Media Oposisi- Rasanya tidak sreg jika ngopi tanpa membaca polah tingkah rezim yang saat ini berkuasa, kita saksikan sosok kurus yang polos dan “nampak” bersahaja bernama Wiwi atau Jokowi. Wiwi sendiri memiliki keturunan jawa.
Tindakan wiwi mengundang rasa penasaran saya tentang sejarah. Mengapa ? Terserah saya wong saya yang nulis.
Wiwi kan orang jawa. Hal ini mengingatkan saya pada penilaian Pramoedya Ananta Toer yang kerap disapa Bung Pram tentang Jawanisme.
Jawanisme menurut Bung Pram adalah taat dan setia kepada atasan yang menjurus kepada fasisme. Hal ini terlihat dalam masa kepemimpinan presiden yang asli orang jawa,Soeharto. Di masanya,selain penembakan misterius (Petrus) merajalela di Indonesia. Budaya taat sepenuhny pada atasa dan peduli setan halal haram asalkan atasan senang tumbuh subur dan berkembang di pelosok negeri.

Kalau sudi mencermati sejarah lucunya negeri ini, sepertinya perkataan Bung Pram memiliki bukti historis yang kuat. Dulu, saat Jepang ingin merogol kekayaan alam Indonesia, mereka pahami betul mentalitas rakyat Indonesia khususnya di pulau Jawa. Jepang menjadikan kepala desa sebagai antek dan alat untuk mengambil kekayaan Indonesia termasuk mengambil penduduknya untuk dikirim sebagai romusha.

Sukses ? Tentu saja ! Singkat cerita, kepala desa berlomba lomba mengirimkan berbagai bantuan tenaga kerja paksa (romusha) untuk bekerja bagi Jepang.

Bagaimana dengan hari ini, ketika mentri berlomba lomba ingin membasmi anggota HTI di wilayah yang masing masing kuasai demi simpati Jokowi ?

Ada menristekdikti yang terang terangan akan memberangus dosen yang dianggap berafiliasi ke HTI. Mendagri yang akan memecat PNS yang dianggap condong ke HTI, kementrian yang lain pun satu suara.

Anda bisa nilai sendiri, namun ingat bahwa Karl Marx pernah berkata “History Repeat Itself”. [MO]

Posting Komentar