Oleh: Ayu Mela Yulianti, SPt
(Pemerhati Masalah Umat)

Mediaoposisi.com- Saat ini, Indonesia dan dunia mengalami krisis multidimensi. Kesenjangan sosial, kemiskinan, pengangguran, kasus-kasus asusila, korupsi, melanda hampir diseluruh negara, rata, sama, walaupun penampakan lahirnya berbeda.

Jika di Indonesia penampakan lahirnya berpeci, di Amerika dan negara Eropa lainnya berdasi, di Arab bersorban, namun kasus korupsi, rata hampir terjadi semua negara. Tersebab, adanya persamaan ideologi yang diemban yaitu saat ini semua negara diatur oleh aturan yang dibuat oleh hawa nafsu manusia belaka, menegasikan aturan agama dalam pengaturan kehidupan berbangsa dan bernegara. Akibatnya pastilah setiap aturan yang dibuat akan selalu berbenturan dengan aturan yang lain, selalu kurang tepat, dan menyisakan masalah bahkan  membuat masalah baru.

Ideologi yang membuat aturan kehidupan hanya berdasarkan hawa nafsu manusia belaka, seperti yang saat ini diemban oleh seluruh negara disebut idelogi sekuler kapitalis. Karenanya selalu ada istilah tambal sulam kapitalisme, sebagai akibat tidak sempurnanya ideologi ini dalam mencover dan menyelesaikan masalah.

Lihatlah di televisi, tiada hari pastilah memberitakan masalah masalah yang berujung pada krisis multidimensi ini, diseluruh dunia.

Jika kemiskinan dan kesenjangan sosial terjadi di Indonesia, maka hal yang sama juga terjadi di Amerika, Turki dan lain sebagainya. Jika diIndonesia terjadi kasus korupsi, maka hal yang sama pun terjadi di negara lainnya. Jika di Indonesia terjadi krisis ekonomi dan moneter, maka hal yang yang pun terjadi di Amerika dan negara lainnya. Jadi sangatlah naif, jika kita hanya mengatakan bahwa krisis multidimensi hanya terjadi di Indonesia, karena  dunia nyata dan dunia maya telah mengabarkan berita krisis multidimensi diseluruh negara.

Artinya, tidaklah bisa kita membenci seorang yang berpeci sebagai identitas muslim, yang terjerat kasus korupsi, misalkan. Tersebab kasus ini terjadi, bukan karena pecinya yang berakhir pada stigmatisasi negatif terhadap peci dan ajaran Islam.

Akan tetapi kasus korupsi ini terjadi karena adanya aturan yang tumpang tindih, aturan yang dibuat oleh hawa nafsu manusia belaka, yang memberi celah kepada manusia, apakah berpeci atau tidak untuk melakukan korupsi. Dengan kata lain sistem sekuler kapitalis telah membuat aturan yang memberikan celah kepada manusia untuk melakukan aksi korupsi, baik korupsi sendiri-sendiri ataupun korupsi berjamaah.

Karenanya, memang krisis multidimensi ini, tidak bisa tidak, harus diperbaharui dan diselesaikan dengan perombakan sistem. Dengan membuang sistem sekuler kapitalis yang nyata-nyata pencipta krisis multidimensi, dengan sistem yang mumpuni, yang tentu saja sebuah sistem yang tidak bermasalah, yang bukan berasal dari hawa nafsu manusia belaka. Sistem itu hanya ada didalam Islam.

Islam terlahir dan diciptakan oleh Allah SWT, sebagai pemberi solusi atas seluruh permasalahan hidup manusia.  Sistem Islam tidak bisa dicombain dengan sistem yang lain. Sistem islam sangat unik, mandiri dan sempurna, karenanya sistem Islam tidak bisa disisipi oleh sistem yang lain. Satu aturan dalam sistem Islam berkaitan dengan aturan yang lain.

