Jakarta| Media Oposisi- Isu impor garam menuai banyak pro dan kontra, pihak yang pro beralasan kuantitas dan kualitas garam produksi lokal tidak sesuai dengan kebutuhan.

Ketua Asosiasi Industri Pengguna Garam Indonesia (AIPGI‎) Toni Tanduk menganggap total kebutuhan garam Indonesia dari berbagai sektor sebanyak 3,9 juta ton. Sementara produksi dalam negeri hanya 2,2 juta ton. Hal ini dianggap sebagai alasan utama untuk impor garam dari luar negeri.
"Jadi pasokan dari dalam negeri saja tidak mencukupi, sisanya dari mana?," kata Toni, dalam diskusi tentang garam, di Jakarta, Senin  (24/7).

Tonny menyalahkan produksi garam lokal yang kurang, kualitas garam produksi petani lokal belum sesuai dengan standar  industri,

"Kontinuitas suplai, dan kualitas garam produksi lokal belum bisa penuhi kebutuhan industri. Kebutuhan industri akan garam masih dipenuhi dari impor. Garam produksi lokal hanya untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga," imbuhnya.

Isu ini tidak dianggap genting oleh pemerintah. Sehingga pemerintah hingga saat ini tidak memberikan solusi peningkatan produksi dan kualitas garam lokal sebagai solusi permasalahan garam. Pemerintah hanya memberikan solusi impor,padahal kita tahu Indonesia memiliki potensi garam yang tinggi. [MO]

Posting Komentar