Oleh: Vier A. Leventa (Ketua Aliansi Silaturahmi Jogja Bergerak)

Sejak November tahun lalu hingga hari ini, telah muncul lusinan pergerakan untuk merespon keadaan negeri. Aksi-aksi mewarnai jalanan dan layar kaca masyarakat kita. Ini merupakan sebuah indikasi bahwa kondisi bangsa tak dapat dianggap biasa-biasa saja. Segala persoalan telah berkait-berkelindan tanpa menemukan titik terangnya. Isu SARA yang menggelinding tampaknya dipelihara oleh pihak-pihak yang tak bertanggungjawab. Kenaikan tarif dan harga kebutuhan pokok tergelincir hilang dalam pusaran arus kekacauan politik yang membingungkan. Hingga berbagai macam persoalan yang tengah melanda, memperlihatkan pergerakan muda sedikit tiarap tanpa sebab yang mudah kita ketahui.

Maka, jadi keperluan mendesak bagi pemuda generasi ini, menjadi harus bagi kita, tidak bisa tidak untuk mendesain fungsi, kesatuan gerakan dan tujuan bersama guna menyelesaikan segala persoalan. Sebab satu hari tertunda pada generasi ini, maka bertahun-tahun berharga akan hilang pada generasi selanjutnya.

Setidaknya ada empat (4) tawaran aktivitas yang saya ajukan, dan perlu menjadi pertimbangan kawan sekalian dalam menggagas langkah ke depan secara bersama.

Pertama, adalah tugas gerakan muda saat ini untuk menyiapkan massa revolusioner yang memahami pemikiran-pemikiran solutif (Islam )secara mendasar. Membentuk secara massif pembinaan di tengah-tengah masyarakat secara intensif. Gerakan muda yang menginginkan perubahan yang dicita-citakan mesti kembali pada akar masyakaratnya, melakukan edukasi untuk kembali pada sumber berpikirnya yang _shohih_, paradigma berpikir Islam. Hingga pemikiran itu secara praktis dapat diterapkan, baik pada level individu, kelompok maupun negara. Kesatuan inipun harus mampu menyampaikan pada kelompok-kelompok non-Muslim bahwa ajaran ini (Islam) juga akan mengayomi kepentingan-kepentingan mereka.

Kedua, kita telah menyadari bahwasanya benturan pemikiran benar-benar tengah berlangsung. Maka benturan ini harus kita perjelas sejelas-jelasnya. Menentang segala pemikiran dan sistem yang rusak serta merusak. Melawan dan memerangi pemikiran yang salah, konsep yang keliru. Gerakan muda hari ini harus mulai berani berdiri pada identitas sejatinya. Menolak seluruh pemikiran yang bertentangan dengan Islam, dan menjelaskan pada seluruh elemen pergerakan kita bahwa sekulerisme beserta derivasinya, materialisme beserta turunannya telah mengacaukan pemikiran anak negeri. Hingga kita mampu mengungkap kepalsuan, kekeliruan, dan kontradiksinya dengan Islam, agar masyarakat bisa diselamatkan darinya dan dari berbagai pengaruhnya.

Ketiga, melakukan perjuangan-perjuangan politis yang konsisten di atas pondasi berpikir Islam, yang tercermin dalam aktivitas-aktivitas massif yang dilakukan bersama;

a.  Menyadari posisi politik global dan di mana posisi kita dalam arus pertempuran pemikiran ini. Untuk kemudian berjuang melawan negara-negara neo-imperialisme dan neo-kolonialisme (Amerika dan sekutunya), yang nyata sekali memiliki kekuasaan dan pengaruh di negeri-negeri  Islam, terkhusus Indonesia. Berjuang melawan penjajahan dalam segala bentuknya; pemikiran, politik, ekonomi maupun militer. Mengungkap persekongkolan di tengah-tengah mereka agar kita dan masyarakat ini selamat dari dominasinya yang licik dan culas, serta terbebas dari pengaruhnya dalam berbagai bentuknya. 

b.  Menentang para penguasa dzalim di negeri-negeri Islam, khususnya Indonesia dalam konteks kita hari ini. Mengungkapkan kejahatan mereka, mengoreksi dan mengkritiknya, membongkar perselingkuhan mereka dengan negeri-negeri penjajah Amerika dan sekutunya, ketika mereka memperkosa hak-hak kita dan seluruh masyakarat. Sadarkanlah masyarakat kita bahwa penguasa hari ini telah mengabaikan kewajiban mereka terhadap kita, mereka telah melalaikan sebagian besar urusan rakyat. Bahkan jika perlu, kita harus melakukan pembersihan terhadap pemerintahan yang menerapkan hukum dan sistem yang curang, kotor, dan menindas ini. Kemudian menggantinya dengan pemerintahan yang berlandaskan Islam, yang dalam sejarahnya telah terbukti menciptakan kestabilan dan kesejahteraan bagi masyarakat dunia.

Keempat, mengadopsi kepentingan masyarakat yang bersifat substansial. Mengambil dan mempelajari segala persoalan, peristiwa dan problem aktual yang menimpa kita hari ini, kemudian menjelaskan hukum Islam berkaitan dengan itu semua. Sehingga masyarakat ini memahami bagaimana Islam bekerja untuk mengatasi masalah-masalah mereka, mengerti keperluan akan menerapkan Islam untuk menyelesaikan seluruh persoalan yang menimpa mereka hari ini. 

Dengan menjalankan keempat langkah tersebut, maka kita akan menuju pada sebuah gerakan edukasi, moral, dan politis secara bersamaan. Kesatuan tindakan yang diperlukan bagi gerakan muda hari ini haruslah menyentuh tanah masyarakatnya sekaligus memperbaiki moral penguasanya. Menembus batas perbedaan, bersatu dalam langkah yang terang. Apapun ego bendera yang dipanggul, kita letak dalam satu bentangan kibaran Islam yang luas. Kita kerahkan segala daya dan upaya untuk membela hak-hak rakyat kita yang telah dirampas. Kita perlu berkonfrontasi dengan pihak yang jelas-jelas tidak memihak pada kepentingan rakyat. Tak perlu lari dari segala benturan jika itu dibutuhkan bagi mencapai kebenaran dan kesejahteraan bersama.

Pada satu kesempatan, salah satu tokoh negeri ini, M. Natsir pernah mengatakan,

Toleransi tanpa konfrontasi sesungguhnya bukanlah toleransi yang kita maksud, itu hanya berarti; mengelakkan persoalan. Sehingga mungkin kita akhirnya, hanya mendapat toleransi dan bukan konstisusi.

Yang kita perlukan ialah konfrontasi dalam suasana toleransi sehingga perbenturan-perbenturan antara ide-ide dan pemikiran. Du choc des opinions jaillit la verite (dari benturan berbagai opini akan muncul sebuah kebenaran, pent.)”

Kesatuan tindakan dan arah ini akan mengantarkan kita pada kemenangan yang telah dijanjikan bagi masyarakat ini. Berbagai persoalan yang menimpa kita belakangan ini memanglah sangat membutuhkan lebih banyak lagi dialog antar anak negeri. Meminjam istilah dari seorang Tan Malaka, “Terbentur, terbentur, terbentur, terbentuk!”. InsyaAllah kawanku, saudaraku. [MO]

Posting Komentar