Oleh: Nasrudin Joha

Mediaoposisi.com-Mereka merintih menahan sakit, berteriak meminta pertolongan, kepada siapa ? Kepada kaum muslimin yang dinyatakan Nabi sebagai saudara mereka. Mereka, sampai memilih mati ketimbang dalam penyiksaan, karena penderitaan hebat akibat tiran komunis China.

Mereka menuntut, atas akidah Islam yang mereka yakini, pertolongan kaum muslimin. Mereka, adalah putra-putra turkistan timur, yang memeluk akidah Islam karena kebenaran risalah ilahi. Lantas, Kemanakah saudara mereka ? Kemanakah milyaran umat Islam ?

Mereka merasakan penderitaan hebat, yang tak dapat terbayangkan oleh akal. Disetrum, dilindas, dijepit, di congkel, muslimahnya diperkosa, dijarah harta bendanya, dihinakan kemuliaannya, lantas kurang apa lagi wahai umat Islam ?

Kalian kah, yang mengaku cucu-cucu Hamzah ? Kalian kah, yang mengaku cucu-cucu Umar Bin Khatab ? Kalian kah, yang mengaku cucu-cucu Muhammad Al Fatih ? Kalian kah, yang mengaku cucu-cucu Sholahudin Al Ayyubi ?

Lantas dimana kalian, ketika saudara kalian di Uighur memekik memohon pertolongan ? Kemanakah kalian ketika teriakan itu memekakkan telinga ? Apa hanya karena muslimah itu bukan puteri kalian ? Bukan istri kalian ? Bukan saudari kalian ? Wallahi, bangkitlah wahai umat Islam !

Kalian lihat, para penguasa negeri muslim hanya sibuk berpesta, mempertahankan kuasa, berleha di singgasana dan peraduan, menumpahkan berahi diatas bangkai penderitaan umat. Kalian saksikan, para penguaaa zalim itu tidak menggerakkan tentara, pasukan, pesawat tempur, senjata, untuk menolong saudara seiman.

Mereka, hanya menggunakan tentara dari putra terbaik Islam menjadi satpam kekuasaan. Menjaga istana dan singgasana mereka, dan melupakan darah dan kehormatan kaum muslimin.

Karena itu, wahai umat Islam bersuaralah ! Penuhi setiap sudut jalan dan bibir-bibir istana dengan tuntutan pembelaan saudara muslim di Uighur. Bersuaralah lantang, hingga menekankan telingan penguasa dan membimbing bibir mereka untuk mengunggah ungkapan pembelaan kepada saudara seiman.

Sakit sekali batin ini, melihat saudara seiman disakiti tetapi penguasa di negeri ini dan belahan bumi yang lain hanya diam seribu bahasa. Rindu sekali sosok Khalifah Umar Bin Khatab, Umar Bin Abdul Azis, Al Mu'tashim Billah, atau Sultan Abdul Hamid II yang benar-benar berkhidmat membela dan melayani umat.

Karena itu wahai umat Islam, khilafah lah solusi atas seluruh problematika yang mendera kalian. Khalifah, akan sangat mudah membuat instruksi jihad untuk membela saudara muslim yang dizalimi, tidak perlu banyak berdebat tanpa solusi tuntas.

Ketika khilafah berdiri, seluruh kaum muslimin berada pada perlindungan khilafah. Tak akan terjadi, penghinaan oleh antek sosialis China atau kapitalis barat dan Amerika yang berani menghina Islam, kecuali Khalifah pasti akan membuat perhitungan.

Karena itu, wahai umat Islam saling menolonglah kalian untuk menegakkan kekuasaan Islam. Bersumpahlah ! Bahwa kalian hanya akan memberikan loyalitas kepada Islam, bukan yang lain.

Berikrar lah ! Mengunggah semangat persatuan, untuk mewujudkan bisyaroh Nabi, tegaknya Daulah Khilafah Rasyidah yang kedua. Insya-Allah, kalian akan mendapat pertolongan dan kemenangan. Allahu Akbar ! []


Oleh: Nasrudin Joha

Mediaoposisi.com-Kegalauan rezim makin tak terbendung, beberapa manuver blunder dan statement tdk penting, justru membawa rezim pada posisi yang makin sulit. Tempo, edisi terkini ikut membuly rezim, setelah sebelumnya loyal berkhidmat melafadzkan mantra 'Jokowi dua periode' ternyata tak ridlo jika harus mempertaruhkan kredebilitas di mata publik.

Oplah tempo langsung melejit, karena publik memang rindu berita yang nyata. Bagi publik, kenyataan kejatuhan Jokowi tidak bisa diganggu gugat. Ini merupakan keputusan yang final dan binding. Tidak ada banding, tidak ada kasasi.

Jokowi boleh berganti, tapi bisnis tak boleh sepi apalagi mati. Hanya Deny JA yang rela menukar kredebilitas dan masa depan dunia persurveyan demi Jokowi. Bahkan, terakhir telah nimbrung membuat Akademi Meme Indonesia, untuk mengidolakan Jokowi.

