Lapas Sukamiskin Bandung

Mediaoposisi.com-Maling tidak selalu mendekam di penjara yang sempit tergantung kelas maling tersebut.perlakuan Maling ayam berbeda dengan maling Berdasi,barang tentu karena maling ayam tak layak secara finansial tinggal di Lapas yang mewah.

Beda halnya dengan Maling uang rakyat.Sel nya mewah setara dengan tebal dompetnya nya.

Sel mewah NAPI Lapas Sukamiskin adalah surga bagi para koruptor dikabarkan  tipe kamar di Lapas Sukamiskin memiliki ukuran beragam.

Sel yang kecil variasi ukurannya sebesar 250 cm x160cm, 250cm x 157 cm, 252 cm x 160 cm, 257cm x 156 cm. Ruangan ini kebanyakan berada di lantai bawah. Totalnya ada 463 sel, 122 di antaranya masih tidak berpenghuni.

Lalu, sel berukuran sedang variasi ukurannya 309 cm x 250cm, 323cm x 240 cm, 325cm x 245cm. Kamar sel ini berada di lantai dua Lapas Sukamiskin dengan total 41 sel, dua sel di antaranya tidak berpenghuni.

Terakhir, sel yang berukuran besar, variasinya seluas 324cm x 250 cm, 329cm x 250 cm, 330cm x 252cm dan 540cm x 247cm. Total keseluruhan sel besar ini 52 ruangan, dua di antaranya tidak berpenghuni.

"Sekarang kamar yang besar dan sedang ditempati tidak hanya napi tipikor, tapi terpidana umum juga ada," ujar Tejo di Lapas Sukamiskin, Jalan AH Nasution, Kota Bandung, Senin (17/9/2018).[MO/an]





Oleh: Nur Syamsiyah
"Mahasiswi Ekonomi Syariah UIN Malang"


Mediaoposisi.com-Rupiah kembali terseok. Dolar Amerika Serikat (AS) menghantam rupiah pada level Rp 15.029. Seperti dikutip TribunWow.com dari laman Kursdollar.net, nilai tukar rupiah tembus mencapai Rp 15.029 per dolar AS pada pukul 19.20 WIB di hari Selasa (4/9).

Sebelumnya, mengutip data perdagangan Reuters, Selasa (4/9), hingga pukul 11.54 WIB, dolar AS berada pada posisi tertingginya di Rp 14.897. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap doar AS ini diperkirakan berlangsung hingga akhir tahun 2018.

Secara year to date (ytd) atau dari awal tahun hingga saat ini, dolar AS sudah menguat terhadap rupiah sebesar 9,8 persen. (Kumparan.com, 4/9/2018)

Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Piter Abdullah memang mengatakan, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bisa tembus Rp 15.000 hingga akhir tahun jika tekanan terus berlanjut. Namun untuk mengatasi hal tersebut, Piter mengatakan, Bank Indonesia (BI) akan secara penuh menggunakan seluruh instrumen untuk mengendalikan rupiah, salah satunya adalah penggunaan tingkat suku bunga.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bima Yudhistira menilai pelemahan rupiah ini sudah di luar fundamentalnya. Bima mengatakan, pelemahan rupiah terhadap dolar AS jelas berisiko ke utang. Selisih kurs yang ditanggung pemerintah muncul saat pembayaran kewajiban jatuh tempo utang. (Liputan6.com, 1/9/2018)

Berdasarkan data SULNI BI, kewajiban pembayaran utang luar negeri pemerintah yang jatuh tempo pada tahun 2018 mencapai USD 9,1 miliar yang terbagi menjadi USD 5,2 miliar pokok dan USD 3,8 miliar bunga. Apabila dihitung dalam kurs rupiah, utang luar negeri yang jatuh tempo di tahun 2018 sebesar Rp 136,8 triliun yang terbagi menjadi Rp 78,2 triliun pokok dan 58,6 triliun bunga.

Persoalan ekonomi akibat tidak stabilnya nilai tukar yang bergerak fluktuatif telah berlangsung sejak sistem moneter yang diterapkan di dunia ini berupa fiat money, dimana mata uang kertas tidak ditopang oleh emas untuk dijadikannya sebagai alat tukarnya.