Proses penggalian aturan dan hukum dalam sistem Islam disebut dengan proses ijtihad, dilakukan oleh seseorang yang sangat dan sungguh-sungguh paham dengan fakta yang terjadi dengan dalil-dalil syariat yang telah ditetapkan oleh Islam. Karenanya pemimpin dalam Islam afdholiahnya adalah seorang mujtahid.

Karenanya jika Indonesia ingin keluar dari krisis multidimensi yang melanda negeri ini, maka solusinya hanyalah dengan meninggalkan sumber pencipta krisis multidimensi ini yaitu sistem dan ideologi sekuler kapitalis. Biang kerok terjadinya krisis multidimensi.

Menggantinya dengan menerapkan aturan yang berasal dari tuntunan wahyu, yang terangkum dalam syariat Islam dalam sistem dan ideologi Islam. Karena hanya sistem dan ideologi Islam saja yang dapat menghilangkan seluruh krisis multidimensi ini. Hanya sistem dan ideologi Islam sajalah yang memiliki aturan dan peraturan hidup yang sesuai dengan fitrah manusia, memuaskan akal manusia dan menentramkan jiwa manusia.

Karenanya hanya aturan Islam dalam ideologi Islam sajalah yang dapat menjaga kewarasan manusia, kehormatan manusia, kesucian dan kemuliaan seluruh umat manusia. Sebuah kewajaran karena sistem dan Ideologi Islam ini berasal dari tuntunan wahyu, dari Allah SWT.

Jikapun ada sebagian kalangan yang meragukan keampuhan sistem Islam dalam memberantas krisis multidimensi, maka sesungguhnya keraguan itu hanyalah berasal dari ketidaktahuan saja, berasal dari keberhasilan asing dan asing dalam menanamkan stigmatisasi negatif dan monsterisasi terhadap ajaran Islam, dibenak kaum muslimin,  sehingga kaum muslimin sendiri menjadi phobia terhadap ajaran agamanya sendiri dan antipati terhadap syariat Islam.

Karenanya, sungguh benarlah, sabda Rasulullah Muhammad SAW yang mengatakan tentang keutamaan ilmu dan menuntut ilmu.  Karena ilmu dapat mengikis dan menghilangkan ketidaktahuan manusia. Menyinari dan menuntun manusia dari jalan kegelapan menuju jalan terang benderang. Tentulah bukan sembarang ilmu. Namun ilmu yang bermanfaat, yaitu ilmu yang  berasal dari tuntunan wahyu bukan ilmu yang berasal dari hawa nafsu manusia belaka.[MO/sr]




Joko Widodo bersama KH Munif Muhammad Zuhri/Net

Mediaoposisi.com-Presiden Joko Widodo mengunjungi Pondok Pesantren (Ponpes) Girikusumo, Banyumeneng, Mranggen, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, Jumat (19/10) Dikutip RMOL

Kedatangan Jokowi ini disambut oleh pimpinan pesantren KH Munif Muhammad Zuhri (Gus Munif) dan ratusan santri.

Disana Jokowi berembel-embel bahwa pemerintah berkomitmen memberi perhatian terhadap santri dan Ponpes. Hal ini untuk membangun sumber daya manusia agar sejalan dengan pembangunan infrastruktur yang kini digencarkan pemerintah.

"Tujuannya agar kemampuan skill dan keterampilan bisa berkompetensi perkuat daya saing dengan negara lain. Saya kira dua pondasi pembangunan sumber daya manusia dan pembangunan insfraktruktur sangat penting sekali. Sebab dua ini sebagai modal persaingan menuju negara yang maju," ujar Jokowi kepada wartawan.

Jokowi juga sempat melakukan pertemuan tertutup dengan pimpinan ponpes.  Namun pertemuan tersebut hanya membahas persoalan bangsa dan kenegaraan. Ia mengaku tidak ada pembicaraan yang mengarah pada Pilpres 2019.

