“Rongsokan peradaban yang kalah, Isis Puncaknya” dilontarkan dengan tegas oleh Ahmad Syafi’I Ma’arif ketika bertemu dengan Presiden Joko Widodo di Istana Kepresidenan (17/7/2017). Tak hanya itu ia menganggap konflik yang terjadi di Indonesia dipicu oleh golongan agama tertentu,”Seperti jalan rumput kering yang tentang sekali dan bisa memicu macam macam,pakai agama segala macam itu” lanjut Syafi’i. 

Seperti kita ketahui,Indonesia khususnya umat Islam adalah toleran. Hal ini bisa dilihat dalam aksi bela islam I,II,dan III tidak ada umat non Islam yang terluka dan tidak ada tempat ibadah yang dirusak oleh jutaan umat Islam yang mengikuti kegiatan aksi bela islam. Padahal umat islam memiliki kekuatan untuk melakukannya,namun aksi bela islam bukan aksi kebencian terhadap agama tertentu. Aksi bela islam tersendiri dipicu oleh pidato ahok yang difatwa MUI sebagai tindakan penghinaan agama Islam di kepulauan seribu dalam pidato bernuansa kampanye.

ISIS dan ide khilafahnya memang menjadi fenomena, namun patut disayangkan,Syafi’i menunjukan kedangkalan berfikir dalam melihat fenomena khilafah ala ISIS. Entah apa dasarnya, ia tidak mengkaji ide Khilafah ala ISIS secara lebih mendalam namun dengan cerobohnya menyindir umat islam yang menyebarluaskan ide khilafah. Patut diketahui,khilafah adalah ajaran Islam yang pernah diterapkan berabad abad dan termaktub dalam kitab kuning.   

Dalam konteks ini,sejatinya sebagai seorang akademisi yang pernah memimpin organisasi keagamaan seharusnya Syafi’I mengedepankan nash nash syara’ dan metode ilmiah dalam melihat fenomena khilafah. sehingga mampu objektif tidak hanya berdasarkan kebencian.

karena yang menjadi rongsokan peradaban adalah kapitalisme beserta seperangkat sistem yang membuat keadilan menjadi timpang sehingga memunculkan persoalan lain.[Mo]


Posting Komentar