Secara politis langkah yang dilakukan oleh AS untuk menghentikan pengkaitan dolar dengan emas adalah didorong oleh keinginan AS untuk memposisikan dolar sebagai standar moneter internasional hingga menguasai pasar moneter internasional. Oleh sebab itu, standar emas kemudian dianggap tidak lagi dapat dipergunakan di dunia.

Sejak itulah kurs pertukaran mata uang terus berfluktuasi, berbagai kesukaran bermunculan dalam mobilitas barang/jasa dan mata uang dunia menjadi tidak stabil. Krisis finansial saat ini dan sejumlah krisis sebelumnya semakin memperjelas bahwa sistem moneter saat ini yang menggunakan mata uang kertas (fiat money) sangat rapuh dan tidak layak untuk diadopsi.

Sementara itu, sistem transaksi mata uang saat ini tak pernah luput dari praktek riba, khususnya dalam hal utang berbasis bunga yang tak akan ada habisnya. Mengutip dalam artikel Larry Hannigan yang berjudul “Saya Menginginkan Seluruh Dunia Plus 5%”, sebuah ilustrasi yang mudah untuk dicerna mengenai bagaimana dunia telah ditipu habis-habisan oleh sistem transaksi uang kertas dan koin yang berlaku saat ini. Inilah yang disebut dengan model penjajahan baru dunia tanpa senjata dan darah.

Islam mewajibkan pemakaian mata uang yang memiliki harga secara intrinsik, yakni logam-logam mulia yang mengandung nilai ekonomi pada dirinya sendiri. Mata uang dinar dan dirham adalah mata uang yang dipakai di berbagai negara di dunia di masa lalu. Kekuatan dinar dan dirham ini telah terbukti mampu menjaga kestabilan perekonomian. 

Melihat penggunaan mata uang kertas (fiat money) saat ini, selalu menyebabkan terjadinya inflasi yang bergerak cepat, tingkat suku bunga menjadi naik, harga-harga barang mengalami perubahan dengan sangat drastis, tingkat konsumsi masyarakat menurun, produksi dari industri juga menurun, beberapa karyawan di PHK, sehingga taraf pengangguran semakin meningkat dan angka kemiskinan bertambah.

Maka sudah layaknya, saatnya kita kembali pada kekuatan mata uang yang bersandarkan pada dinar dan dirham dengan menegakkan isnstitusi penerap hukum-hukum Islam termasuk sistem moneter berbasis emas dan perak di dalamnya.[MO/an]


Oleh: Tri S, S.Si
"Penulis adalah Pemerhati Perempuan dan Generasi"


Mediaoposisi.com-Politik menjadi sebuah perkara yang mendorong banyak orang untuk memberikan perhatian padanya dewasa ini. Jika angin politik berhembus, semua telinga ingin mendengarnya dan semua mulut ingin berkomentar.

Permasalahan politik sudah dianggap satu hal yang urgen dalam kehidupan, maka dimanapun dan kapanpun orang siap mendiskusikannya; di kantor, warung kopi, bahkan di masjid sekalipun. Tribunnews.com (30/5/2016).

Sayangnya, politik sering dipahami hanya sebatas alat untuk meraih jabatan di pemerintahan. Sehingga apabila ada tokoh-tokoh agama yang berpolitik dianggap tidak wajar.

Padahal politik itu sangat luas maknanya. Bahkan, dalam kehidupan sehari-hari, kita selalu berpolitik; seorang penjual grosiran, dia akan berpolitik bagaimana dagangannya banyak laku, yang disebut dengan politik ekonomi.


Seorang kepala keluarga yang keluar rumah mencari kebutuhan keluarga, dia juga berpolitik bagaimana caranya kebutuhan keluarga terpenuhi. Seorang redaktur instansi pendidikan dia akan berpikir bagaimana caranya agar tempat belajarnya banyak diminati orang, yang disebut dengan politik pendidikan.


Seorang ulama, ketika mendapatkan sebuah permasalahan keliru yang dilakukan oleh sekelompok masyarakat di suatu tempat, ia ingin membenarkannya, maka ia berpikir bagaimana caranya agar apa yang ia sampaikan nanti dipercaya oleh mereka disebut dengan politik syariat (siyasah syar’iyah).