"Tadi hanya bahas diskusi seputar wawasan kebangsaan dan kenegaraan berkaitan dengan ketatanegaraan dan tidak bisa saya sampaikan secara detail," ujar Jokowi. [MO/vp]


Oleh: Ummu Hanif 

Mediaoposisi.com- Duka Donggala masih menganga. Kini media menambah luka dengan berita para generasi penerus bangsa. Sebagaimana yang dilansir tribunlampung.co.id, pada 02/10/2018,  Sebanyak 12 siswi SMP di satu sekolah di Lampung diketahui hamil. Temuan di salah satu daerah di Bumi Ruwa Jurai tersebut, menjadi perhatian serius Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Lampung.

Direktur PKBI Lampung, Dwi Hafsah Handayani menyebutkan, 12 siswi SMP di satu sekolah di Lampung yang diketahui hamil tersebut, terdiri dari siswa di kelas VII, VIII, dan IX. Sampai berita ini diturunkan, PKBI pun terus menghimpun data terkait detail perkembangan kasus tersebut.

Ketika kita cermati, di era digital ini, era dimana media digital semakin dekat dengan kehidupan masyarakat, maka dampak yang dibawa juga semakin banyak. Benar, media adalah salah satu bentuk dari sarana yang sifatnya mubah. Namun, tentu dia tidak bisa lepas dari sistem yang menggunakannya. Ketika sistem kapitalis yang saat dijalankan oleh semua negara di dunia, maka media adalah sarana untuk memasarkan peradaban kapitalis yang sarat dengan budaya barat. Jauh dari nilai – nilai islam.

Sehingga kita dapati, banyak sekali media, khususnya televisi yang menyiarkan acara-acara hiburan yang tidak mendidik. Sebut saja salah satunya sinetron remaja yang mengisahkan kisah cinta anak sekolah dengan kehidupan yang serba glamour dan modern.

Inilah salah satu contoh tontonan yang tidak memiliki nilai pendidikan moral yang sama sekali tidak patut untuk dilihat para remaja dan anak-anak. Namun nyatanya, tontonan ini justru sangat digandrungi oleh remaja, bahkan juga anak-anak yang semestinya belum mengerti apa itu ‘cinta’ dan apa itu ‘pacaran’.

Dalam sinetron selalu dikisahkan tentang perjalanan dan lika-liku cinta dua sejoli yang tampaknya semua itu terasa menyenangkan dan membuat hidup lebih berwarna jika laki-laki dan perempuan menjalin ikatan kasih yang disebut dengan ‘pacaran’.

Itulah yang membuat fenomena pacaran di kalangan remaja sudah dianggap sangat wajar dan lumrah. Bahkan, akan dianggap sangat aneh jika ada remaja yang belum pernah memiliki pacar sama sekali.

Itu masih dari televisi, yang lebih dekat lagi adalah gadget. dimana arus informasi begitu deras mengalir dihadapan kita, termasuk remaja, hanya dengan sekali sentuhan jari.

Jika harus menyalahkan, ini salah siapa? Apakah salah sinetron, gadget atau salah orangtua? Yang jelas, kita semua harus saling merenung dan introspeksi diri. Dan seharusnya kita juga mencari jalan keluarnya bagaimana agar remaja-remaja penerus bangsa ini tidak memiliki moral yang rusak dan terjerumus dalam pergaulan bebas yang dapat menyesatkan kehidupan mereka di masa mendatang.

Bahkan jika kondisi ini tidak dicari jalan keluarnya secara tuntas, akan menyimpan bom waktu masalah yang siap meledak untuk menghancurkan peradaban manusia di masa yang akan datang.

