ingin membuat refleksi singkat... sebab ada yang bahaya.

Perpu Ormas, sebuah produk hukum dadakan mulai bekerja dan negara mulai melakukan persekusi kepada rakyatnya...
Ini adalah tragedi yang lukanya belum sembuh.. lalu luka itu dirobek kembali... akan ada kepedihan..
Ini tragedi bangsa kita...
Tentang harga manusia dan kebebasan manusia.. sesuatu yang baru saja kita ingat lalu kita lupa kembali...

Maka saya menulis ringan sebuah pengalaman agar kita bersama melawan lupa... melawan nasib buruk di depan mata..
Saya lahir 1971 di hari orde baru memulai legitimasinya melalui pemilu.. lahir di sebuah desa kecil di sumbawa... NTB...
Tahun 1971 masih gelap.. listrik masuk desa baru tahun 1984... aku tidak mengerti dunia lain..
Dunia kami hanya keluarga, tetangga, sungai, hutan, laut dan keramahan orang desa.. apa adanya...
Aku tidak mengerti politik... tidak mengenal aktornya.. kami hanya mengenal agama.. dan cengkrama antar tetangga...
Itulah yang merekatkan pikiran dan ingatanku dengan seseorang yang kukenal kuat dalam ingatan..
Kami memanggilnya Nde Sudin. Panggilan yang mengandung 2 kata, Nde yg artinya paman (atau bibi) dan Sudin nama beliau.
Anak2 sumbawa memanggil lelaki setengah baya sebagai paman (bibi juga nde). Demikianlah keakraban kami. Jika NdeSudin adalah pria setengah baya.
Nama panjangnya Syamsuddin. Beliau sekeluarga persis tinggal di depan rumah kami di Sumbawa.
Sehari-hari NdeSudin adalah pemilik bengkel sepeda di depan rumah. Lelaki bersahaja Beristerikan NdeSari.
Anak2 mereka mengaji di tempat abahku; Itik, Her, Amin, Ded dan Asia. Aku akrab dengan mereka sebab setiap maghrib kami mengaji bersama.
Sepulang sekolah aku senang menonton NdeSudin bekerja di bengkel sepeda sampai malam hari bersama Anak2 beliau.
Anak2 NdeSudin dan NdeSari rajin mengaji. Tetapi NdeSudin tak pernah nampak pergi jumatan.
Dalam rentang usia TK sampai SMP saya belum mengerti kenapa beliau jarang ke mesjid atau nampak sholat 5 waktu.
Meski kemudian saya mendapat informasi bahwa beliau adalah musuh Pemerintah, beliau dituduh simpatisan Partai Komunis.
Sumbawa adalah basis Masyumi dan kami berasal dari keluarga Masyumi Totok. Tapi PKI sebagai partai besar pasti punya banyak simpatisan.
Dugaan saya NdeSudin pernah simpati dengan komunis karenanya kemudian menjadi dasar adanya isolasi.
Ketika NdeSudin muda, saya tidak melihat efek isolasi kepada beliau di tengah rezim militer yang represif.
Tapi setelah beliau wafat, saya melihat ada yang getir pada kehidupan mereka. NdeSudin seperti tersingkir dan terusir.
Keluarga NdeSudin rupanya diisolasi melalui mekanisme negara, KTP mereka diberi tanda dan pelayanan publik diskriminatif.
Di desa dan di tempat kami tangan negara tidak terlalu mencengkeram awalnya ia samar.. tapi makin lama efeknya nampak kentara.
Sewaktu kecil saya tidak mengerti apa yang mereka rasakan sebab kami melihat mereka bahagia seperti yang lain.
Tetapi semakin dewasa saya melihat efek dari isolasi itu kepada keluarga mereka nyata.
Bagi keluargaku NdeSudin dan keluarga seperti saudara. Tapi di luar sana isolasi terus bekerja.
Entahlah, perasaan saya dihantui oleh perasaan bersalah kenapa saya tidak banyak tahu kisah Nde Sudin selanjutnya.
Pernah terdengar beliau pindah ke daerah lain, mereka sekeluarga berpencar dan banyak yang meninggal dunia sudah.
Itik, Ded, Her dan semua adiknya tidak menikah di kampung kami. Ada kemungkinan tetangganya mulai berbisik.
"Jangan pernah punya keturunan dari anggota PKI maka seumur hidup anak cucumu akan sengsara".
Ini nyata. Di UI dan waktu SMA saya pernah punya GURU cemerlang tapi tidak punya karir karena "tidak bersih lingkungan".
Dan sepertinya saya menemukan itu sekarang, ada bekas yang kuat pada diri mereka yang terpinggirkan dan tersisih.
Kisah NdeSudin menghantui saya setelah rezim @jokowi membubarkan HTI. Dan selanjutnya HTI diperlakukan seperti PKI.
Lalu pagi ini wartawan menghubungi saya bahwa Nama2 pengurus dan simpatisan HTI juga mulai diedarkan untuk diawasi.
Dan saya mendengar ada kampus yang mulai mendata dosen dan mahasiswa. Dengan ancaman2: "Mereka akan kena akibatnya".
Seorang pejabat POLRI aktif mengatakan bahwa PNS akan dipecat karena ikut HTI dll. Polisi kini sedang berburu.
Di luar ada ormas yang terus mengkampanyekan pembubaran HTI maka yang kita temukan adalah operasi yang sama di awal orde baru.
Tapi orde baru relatif bisa dimengerti karena PKI melakukan kekerasan dan kudeta terhadap kekuasan yang sah.
Lalu darah tumpah di mana-mana karena perang saudara dan jangan lupa bahwa PKI adalah "partai penguasa".
Orde baru membubarkan PKI setelah pengkhianatan itu nyata dan instrumen yg dipakai adalah TAP MPRS sebagai konsensus tertinggi.
Sekarang apa yang nyata dari tindakan HTI? Apa versi pemerintah tentang anti pancasila? Ayo bicara dong...
Bom mana yang diledakkan HTI dan Kelompok Teroris mana yang punya jaringan komando ke HTI? Buka dong!
Rasanya ini terlalu elementer untuk kita perdebatkan. Karena pengalaman kita seharusnya tidak lagi membuat kita masuk lubang yg sama.
Jadi bayangkanlah,
Pemerintah membubarkan sebuah ormas tanpa bangsa dan rakyatnya diberitahu apa sebetulnya yg terjadi.

