Jakarta| Mediaoposisi-  Pembubaran HTI dengan penerbitan Perppu Ormas ternyata menuai perhatian dari media Internasional. Salah satu media asing dari turki, mewawancarai Ismail Yusanto pada 19 Juli lalu. Beragam pertanyaan dilontarkan kepada HTI, yang diwakili oleh Ismail Yusanto. Dalam acara bertajuk “ The Newsmakers : Indonesia’s Islamist Ban” tersebut,Ismail Yusanto nampak tenang dalam menjawab beragam jenis pertanyaan yang berbobot dari media asing asal turki tersebut.

Sontak sikap rezim Jokowi yang mengeluarkan Perppu Ormas no 2/2017 menjadikan rezim Jokowi represif mengarah kepada rezim diktator. Bahkan The Wasington Post pun ikut mengkritik kebijakan rezim Jokowi tersebut. Ormas pertama yang menjadi target pembubaran adalah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), yang di tuduh ormas radikal dan anti Pancasila serta Kebinekaan.



Jubir HTI, Ismail Yusanto saat Aksi Bela Islam 287 di Jakarta


Tanpa diberi ruang dialog HTI langsung dibubarkan, di gebuk dan pengikutnya di buru, bahkan anggotanya yang menjadi PNS dipaksa mengundurkan diri atau teteap menjadi anggota HTI. Sikap ini merupakan satu sikap yang berlebihan mengingat HTI selama ini tidak pernah melakukan kekerasan seperti apa yang di tuduhkan, ini bisa menjadi bahan kajian yang menarik. Maka tak heran media Internasional pun berusaha menggali informasi ini.

Wawancara dimulai dengan pertanyaan ,tentang kebenaran tuduhan bahwa HTI berbahaya bagi Indonesia. Ismail mengklarifikasi tuduhan tersebut. “HTI pernah menolak referendum Timor Timur,itu komitmen HTI menjaga Indonesia.”tegas Ismail sekaligus menepis tuduhan bahwa HTI berbahaya bagi Indonesia dan dianggap memecah belah serta ingin menghancurkan negara.


Dalam kesempatan tersebut,Ismail juga menyatakan bahwa HTI tidak menolak pluralitas yang ada dalam masyarakat Indonesia.”Masyarakat yang plural adalah fakta,masalahnya adalah bagimana masyarakat tersebut diatur dengan baik” tandas Ismail.


Ismail juga menambahkan, bahwa Indonesia yang pluralistik pernah dipimpin dengan corak komunisme dan kapitalisme,namun terbukti gagal. “Maka kami menawarkan syariat Islam sebagai solusi” ucap Ismail

Pewawancara melanjutkan pertanyaanya dengan mengkaitkan apakah khilafah HTI mirip dengan Khilafah Al Baghdady ISIS yang menyebabkan kekacauan. Ismail menjelaskan bahwa khilafah merupakan ajaran Islam. Ismail juga mengklarifikasi tuduhan bahwa khilafah akan membawa kekacauan. “Sejak awal,kami (HTI) telah mengkritisi dan menolak khilafah ala Al Baghdady”.

Ismail juga menyindir tindakan represif Jokowi yang memberangus dakwah HTI,”Bagaimana mungkin kami bisa menjelaskan khilafah kepada masyarakat umum bila kami tidak diberikan ruang dan tempat ?” sindir Ismail retoris. [MO]

Wawancara selengkapnya, simak video disini


Posting Komentar