Kapal Induk Angkatan Perang Laut China



Oleh: Bambang Pranoto Bayu Aji
Peneliti di Civilization Analysis Forum (CAF) 

Melihat China yang terus-menerus mengeluarkan uang besar-besaran untuk belanja militer, dengan menaikkan anggara pertahanan sebesar 12,2 persen per tahun langkah ini akan memicu kekhawatiran dari tetangga negaranya seperti Jepang dan negara-negara lainya di Asia. 

Beijing selama bertahun-tahun menaikkan pengeluaran bagi Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) diatas dua digit, menggambarkan ambisi militer untuk menegaskan kebangkitan ekonomi sekaligus unjuk kekuatan terkait konflik teritorial dengan negara tetangga antara lain Jepang dan lain sebagainya. 

“Kami akan menjaga dengan tegas kedaulatan China, keamanan serta kepentingan pembangunan,“ kata Perdana Menteri Li Keqiang dalam pembukaan Kongres Rakyat Nasional (NPC) Rabu (05/03/) yang dikendalikan oleh Partai Komunis Cina (PKC).

Beijing akan “menempatkan persiapan perang sebagai pijakan“ dan “membangun China menjadi sebuah kekuatan maritim,“ tambah dia.

“Kami akan menjaga kemenangan Perang Dunia II dan tatanan dunia pasca perang, dan tidak akan membiarkan siapapun untuk membalikkan jalannya sejarah,“ kata Li – menggunakan sebuah ungkapan yang sering dipakai dalam hubungan dengan Jepang.

Belanja militer terus naik

China telah memperbesar kemampuan laut selama beberapa tahun terakhir, dengan kapal induk pertama mulai beroperasi sejak September 2012.

Kapal dan pesawat milik China dan Jepang secara rutin saling membayangi satu sama lain di wilayah sengketa Laut China Timur di kepulauan yang disebut Diaoyu oleh China dan dinamai Senkaku oleh Jepang, yang telah menimbulkan kecemasan bakal terjadinya bentrok.

Sebuah laporan keuangan yang dipersiapkan dalam pertemuan NPC menyebut bahwa “peruntukkan bagi anggaran pertahanan adalah 132 milyar Dolar AS, naik 12,2 persen“.

Sesaat setelah pengumuman itu, Jepang menyampaikan kekhawatirannya mengenai “keterbukaan“ Beijing terkait Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) – yang termasuk di dalamnya angkatan darat, angkatan laut dan angkatan udara.

“Transparansi kebijakan pertahanan Cina dan kemampuan militernya, atau kekurangannya, telah menjadi kecemasan komunitas internasional, termasuk Jepang,“ kata Kepala Sekretaris Kabinet Yoshihide Suga.

Sejak beberapa tahun terakhir ini China telah menaikan anggaran militer 10,7 persen pada 2013, dan 11,2 persen pada 2012 serta 12,7 persen pada 2011.

Para analis percaya bahwa pengeluaran belanja Cina yang sebenarnya, lebih tinggi dari yang diumumkan.

*Ambisi menjadi kekuatan besar*

China mencurahkan sekitar tiga kali lipat lebih banyak dari India untuk anggaran pertahanan, dan lebih besar dari kombinasi belanja militer Jepang, Korea Selatan, Taiwan dan Vietnam.

Belanja Beijing diperkirakan bakal menyamai Washington pada 2030, demikian perkiraan International Institute for Strategic Studies pada Februari lalu, sambil memberi catatan bahwa setelah itu masih butuh beberapa tahun lagi bagi China, untuk menyamai kemampuan, pengalaman dan keahlian AS.

Langkah China akan menjadi sumber kecemasan negara tetangganya dan mendorong mereka memperkuat kerjasama satu sama lain dan AS, kata Denny Roy, seorang ahli militer China di East-West Center, Hawaii.

Desember tahun lalu, pemerintahan “Hawkish” Perdana Menteri Shinzo Abe sepakat mengeluarkan 240 milyar Dolar antara 2014 hingga 2019 lewat pergeseran kebijakan militer negara itu di kawasan dalam menghadapi China – yang artinya menaikkan anggaran militer mereka sebesar lima persen selama lima tahun.

Saat itu, Beijing mengecam langkah Tokyo yang dianggap menjadi ”keprihatinan negara-negara tetangga di Asia serta komunitas internasional”.

Roy mengatakan, dorongan China untuk memodernisasi militernya bersumber dari ambisi besar mereka untuk menjadi kekuatan dunia, bukan terkait sengketa dengan negara tetangga.

”Saya pikir secara mendasar itu (terkait) komitmen Cina untuk mencapai status kekuatan terbesar,” kata Roy.[Mo]

Posting Komentar