Padahal kalau 1 orang akan ditangkap atau dijadikan tersangka harus ada 2 alat bukti. Sekarang apa 2 alat bukti buat HTI?
Saya mengenal kawan2 HTI dan mengetahui buku apa saja yang mereka baca serta metode berpikir mereka.
Rasanya yang paling penting dari konsep HTI adalah Khilafah. Sebuah metode kepemimpinan klasik dalam pemikiran politik Islam.
Selama ini saya tidak melihat keberanian HTI untuk meng-exercise lebih lanjut pikirannya makanya berhenti pada narasi.
Itulah sebabnya mereka gak berani membuat partai politik. Partai mereka adalah ormas. Tahulah kita batas kekuatan ormas.
Boleh jadi ada agenda lain HTI apakah itu kita tidak tahu. Tapi kalau mau bikin khilafah caranya gimana? Partai islam aja kesulitan.
Jadi HTI ini hanya bermimpi soal masa lalu yang indah tapi masak mimpi aja jadi anti pancasila dan ilegal? Ayo jelaskan!
Sikap berlebihan pemerintah jelas HTI ini akhirnya bisa dijelaskan dengan teori benturan peradaban dan war on terror.
Ini yang kita sayangkan. Karena pemerintah kita termakan dengan apa yang datang dari barat. Kali ini kita seperti tidak punya kemandirian.
Padahal, saya ingat dulu zaman ibu Megawati menjadi presiden dan bapak Taufik Kiemas masih hidup. Nuansa independen kuat.
Pernah ada permintaan ekstradisi dari negara asing kepada presiden atas Abu Bakar Baasir tapi ditolak ibu mega.
Bahkan pak Taufik Kiemas datang ke penjara menjenguk orang yang dianggap paling berbahaya tersebut.
Kita bangsa Indonesia harus memiliki mekanisme kultural untuk menghadapi masalah agama dan Kelompok sosial yg ada.
Bangsa kita terlalu besar dan kompleks untuk ikut2 pada pandangan orang tentang diri kita sendiri.
Twitter @Fahrihamzah [MO]

Posting Komentar