Islam sebagai agama yang sempurna, sebenarnya telah memiliki solusi tuntas menyelamatkan generasi dari pergaulan bebas. Aturan menutup aurat, larangan ikhtilat dan kholwat adalah benteng pergaulan. Terlebih penanaman aqidah yang ditanamkan sejak usia dini, akan menjadi “rem” dalam pergaulan. Selain itu, kontrol dari masyarakat juga turut andil dalam upaya mencegah pergaulan bebas, tidak seperti saat ini, sikap individualis lebih dominan karena kesibukan dunia. Sehingga masyarakat seakan membiarkan meski ada penyimpangan di masyarakat.

Yang tidak kalah penting adalah peran negara, negara harusnya mampu mengelola media untuk penanaman aqidah, ketaatan terhadap Islam dan pencerdasan umat tentang Islam sebagai ideologi, bukan malah membiarkan konten – konten perusak aqidah demi rating dan segebok rupiah. Lebih dari itu, peran negara juga bisa memberi sanksi tegas bagi para pelaku pelanggaran syara’ termasuk aktivitas pacaran, apalagi yang sampai melkaukan sex diluar nikah. Sehingga ada efek jera bagi para remaja yang mencoba untuk melakukannya.[MO/sr]


Oleh: Nurindah Fajarwati Yusran
(Marketing Khansa Property)

Mediaoposisi.com- Media sosial sejak kemarin hingga hari ini kembali ramai dengan tayangan video aksi damai pergerakan politik Gema Pembebasan (GP) Sulawesi Tenggara pada kamis 18/10/2018 didepan gedung MTQ Kendari, Sultra, yang berujung anarkisme aparat kepolisian Kota Kendari pada massa.

Aksi ini mengusung tema Kenaikan Harga BBM, Anjloknya Nilai Tukar Rupiah Bukti Rezim Jokowi Ingkar Janji. Muhammad Akbar Ali selaku Humas Gerakan Mahasiswa GP Sultra mengungkapkan "tindakan brutal tersebut bermula saat seorang aparat kepolisian beradu argumen dengan salah satu aktivis GP menyoal larangan opini Khilafah", ungkapnya dalam rilis Gema Pembebasan.
Kasat Intelkam mempersoalkan baju kaos yang dipakai salah satu massa aksi yang terdapat kata KHILAFAH agar dilepas.

Alasan kuat mahasiswa tidak melepas kaos tersebut karena akan menyebabkan auratnya terlihat. Mahasiswa dengan intelektualnya juga mempertanyakan landasan hukum pelarangan edukasi khilafah, baik dalam pandangan Undang-Undang yang berlaku ataupun dalam sudut pandang Islam.

Mengayomi atau Memukuli
Adu argumen antara mahasiswa dengan aparat kepolisian terkait opini Khilafah menyebabkan aparat naik pitam. Dalam tayangan video Kasat Intelkam mendorong leher Hikma Sanggala dengan posisi mencekik. Supriadi yang  ingin melerai malah mendapatkan pukulan tepat diwajah oleh beberapa aparat kepolisian lain. Anarkisme yang tidak di inginkan ini terus terjadi kurang lebih 15 menit hingga berhenti saat massa menarik diri dari tempat Aksi.

Rezim anti kritik dan refresif kini kian menjadi-jadi dan sering menjadikan mahasiswa sebagai tumbal. Dalam aksi para mahasiswa sama sekali tidak membuat hal-hal anarki, bakar-bakar ban, apalagi memblokade jalan hingga menyebabkan kemacetan. Karena kata Khilafah "Main hakim sendiri" dilakukan dengan begitu mudahnya. Polisi bagaikan pereman yang seenaknya main cekik dan main pukul.

Apa yang dialami mahasiswa Sultra bukanlah yang pertama kali terjadi. Baik dikalangan mahasiswa begitupun di kalangan masyarakat secara umum, atribut berbaur Khilafah bagai setrum yang sering dikriminalisasi. Berbagai aksi banyak yang dihentikan paksa hanya karena alasan dimunculkannya ide ini. Mendengar kata khilafah membuat sebagai besar masyarakat negeri ini beringas tanpa kendali, hingga kali ini giliran aparat keamanan yang harusnya mengayomi malah memukuli.

