Oleh: Darmayulis Putra

Kalau saya diminta mengusulkan nominator "the man of the year" untuk tahun 2017 ini, salah satu yang saya pilih pasti pak Ismail Yusanto, sang Jubir HTI. 

Di mata saya Pak Ismail adalah seorang aktivis dakwah yang tidak hanya fasih berbicara ide-ide Islam, beliau juga seorang pendekar intelektual muslim yang mampu meladeni para petarung pemikiran dengan gaya apa pun. 

Sebagai produk dakwah kampus era 80 an, beliau sudah terbiasa meladeni perdebatan sengit sekali pun. Dipadu dengan pembinaan dan pengkajian berbagai kitab karya para ulama ternama dalam periode yang panjang di Hizbut Tahrir, beliau benar-benar memiliki semua amunisi yang dibutuhkan seorang aktivis Islam.

Kapasitas ketokohan beliau teruji dalam berbagai dialog yang berlangsung maraton. Meski lelah, pak Ismail tetap tampil prima, jauh dari emosi, apalagi sampai ribut terus ngajak debat di luar. Tak heran banyak jurnalis bahkan dari media mancanegara yang betah berlama-lama mewancarainya. 

Pak Ismail pernah cerita tentang rutinitasnya menghadapi berbagai pihak yang "penasaran" terhadap gagasan HTI. Di samping meladeni para peneliti untuk kepentingan tesis atau desertasi, beliau juga biasa menghadapi para  jurnalis asing. Katanya ada jurnalis asing yang setelah selesai wawancara tiba tiba mengaku sempat berkali-kali batal menemuinya karena membayangkan betapa seremnya seorang petinggi ormas seperti HTI. 

Terus terang sulit bagi saya untuk melupakan sosok pak Ismail yang elegan dan sangat intelek itu. Melupakan pak Ismail sama sulitnya dengan melupakan kiprah dan jasa-jasa HTI bagi bangsa ini. Kendati kiprah dan jasa mereka bukan mengusir Belanda atau Jepang, tapi kiprah mereka adalah membangun kembali  karakter anak bangsa melawan penjajahan gaya baru yang tak kalah berbahaya dibanding penjajahan fisik.

Terus terang sulit bagi saya melupakan HTI, meski pun di mata rezim yang sedang berkuasa dicap sebagai ormas anti pancasila. Saya sendiri belum paham bagaimana tuduhan anti pancasila bisa yang dialamatkan kepada HTI  yang gagasan-gagasannya justru menunjukkan begitu besarnya cinta mereka kepada negeri ini. 

Ya, siapa pun akan ingat HTI ketika membaca data-data penguasaan asing atas sumber daya alam milik bangsa ini. Selama ini HTI sangat lantang menyerukan pengembalian berbagai kekayaan milik rakyat  seperti mega tambang emas Freeport kepada rakyat. Menurut HTI haram hukumnya memprivatisasi kekayaan milik rakyat apalagi menyerahkannya kepada aseng dan asing.

Siapa pun akan ingat HTI begitu mendengar pemerintah mengumumkan kenaikan harga BBM. Selama ini HTI paling berani menentang kenaikan harga BBM. Menurut HTI kenaikan harga BBM tidak terlepas dari agenda liberalisasi migas yg menyerahkan kepemilikan sektor hulu migas kepada swasta bahkan asing.

Siapa pun akan ingat HTI ketika tahu betapa tingginya angka kriminalitas dan betapa tidak amannya negara ini.  Selama ini HTI rajin menyuarakan syariat Islam sebagai jalan paling efektif mengatasi tindak kriminal.

Siapa pun akan ingat HTI saat mengetahui jumlah pengguna narkoba di Indonesia sudah melebihi jumlah penduduk Sungapura!  Selama ini HTI aktif berdakwah membina generasi muda agar menjadi anak bangsa yang sehat rohani dan bertaqwa.

Siapa pun akan ingat HTI begitu menyaksikan maraknya pergaulan bebas dan makin massifnya pertumbuhan perilaku LGBT. Selama ini HTI sangat rajin turun ke berbagai pelosok mengajak generasi muda memahami agama tanpa minta bayaran sepeser pun.

Siapa pun akan ingat HTI begitu membahas hutang negara yang sudah tembus angka 4 triliyun! Bahkan bayi yang baru lahir pun sudah harus harus menanggung utang sampai 13 juta rupiah! Selama ini HTI rajin mengingatkan bahaya hutang dan mengajak pemerintah meninggalkan ekonomi ribawi.

Siapa pun akan ingat HTI begitu melihat slip tagihan rekening listrik yang semakin membengkak dan pajak yang makin mencekik leher. Selama ini HTI selalu rajin mengoreksi kebijakan penguasa yang pro korporasi dan melupakan rakyatnya sendiri.

Siapa pun akan ingat HTI begitu menyaksikan makin kuatnya kelompok separatis seperti OPM di Papua. Selama ini HTI getol mengingatkan bahaya gerakan separatis. HTI bahkan menentang keras lepasnya Timor Leste dari Indonesia.

Siapa pun akan ingat HTI begitu menyaksikan penindasan yang dialami kaum Muslimin di berbagai belahan dunia. Selama ini HTI tak pernah sungkan mengingatkan umat agar menyatukan kekuatan di bawah naungan Khilafah Islamiyah meski pun itu sulit.

Terus terang saya tak bisa lupa dengan HTI. Bahkan sebuah kesalahan besar jika bangsa ini dengan tergesa gesa hendak melupakan HTI. Saran saya, jangan coba coba lupakan HTI.[Mo]

Posting Komentar