Dalam Islam ulama memegang peran penting dalam mensejahterakan manusia. Ulama diharapkan mampu menyusun konsep-konsep menuju kebahagiaan dunia akhirat yang kemudian pemerintah menyuruh rakyat untuk mengaplikasikannya.

Semua konsep-konsep yang disusun oleh ulama itu disebut dengan politik ulama. Namun apabila konsep-konsep itu para ulama ingin menerapkan sendiri dalam kehidupan masyarakat, yang mengharuskan dia mendapatkan jabatan penting dalam pemerintahan, disebut dengan ulama berpolitik.

Islam merupakan sebuah agama yang mengatur semua aspek kehidupan manusia. Islam tidak hanya mengatur hubungan hamba dengan Rab-nya, tapi juga mengatur hubungan sesama manusia. Apapun masalah yang dihadapi manusia baik yang berkaitan dengan dunia atau akhirat mereka, Alquran dan hadis menjadi pedoman bagi kehidupannya. 

Karena itu Rasulullah sawdalam sebuah hadis menegaskan:”Aku tinggalkan untukmu dua perkara, siapa saja yang berpegang teguh pada keduanya maka tak akan sesat selama-lamanya, yaitu Alquran dan Hadis.”

Dalam Alquran dan Hadis terdapat beragam solusi untuk mewujudkan kebahagiaan,

ketentraman, dan kesejahteraan dalam kehidupan. Akan tetapi tidak semua orang mampu menggali pesan dalam Alquran dan hadis yang masih bersifat konsep, maka butuh kepada para ulama. Merekalah yang mampu menguak makna-makna tersirat (implisit) dalam setiap ayat Alquran. 

Merekalah yang mengorbitkan hukum, cara hidup yang baik berdasarkan tuntunan Alquran dan hadis tadi. Tugas ulama bukan hanya sekedar memahami dan menggali pesan-pesan yang dikandung dalam Alquran dan hadis. Tapi juga memikirkan bagaimana sebuah hukum bisa teraplikasi dalam sebuah komunitas masyarakat. Bagaimana cara menerapkan sebuah hukum yang akan berat diterima oleh sebuah masyarakat yang masih jauh dari agama atau baru masuk Islam. Yang semua ini dinamakan dengan politik ulama dalam mensejahterakan kehidupan manusia.

Ketika sekelompok manusia berkelahi atau bertikai karena sebuah permasalahan yang mereka hadapi, atau karena satu hal yang sedang mereka perebutkan, di sini para ulama berperan sebagai pemberi solusi atas permasalahan yang sedang dihadapi umat. Solusi yang dipikirkan ulama untuk membuat dua kelompok yang sedang rebut tadi agar berdamai dinamakan dengan politik ulama.

Islam dan politik adalah dua hal yang integral. Oleh karena itu, Islam tidak bisa dilepaskan dari aturan yang mengatur urusan masyarakat dan negara, sebab Islam bukanlah agama yang mengatur ibadah secara individu saja.

Namun, Islam juga mengajarkan bagaimana bentuk kepedulian kaum muslimin dengan segala urusan umat yang menyangkut kepentingan dan kemaslahatan mereka, mengetahui apa yang diberlakukan penguasa terhadap rakyat, serta menjadi pencegah adanya kedzaliman oleh penguasa.


Rasulullah pernah bersabda: “Barangsiapa di pagi hari perhatiannya kepada selain Allah, maka Allah akan berlepas dari orang itu. Dan barang siapa di pagi hari tidak memperhatikan kepentingan kaum muslimin maka ia tidak termasuk golongan mereka (kaum muslimin).”

Maka jika ada yang mengatakan bahwa Islam tidak usah berpolitik, adalah salah besar

karena berpolitik adalah hal yang sangat penting bagi kaum muslimin. Jadi kita harus memahami

betapa pentingnya mengurusi urusan umat agar tetap berjalan sesuai dengan syari’at Islam.