Mahasiswa yang hadir dalam rangka menyampaikan orasi sebagai bahan evaluasi kerja pemerintah dengan membawa opini dan atribut khilafah tidak memiliki dasar diperlakukan buruk. Dengan tegas Akbar Ali mengungkapkan kejadian ini tidak membuat mereka ciut,  tetapi akan terus menjadikan mahasiswa semakin menyuarakan ideologi Islam.  Melawan kedzaliman penguasa hingga Allah mematikan mereka dalam perjuangan Islam. 

Keberadaan penegak hukum yang melakukan anarkisme dalam suatu aksi tanpa dasar yang kuat jelas subuah kriminalitas. Negara berkewajiban melindungi mahasiswa dalam menyampaikan aspirasi. Aksi damai yang dilakukan mahasiswa mestinya diberikan ruang agar tersampaikan dengan baik.
Massifnya mahasiswa turun ke jalan sebagai penyampai aspirasi rakyat merupakan bentuk kesadaran jika mereka masih berdiri tegak menjadi leader of change ditengah negeri yang semakin carut marut. Negeri dengan sejuta episode janji-janji palsu akan kenyamanan hidup dan balutan ekonomi yang tidak kunjung baik.
Berbagai atribut maupun opini ide Khilafah yang didiskriminalisasi tidak bisa dibiarkan begitu saja.  Khilafah bagian dari Islam dan tidak satu pun Undang-Undang yang menjadikan Khilafah sebagai sebuah kriminalitas. Negara sewajarnya membuat perlindungan agar ide khilafah ini tidak dianggap buruk dan layak dihakimi sesuka hati.  Sekali lagi,  khilafah adalah ajaran Islam, anti khilafah sama halnya anti Islam.

Profesi Mulia
Menjadi polisi merupakan profesi mulia juga bergengsi. Pekerjaannya tidak sekadar menangkap dan menghukum para pelaku kriminal. Apalagi memukul dan mencekik orang-orang tidak bersalah. 
Sebagiamana diketahui polisi memiliki 3 tugas pokok diantaranya,  memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, menegakan hukum, dan memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat.

Di dalam Islam, tugas yang diemban polisi merupakan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Wajar jika polisi menjadi institusi yang berwibawa dan disegani masyarakat. Sudah selayaknya tugas pokok mereka senantiasa dikembalikan atas landasan Islam. 

Karenanya perlu tindakan tegas agar kejadian ini tidak berlanjut dan mengembalikan kepolisian pada tugas dan fungsi yang seharusnya. Polisi yang melakukan kekerasan sudah sepantasnya mendapatkan hukuman setimpal.[MO/sr]


Oleh: Aishaa Rahma

Mediaoposisi.com- Kemajuan teknologi saat ini ternyata tidak berbanding lurus dengan kemajuan peradaban, semakin hari justru meningkat kian pesat saja dengan berbagai model masalah.  Kasus yang baru ini menghebohkan jagad maya adalah temuan dari direktur Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Lampung,  Dwi Hafsah Handayani, yang mengaku terkejut atas kondisi di sebuah SMP daerah Lampung. 

Dilansir TribunLampung.co.id, Selasa  (2/10/2018),  Hafsah mengatakan ada kejadian di salah satu SMP di Lampung terdapat 12 siswinya yang hamil. Siswi tersebut terdiri dari kelas VII, VIII, IX. Selain itu, Hafsah pun pernah melakukan survei ‘kecil’ ke apotek di sekitar kampus dan kos-kosan. Dari survei tersebut diketahui sekitar 100 kondom terjual dalam sebulan!

Kasus kenakalan remaja yang lain, terjadi di SMPN cikarang selatan yang membongkar jaringan mesum para pelajar yang tergabung dalam grup WhatsApp All Star, dimana grup tersebut beranggotakan 24 siswa-siswi dari berbagai kelas. Temuan tersebut terkuak ketika sekolah melakukan razia handphone milik para siswa. Berbagai konten porno, ajakan asusila hingga tawuran, menjadi topik dalam grup tersebut.