Beberapa telur tauke, sudah mulai diperhitungkan pindah keranjang. Menaruh telur di keranjang Jokowi, berpotensi gagal tetas, bahkan akan jadi telur busuk. Ini tidak menguntungkan, para cukong itu mau bisnis bukan mau berjibaku dalam politik membela klan dan marga politik tertentu.

Botoh-botoh politik juga mikir, dahinya berkerenyut. Berlayar bersama Jokowi ? Oke. Memancing ikan bersama Jokowi ? Oke. Tapi tenggelam bersama Jokowi, jelas ogah.

Beberapa partai mitra koalisi sudah mulai main belakang, hanya pemain baru dan picisan yang justru tampil didepan pasang badan. Golkar, tentu yang paling cerdik dan sensitif terhadap dinamika dan perubahan. Yang lain ? Boleh jadi baru sadar, setelah kaki terkilir dan ikut jatuh tertimpa tangga.

Bagaimanapun Golkar partai berpengalaman. Tidak mungkin Golkar, mau diatur strategi ala kebo yang minim akal, mengandalkan otot. Partai Kebo, boleh jadi 'dikerjai' disuruh bajak sawah politik sendirian. Jika lahan sudah siap, Golkar ikut menanam dan memanen.

Yang jelas, lonceng kejatuhan rezim makin nyaring. Hanya orang budeg dan buta (meminjam istilah Ma'ruf Amin), yang tak mengindera 'Alamatul Kubro kejatuhan rezim.

Rezim menjadi 'Common Enemy' dimana oposisi dan ormas, mengayunkan pukulan bertubi kepada rezim. Penghinaan terhadap SBY, memantik perlawanan sengit Demokrat. Serudukan kebo, menjadikan Demokrat tidak netral. Ya, Demokrat mengambil filosofis TKN Jokowi Ma'ruf, 'kami sudah lelah bertahan, kami akan menyerang'.

Kriminalisasi terhadap ulama, termasuk kepada Habib Bahar yang hari ini diperiksa di Polda Jabar, menguatkan posisi oposisi. Bisa jadi, perlawanan kolektif umat merambat secara alamiah, karena perasaan keislaman dan merasa selalu dizalimi.

Padahal, satu-satunya arus yang tak mampu dibendung TKN Jokowi adalah arus umat. Label 'rezim represif dan anti Islam' menjadikan rezim selalu menjadi pihak tervonis dalam berbagai diskursus keumatan. Isu Uighur, semakin menyudutkan posisi rezim -setelah diketahui kebijakan rezim- menghamba dan memuja China.

Sebentar lagi, rakyat berpesta, bersorak sorai seperti warga Cianjur yang merayakan kepala daerahnya ditangkap KPK. Angin perubahan itu semilir berhembus, aura kejatuhan rezim makin nampak. Dan, sebentar lagi akan ada masa depan cerah (MADECER) bagi negeri ini. []


Oleh: Nasrudin Joha

Mediaoposisi.com-Beredar luas di jejaring sosial media, wasiat dan amanat Habib Bahar Bin Smith (Allahu Yarham), yang meminta umat meneruskan perjuangan. Kabar, untuk antisipasi jika rezim ini menahan dzuriyat Nabi, membungkam kritik terhadap rezim.

Ketahuilah ! Kami pastikan, rezim ini akan mendapat bagian atas kezaliman yang telah dipermaklumkan, bahkan tidak menunggu alam akherat.

Di alam dunia ini, kami akan tunjukkan dan menghukum rezim -dihadapan muka rezim- bahwa apa yang diperbuat rezim, berupa penghinaan terhadap dzuriyat Nabi, melindungi para perusak Nasab, dan menghinakan siapapun yang melindungi Nasab, dengan menetapkan kriminalisasi terhadap Habib Bahar.

Wahai Nasab Bin Smith ! Ini bukan sekedar urusan kalian dengan rezim, tapi ini adalah urusan seluruh kaum muslimin. Sebab, baginda Rasulullah SAW telah berpesan, bahwa sesama muslim itu bersaudara, tidak boleh menyakiti, tidak boleh menzalimi dan tidak boleh menyerahkannya kepada musuh.

Kam tidak akan mengesampingkan sabda Baginda Rasulullah Saw:

“Perumpamaan mukmin dalam hal saling mencintai dan berkasih sayang adalah ibarat satu satu tubuh, apabila satu organnya merasa sakit, maka seluruh tubuhnya turut merasakan hal yang sama, sulit tidur dan merasakan demam.” (HR. Muslim).

Wahai Nasab Bin Smith, ketahuilah ! Kami ikut sakit ! Kami ikut marah ! Kami ikut demam memikirkan urusan ini. Kami, tidak akan biarkan rezim laknat ini memotong silsilah, merusak Nasab, menumpulkan akal orang yang lemah dan kemudian menjadikan warisan Rasulullah, Dzuriyat Nabi sebagai bahan olok-olok.