Terlebih lagi memikirkan/memperhatikan urusan umat Islam hukumnya fardhu (wajib). [Mo/an]



Oleh : Eva Yulia

Mediaoposisi.com-Law-Justice.co -Kasus kekerasan seksual di Indonesia, terutama yang menimpa kaum perempuan terus meningkat dalam dua tahun terakhir. Pada 2017 dari  90.000 kasus yang dilaporkan 173 diantaranya menyebabkan kaum perempuan meninggal karena tindak pidana semacam ini.

Sementara LBH Apik mencatat  setidaknya terjadi 573 kasus kekerasan seksual pada 2015. Setahun kemudian angka ini melonjak hingga 854 kasus.

Sudah banyak pelaku kejahatan seks sedang menjalani hukuman di masing-masing penjara seluruh Indonesia dijerat ayat-ayat dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 (Undang-Undang Perlindungan Anak).

Kali ini terjadi lagi dengan kasus yang sama tetapi dengan cara yang berbeda Depok - Mahasiswi korban peremasan payudara di Depok tidak hanya satu kali mendapat perlakuan tidak senonoh dari pelaku. Pelaku juga memperlihatkan kemaluannya kepada korban. (detiknews)

Hal itu terungkap berdasarkan keterangan korban saat olah tempat kejadian perkara (TKP) di Jalan Taman Indah I, Gang Swadaya II, Tugu, Cimanggis, Kota Depok. Saat itu, korban hendak masuk ke gang lalu berpapasan dengan pelaku yang ke luar gang.

Namun pertanyaan besarnya mengapa korban terus bertambah. Boleh jadi  para pelaku buta atas hukuman yang akan menimpa dirinya.  Akan tetapi tak menutup kemungkinan pula bila para pelaku  memiliki uang dan kekuasaan sehingga kebal hukum.

Wajar jika sistem demokrasi kapitalis ini mengakibatkan kekerasan seksual semakin meningkat, karena sistem ini adalah sistem yang memberi kebebasan sebebas-bebasnya. Apalagi untuk perempuan yang menjadi tontonan setiap saat di acara-acara televisi bahkan iklan-iklan  kebanyakan perempuan yang mempromosi suatu barang dengan mengumbar aurat.

Pacaran  juga dianggap suatu hal  yang biasa tapi apa yang terjadi banyak fakta bahwa dari pacaran itulah kekerasan semakin mudah dilakukan, mulai dari pemerkosaan, pembunuhan bahkan anak diluar nikah dan ujung-ujungnya wanita yang menjadi korban, jadi wajar jika kasus pelecehan seksual terbanyak adalah wanita.

Kerusakan-kerusakan yang meluas di tengah masyarakat seperti kejahatan-kejahatan, perampokan, pembunuhan dan sebagainya maka tak lepas dari peran wanita, tentu tidak sepenuhnya tapi faktor ini tidak bisa kita abaikan. Baik tidaknya suatu masyarakat bisa dilihat dari keadaan wanita-wanita ditengah masyarakat tersebut. Bukankah sudah familiar ditelinga kita akan pribahasa “ibu adalah tiang negara”. Jika wanita rusak maka hancurlah Negara tersebut.

Beginilah hidup dengan aturan-aturan yang dibuat oleh manusia dan dilanggar lagi oleh manusia. Semua jelas terjadi, tidak ada ketentraman, tidak ada kebaikan, tidak ada lagi rasa malu, tidak ada rasa takut kepada Sang Pencipta.

Islam sangat memuliakan wanita, islam pun menjaga kaum wanita dari segala yang dapat menodai kehormatannya, menjatuhkan wibawa dan merendahkan martabatnya. Islam menempatkannya sebagai makhluk yang paling mulia yang harus dijaga. Atas dasar inilah kemudian sejumlah aturan ditetapkan oleh Allah swt, agar kaum wanita dapat menjalankan perannya sebagai pendidik umat generasi mendatang.

Di antara aturan yang khusus bagi wanita adalah aturan dalam pakaian yang menutupi seluruh tubuh wanita. Aturan ini berbeda dengan kaum laki-laki. Allah memerintahkan demikian agar mereka dapat selamat dari mata-mata khianat kaum laki-laki dan tidak menjadi fitnah bagi mereka.