"Setidaknya ditemukan ada 42 video porno di grup WA itu. Kemudian ada ajakan mesum. Ajakan itu dikuatkan saat sang guru menelusuri lebih jauh dan ditemukan ada obrolan pribadi via WA yang mengajak berbuat mesum, siswa dan siswi yang masih satu sekolah," kata Komisioner KPAD Kabupaten Bekasi Muhammad Rozak, di Cikarang, Kamis (4/10).

Ditambah pula dengan maraknya komunitas LGBT di kalangan pelajar, semakin menambah deretan kebobrokan yang muncul.  Jika dulu masih tabu, kini sudah putus urat malu, seolah pilihan hidup yang patut diperjuangan.

Dilansir dari Tribunjabar.id (9/10/2018) ditemukan kelompok grup gay yang membuat warga dan orangtua resah. Berdasarkan hasil penelusuran tribun jabar, terdapat 4 grup gay di Facebook, bahkan satu diantara 4 grup tersebut di khususkan bagi siswa SMP dan SMA. Tak tanggung tanggung, jumlah 2 grup diantaranya beranggotakan lebih dari 2500 pengikut. 

Kondisi darurat akhlak ini sejatinya sudah ada sejak dulu dan belum mendapatkan penanganan yang tepat.   Beberapa berita di atas hanyalah contoh kecil, dan bukan tidak mungkin  ibarat gunung es yang nampak hanya puncaknya. Dan bisa jadi ada di lingkungan anak remaja di daerah yang dekat dengan sekitar  kita.

Persoalan yang semakin majemuk tak dapat dipungkiri karena pengaruh teknologi yang berkembang pesat, ditambah dengan kemudahan mengakses internet, para remaja sebagai penduduk digital saat ini begitu akrab dengan gadget, laptop, smartphone dan media lainnya. Sayangnya hal tersebut tidak menjadi perkara serius bagi para orangtua. 

Ortu dari generasi ini gagap menyikapi  perubahan jaman. Tanpa kesiapan menghadapi bahaya yang bersumber dari media digital yang mengancam anak anak mereka.  Bahkan –kadang- orangtua hadir sebagai racun dengan memfasilitasi tanpa diimbangi dengan pengetahuan akan bahaya di balik gadget dan media digital yang lain.

Munculnya generasi muda yang pemikirannya masih karbitan, dengan wujud fisik  yang dewasa tapi kejiwaan tak tumbuh sesuai usia.  Bisa jadi banyak disumbang oleh faktor keluarga yang salah asuh seperti di atas.  Mereka tak mendapat hadlanah (pengasuhan) yang benar dari orangtua, malah digantikan oleh perangkat digital sebagai nany.

 Lebih-lebih, pemikiran sekulerisme yang merebak di masyarakat, karena negara menerapkannya secara sistemik.  Inilah biang kerok paling layak ditunjuk sebagai penyebab lain dari kerusakan yang menggerus remaja era digital ini.   Karena telah memformat mereka agar jauh dari nilai spiritual dengan mengobrak abrik fitrah yang paling mendasar, yaitu pemenuhan biologis dengan alasan yang jauh dari logis!.

Bahkan maraknya kampanye kesehatan imbas dari pola kebebasan ternyata bukan membuat efek jera, malah menambah deretan sosialisasi yang salah kaprah.  Dengan mengenalkan alat kontrasepsi pada belia, atau seminar seminar tentang pacaran sehat. Gila bener! 

Walaupun telah nyata cacat moral yang menjamur pada generasi millennial ini, namun secara faktual masih banyak yang tidak peduli dan menolak upaya perluasan makna zina dan upaya kriminalisasi L6BT.   Dengan keras kepala mereka pun membela bentuk pornografi dan pornoaksi dengan dalih Hak Asasi Manusia (HAM). Seolah perawan di era sekarang termasuk manusia yang jadul alias ketinggalan jaman.

