Oleh : Max 
(Redaktur Mediaoposisi.com)

The Armed Agressor
Tidakkah kita lupa pada sosok anak muda asal Bandung berusia 21 tahun yang rela meninggalkan kenikmatan masa muda demi mensukseskan perlawanan terhadap penjajah hingga ajal menjemputnya ? Mohammad Toha adalah nama yang patut dikenang dalam sejarah panjang negeri ini khususnya dalam peristiwa Bandung Lautan Api. Peristiwa ini bukanlah peristiwa main main karena erat kaitannya dengan perlawanan terhadap syahwat penjajahan yang dimiliki NICA yang menunggangi sekutu.
Kala itu ,April puluhan tahun yang lalu. NICA/sekutu mengancam tentara serta milisi Indonesia yang berada di Bandung untuk menyerahkan senjata yang mereka rampas dari Jepang kepada sekutu. Para milisi dan tentara Indonesia yang sudah bersusah payah merebutnya tentu menolak dengan tegas,disisi lain penyerahan senjata berarti penyerahan keamanan terhadap sekutu yang tentu menyakiti hati tentara dan milisi karena merekalah penjaga kemanan Bandung saat itu yang sah.
Penjajah akan merangsek ke kota Bandung,para pejuang saat itu bersepakat untuk meninggalkan Bandung dengan sebelumnya membakar kota Bandung dengan tujuan Bandung tidak dapat dimanfaatkan oleh sekutu. Adalah seorang Mohammad Toha rela mati demi kelancaran pembakaran kota Bandung. Toha wafat terkena ledakan karena meledakkan gedung mesiu. Kepahlawanan anak muda ini akan terus terngiang dalam sejarah Indonesia,kegilaan dan pengorbanan demi perlawanan terhadap penjajah bersenjata.
The Smilling Aggresor
Dalam era modernitas tanpa batas dibalut mimpi mimpi indah berbau barat tanpa peduli itu hebat atau justru bangsat, tersungging banyak senyuman dan gelak tawa anak muda sambil melupakan bahwa harta mereka dikuras habis habisan demi membayar hutang negara. Anak muda dicekoki budaya minum minuman keras,anak muda dipersilakan berpesta hingga larut malam,anak muda diizinkan memuaskan birahi selangkangan mereka dengan dibangunnya lokalisasi. Hasilnya adalah dalam berbagai survey dikatakan bahwa anak muda diatas 50% pernah melakukan seks bebas,tindakan yang menuai senyum lalu menuai aib setelahnya.
Dalam APBN 2017 ,pemasukan negara 85.6 % atau Rp1.498 T  berasal dari pajak yang dibebankan ke rakyat sisanya dari pendapatan bukan pajak. Apa yang mendasari kenaikan porsi pajak ? Hutang pemerintah kepada asing yang menggila demi pembangunan infrastruktur. Perlu dicatat bahwa kenaikan anggaran yang sangat drastis untuk infrastruktur dalam APBN 2017 menimbulkan pertanyaan ,kepada siapakah pembangunan infrastruktur ini ditujukan,bila untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat lantas mengapa pembangunan ini membawa tenaga kerja asing ke Indonesia dengan upah yang lebih ? Kesejahteraan macama apa ini ?
Lagi lagi,tidak ada orang yang tidak tersenyum ketika  mengamati kawasannya dibangun skyscraper , proyek raksasa,tempat wisata dan lain lain. Anak muda kembali menyunggingkan senyuman karenanya, bagaimana tidak ? Proyek yang belum selesai pun layak menjadi tempat jeprat jepret. Tempat bagus artinya foto bagus lalu foto bagus artinya hitz ,hitz artinya terkenal di jagad persilatan dunia maya, terkenal artinya banyak tawaran endorse ,banyak tawaran endorse  maka kantong pun menebal,senyum pun merekah . Maka nikmat kapitalisme manakah yang kalian dustakan ?

 Jogja Layak Dibakar !
Sadarlah kawan,di balik senyuman manis hingga senyuman bengis khas kapitalis. Mereka menyisipkan misi rahasia untuk menghancurkan suatu bangsa melalui penjajahan gaya baru atau Neo-Imperialisme . Senyuman yang tersungging saat ini hanya dirasakan oleh mereka yang enggan berfikir mendalam dan peka terhadap problematika saat ini. Senyuman juga turut merekah di bibir bengis antek kapitalis dan kaum kapitalis itu sendiri.
Marilah kita berfikir jernih,kemanakah arah pembangunan saat ini,siapakah penikmat terbesarnya ? Infrastruktur yang dibuat,siapakah penikmat hasil terbesarnya kelak ? Siapakah pihak yang tersenyum paling akhir kelak saat pembangunan terus menggila dan merangsek ?
Lihatlah penerapan pasar bebas dengan legalisasi persaingan antara David vs Goliath, yang menggerogoti dan mematikan perekenomian tetangga sebelah kita. Tetangga yang berjualan barang seadanya dengan untung tak seberapa,ilmu pemasaran yang seadanya,keterbatasan pembukuan dipaksa bertarung dengan toko modern yang menjual barang impor dengan kenyamanan yang menggoda syahwat belanja,belum lagi bila ditambah dengan kemampuan pemasaran dan kerapihan pembukuan yang mereka miliki ,jangan lupakan akses pemain besar yang sangat besar terhadap permodalan.
Haruskah moncong senjata itu ditodongkan lagi kepada anak muda  supaya anak muda bergerak dalam melawan penjajah baru yang licik dan bengis ini ? Haruskah NATO dikirim ke Indonesia untuk menakuti rakyat sehingga kaum muda tersadar realita ? Kapitalisme terus memperbaiki diri dalam melaksanakan penjajahannya sedangkan kita hanya sibuk beromantika sejarah tanpa mampu meniru semangat perjuangan dalam melawan penjajah apalagi berharap pada Allah untuk mengenyahkan penjajahan. Berharap bantuan Allah ? Bergerak  saja tidak !
Jogja layak dibakar ! Jogja sebagai kota mahasiswa tidak pantas untuk diam dan membisu , jati diri mahasiswa sebagai pembakar sumbu sumbu masyarakat akan lenyap bila tidak ada pergerakan. Sekali diam,ia terhantam. Lantas mengapa kita hanya diam,menikmati pembangunan,berburu popularitas dunia maya,lalu menjadi kacung di negeri atau di luar negeri tanpa mempedulikan nasib rakyat ? Bangunlah kawan… hentikan pencitraan sialan kalian lalu bakarlah Jogja dengan solusi ideal demi kehanifan  perlawanan. 

Mari jadikan Jogja Lautan Api Perlawanan. Bila dulu Toha membakar Bandung demi melawan The Armed Agressor,lantas kenapa enggan membakar Jogja Istimewa ini demi melawan The Smiling Agressor,dia muda kita muda.. bukan ?

Posting Komentar