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnyake seluruh tubuh mereka.Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzâb [33]: 59)

Wanita pun diperintah oleh Allah untuk menjaga kehormatan mereka di hadapan laki-laki yang bukan suaminya dengan cara tidak bercampur baur dengan mereka, lebih banyak tinggal di rumah, menjaga pandangan, tidak memakai wangi-wangian saat keluar rumah, tidak merendahkan suara dan lain-lain.

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى

Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu.” (QS. Al Ahzâb [33]: 33)

 Semua syariat ini ditetapkan oleh Allah dalam rangka menjaga dan memuliakan kaum wanita, sekaligus menjamin tatanan kehidupan yang baik dan bersih dari prilaku menyimpang yang muncul akibat hancurnya sekat-sekat pergaulan antara kaum laki-laki dan wanita.

Merebaknya perzinahan dan terjadinya pelecehan seksual adalah diantara fenomena yang diakibatkan karena kaum wanita tidak menjaga aturan Allah diatas dan kaum laki-laki sebagai pemimpin dan penanggungjawab mereka lalai dalam menerapkan hukum-hukum Allah atas kaum wanita.[MO/sr]


Oleh:Dewi Nasjag
(anggota akademi menulis kreatif)

Mediaoposisi.com-Tak lekang oleh jaman, ternyata para pembenci Islam selalu eksis. Yang beda cuma casing. Dulu ada Abu Jahal, sekarang ada Abu Janda dll.

Masih  viral  pemberitaan tentang pembatalan ceramah  dari salah satu ulama kondang tanah air, Ustadz Abdul Somad (UAS), beliau mengaku  memilih membatalkan ceramahnya di beberapa tempat  karena mendapatkan intimidasi dari pihak tertentu.   Itu disampaikan pada akun instagram dan facebook miliknya,  Lantas  menyusul  beberapa pemberitaan terkait  yang juga viral di berbagai media.

Dilansir dari  cnn.indonesia.com (9/9/2018) bahwasanya sehubungan UAS akan mengisi ceramah di Tangerang Selatan, Kapolres Tangerang selatan, AKBP Ferdy Irawan memberi catatan  kepada UAS agar tidak berceramah  soal politik .  Fokus pada  perihal agama saja.

Catatan  senada juga disampaikan oleh Wapres,  Jusuf Kalla (JK) yang menghimbau UAS untuk mengevaluasi kembali materi ceramah agar tak menuai  banyak pro dan kontra di masyarakat (cnn.indonesia.com , 4/9/2018).
Allah Ta’ala berfirman:

يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya.” (QS. Ash Shaf (61): 8)
Ayat di atas layak  disematkan kepada  para elit penguasa yang layaknya Abu Jahal kekinian.

Karena telah dengan  terang benderang melarang  Ulama untuk tidak membawa-bawa politik  ketika berdakwah .  Para elite berpendapat  bahwa Islam  itu sudah suci jadi  tak perlu ikut campur dan mengatur politik . Agama ya agama dan politik ya politik . sungguh ini merupakan  _"keseleo statement"_ yang akan bikin masyarakat meradang .

Ya… karena  ini artinya   sama saja  dengan mengatakan bahwa Islam bukanlah agama yang sempurna dan paripurna.

Sejatinya, Islam adalah agama yang syammil mutakammil (sempurna dan paripurna),. Islam tidak melulu mengatur masalah ibadah ritual . 

Tapi  juga mengatur seluruh aspek kehidupan  antara lain : Sosial, Ekonomi, Pendidikan, dan Politik.  Islam telah mengatur  sampai pada tataran yang sangat detail dalam kehidupan manusia.   Disinilah  letak keistimewaan dan kesempurnaan islam.

Sebagai agama politik sekaligus  ideologi , Islam menjadi jalan hidup yang  memberikan arahan  dan tuntunan kepada manusia, dalam segala hal.   Sehingga Islam tidak akan pernah bisa jauh dari politik.  Politik Islam , tentunya.

Jika para elit penguasa  melarang ulama agar tidak berceramah politik dan hanya membolehkan  Ulama membicarakan  urusan ibadah ritual saja, Lantas apa bedanya  agama  Islam dengan agama lain?!