Perlu Komitmen Keluarga
Sudah tak dapat dipungkiri, kecanggihan teknologi telah menimbulkan problem serius bagi keluarga muslim. Menjauhkan dari pornografi begitu susah apalagi memberantasnya. Dibutuhkan komitmen yang kuat untuk membentengi keluarga dari ancaman multilateral. Meskipun negara memiliki undang undang ITE (Informasi Teknologi dan Elektronika) maupun KPI (Komisi Penyiaran Indonesia), bahkan keberadaan LSF (Lembaga Sensor Film), ternyata belum sanggup menghentikan pornografi masuk kedalam celah celah keluarga.

Persoalan teknologi sendiri sudah menyulitkan pemerintah dalam melakukan pengawasan internet. Meskipun sebenarnya persoalan mendasar dari pornografi yang tak ada habisnya hingga kini, tak lain karena kesalahan pada ideologi yang  diterapkan di tengah masyarakat. Sebab batasan-batasan yang ditentukan oleh pemerintah jelas disusupi ide sekulerisme dengan hasil rancangan yang memiliki berbagai kepentingan (profit). Lihat saja tayangan film, iklan dan fashion, seolah menjadi kultur budaya ketimbang menganggap pornografi maupun pornoaksi sebagai aib yang meremukkan sendi peradaban.

Sungguh saat ini keluarga adalah benteng terakhir, menjaga generasi.  Allah telah berfirman :

"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkanNya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan" (TQS. At-Tahrim: 6).

Perlu komitmen di keluarga muslim untuk menjauhkan diri dari bahaya yang mengintai. Tidak hanya media, tapi seluruh pemikiran dan peradaban rusak yang dibawanya. Untuk itu mereka perlu mewujudkan 8 (delapan) fungsi keluarga muslim ideal yaitu fungsi reproduksi, ekonomi, sosialisasi, protektif, rekreatif, efektif, edukatif,  relijius (Islam kaffah). 

Dari keluarga ideal yang selalu mengkaitkan dan mengupayakan amalnya sesuai Islam maka akan lahir generasi unggul yang tak mudah silau oleh gaya hidup dan kemajuan teknologi jaman now.  Malah akan menjadi anak muda yang bijak menyikapi kemajuan.

Namun ketika kesadaran akan pentingnya peran keluarga pun tergerus oleh keadaan,  bahkan dipaksa terabaikan oleh sistem Kapitalis demi alasan pertumbuhan ekonomi. Di mana para ibu dan ayah sama-sama didorong keluar mencari nafkah, di sinilah mengapa selalu dipahami bahwa tak pernah cukup berharap pertahanan itu di keluarga saja. Merubah sistem yang rusak ini harus menjadi agenda keluarga muslim berikutnya, agar generasi keturunan kita terselamatkan dari peradaban jahiliyah yang diselimuti istilah modern kini.

Sistem Islam (Khilafah) dengan seperangkat sistem pendidikan, sistem ekonomi, sistem persanksian, juga sistem pergaulan (sosial) antara laki-laki dan perempuan yang menjaga marwah (kehormatan) keduanya. Sistem ini adalah sebuah perlindungan ideal bagi generasi, agar tumbuh menjadi generasi yang tak gagap terhadap kemajuan teknologi. Sekaligus cerdas, dewasa dan bijak mengendalikan prilakunya. Patokannya ideologi Islam.

Maka tunggu apalagi, kita harus bersegera mencampakkan sistem dan peradaban sampah yang merusak dari Barat Imprealis.  Karena merancang solusi dengan tetap mepertahankan biang kerok masalahnya, bagaikan pungguk merindukan bulan. Hanya dengan Islam akan dituai solusi paripurna.  Insha Allah.[MO/sr]