Melarang Ulama bicara politik berarti menolak serta mengamputasi  sebagian ajaran Islam . Sungguh  pelarangan tersebut merupakan  upaya sekulerisasi (pemisahan) massif yang menyingkirkan peran Islam dalam pengaturan kehidupan.

Sekulerisasi Penyebabnya
Sekulerisasi adalah upaya menjadi kan kehidupan jauh dari agama . Sekularisasi , membebaskan  manusia dari agama dan metafisik. Sehingga manusia hanya akan mengedepankan urusan  kehidupan duniawi tanpa perduli  lagi tentang kehidupan ukhrowi . Manusia pun terdorong  untuk  bebas  berprilaku hanya  berdasarkan hawa nafsu.

Itulah cara pandang yang mendasari mereka mengkritik Ulama yang berpolitik atau mebawa konten politik dalam ceramahnya. Sekuler.  Mereka tak mau agama ikut campur urusan pemerintahan atau pengaturan masyarakat.

Padahal itulah sumber penyebab atas berbagai  keterpurukan dan kerusakan .  Sebagaimana kita tau telah begitu banyak problema  yang terjadi di negeri ini .  Kasus  korupsi yang makin tumbuh subur, narkoba yang menjamur di setiap kalangan, kenakalan remaja dimana mana, pelacuran,  seks bebas berikut praktik aborsi , pembunuhan dan tindakan  kriminalitas lainnya.

Disadari ataukah tidak  kesemuanya adalah keniscayaan  fakta akibat  sekularisasi .  Seharusnya masyarakat tidak boleh alergi politik, sebaliknya harus melek  politik .yang tentunya adalah politik  Islam,  yang benar,

Sebenarnya, Politik di dalam Islam bukan lah politik pragmatis  seperti yang terjadi sekarang. Saling adu rebut kekuaasan yang dengan kekuasaan tersebut  dijadikan sebagai alat untuk meraup kekayaan tanpa peduli tentang nasib rakyatnya

Politik dalam Islam  tidak lain- adalah ri'ayatusy syu'unil ummah dakhiliyan wa kharijiyan bi hukmin mu'ayanin (mengatur urusan umat , baik di dalam negeri atau luar negeri dengan hukum tertentu).  Hukum dalam hal ini , yaitu  syariat Islam yang akan membawa keberkahan pada seluruh alam.
Bukankah negeri ini adalah negeri yang  mayoritas penduduknya  beragama Islam.  Lantas apa yang ditakutkan dari Ulama yang berceramah politik islam?!

 "Buta Terburuk Adalah Buta Politik"
Orang yang buta politik sebenarnya adalah buta segalanya,dia tidak mendengar,tidak melihat dan tidak mengambil andil dalam peristiwa. Dia  akan begitu dungu dengan  mengatakan"aku benci politik!".Sungguh  kalimat yang  justru melahirkan kerusakan dan memicu  para penjajah  berbondong bondong datang   menjarah negeri ini _with very easy absolutly.

"Orang Islam yang tidak peduli pada politik, akan dipimpin oleh politisi yang tidak peduli pada Islam "

Ada benarnya perkataan Erbakan (mantan PM Turki) ini . Sebenarnya sudah kita rasakan di era Demokrasi,Kapitalisme-Sekularisme, di mana umat Islam yang mayoritas namun serasa minoritas. Betapa tidak, Islam selalu dilabeli Radikal  , dikatakan Teroris, ceramah  dibatasi , dakwah di bungkam , sekolah-sekolah Islam dicurigai dan masih banyak lagi bentuk bentuk diskriminasi tehadap  Islam dan umat mayoritas.

Duh gusti… Sebagai umat Islam mbok ya  jangan alergi politik. Agar umat Islam bangkit kembali, tak terpuruk tak terjajah,dan  tak terpecah belah  memang tak bisa ditempuh dengan  cara kompromi, melainkan  hanya dengan dakwah politik.  Para ulama harus ambil bagian mejelaskan Islam sebagai agama politik yang mengatur seluruh aspek kehidupan. Hanya itu cara yang hakiki. Berdakwah Islam  kaffah sesuai metode Nabi.  Perjuangkan syariat Islam agar  tegak kembali  Jadi  , why not dakwah politik.[MO/sr]