Wahai para mujahid Islam, bersiap siagalah di parit-parit perjuangan, jangan ada yang menepi sebelum musuh Allah SWT benar-benar mundur atau menjauh dari pertempuran. Haram ungkapan Syahid yang kalian rindukan, jika kalian lengah dan melemah, sementara rezim tiran ini siang dan malam mengawasi ulama kalian, habaib kalian, dan merancang makar untuk menghinakan kehormatan kalian.

Wahai rezim represif dan anti Islam, dengarkanlah jika saja telinga kalian tidak tuli dari nasehat. Kami nyatakan, haram mengambil hubungan dengan kalian, hingga kalian meninggalkan kezaliman kalian. Kami tidak akan tidur, kecuali selalu memikirkan untuk segera mendekatkan masa kejatuhan kalian.

Ingat ! Kekuasaan ada ajalnya ! Jika Allah SWT berkehendak, mudah saja Allah SWT potong kaki-kaki penopang kekuasaan kalian. Kami akan upayakan, kejatuhan itu lebih cepat dari yang kalian fikirkan. Kalian akan dihantui, dalam setiap mimpi dan baru sadar dan terjaga, padahal kalian telah kehilangan singgasana dan kekuasaan.

Allah SWT, akan mendengar dan mengabulkan doa orang teraniaya. Umat ini, di negeri mayoritas muslim ini, dizalimi oleh penguasa antek, rezim represif dan anti Islam. Karena itu, wahai umat Islam teruslah berdoa, memohon kepada Allah SWT agar kekuasaan zalim ini segera diangkat.

Katakanlah :”Wahai Allah Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kpd orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehedaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rizki kpd siapa yang Engkau Kehendaki tanpa hisab".(Qs Ali Imran (3) :26-27)[MO/ge]


Oleh: Nasrudin Joha

Mediaoposisi.com-Soal kejatuhan Jokowi, tidak bisa ditafsirkan secara persoanal individual. Tapi ini terkait rezim, klan politik, kekuasaan bisnis, sindicat asing, para kapital asing maupun aseng, para Bintang dan mantan Jenderal, kepentingan ideologi dan agama, satu geng besar yang berhimpun dibalik 'Koalisi Kerja'.

Kompensasi mendudukkan setiap klan atau individu dalam jabatan politik tertentu, direksi atau komisaris BUMN, Dirjen dan jabatan birokrat penting lainnya, konsesi Projek dan penguasaan SDA kepada para kapitalis asing maupun aseng, konsesi Projek infrastruktur, pastilah diberikan bukan tanpa pamrih. Mereka semua, harus berjibaku membela Jokowi. Sebab, kejatuhan Jokowi adalah kejatuhan mereka.

Jokowi gagal dua periode, berarti mereka juga gagal menikmati kue kekuasaan melalui konsesi yang selama ini telah mereka nikmati. Bahkan, mereka telah menyiapkan rencana untuk menikmati bangsa ini secara lebih 'dahsyat' lagi.

Karena itu, mereka harus setor peran. Peran hukum untuk memastikan politik hukum berjalan diatas kepentingan rezim. Peran jaringan, untuk memastikan stake holder mendukung rezim. Peran militer, untuk memadukan agar tentara tetap pasif dan Istiqomah menjadi satpam kekuasaan. Peran mantan Jenderal, agar tak memicu pergolakan di militer organik. Peran pemodal, memastikan ketercukupan logistik politik. Peran asing aseng, untuk membagi 'kavling jatah jajahan' di negeri muslim terbesar ini.

Karena itu, merobohkan Jokowi berarti harus mengangkat turut serta seluruh akar dan jaringan yang menopang rezim. Mereka, akan membela Jokowi laksana membela istri, anak dan keluarganya. Mereka, akan mengorbankan harta, pikiran, waktu dan tenaga, bahkan walau harus kehilangan sebagian tokoh-tokoh mereka, untuk memastikan kekuasaan Jokowi berlanjut.

Jika Jokowi roboh, berarti taruhannya jabatan mereka, posisi mereka, konsesi tambang SDA mereka, Projek-Projek mereka, kepentingan ideologi dan agama mereka, nasib dan masa depan mereka. Mereka, sudah sampai pada satu kesimpulan jika Jokowi kalah, maka itu berarti neraka bagi mereka.

Posisi mereka digeser, kasus hukum mereka diproses, Konsesi mereka diambil alih, sedangkan bagi pasukan nasi bungkus : tidak ada pesta lagi setelah Jokowi. Mereka, akan terkena imbas. Tidak ada lagi, gizi politik yang merembes kepada mereka, meskipun hanya berwujud nasi bungkus.

Karena itu, jelas ini pertarungan besar, ada geng Kurawa yang ingin terus mengangkangi negeri ini. Ada kumpulan preman politik yang tidak cakap mengelola negara, tapi kesombongannya sundul langit.

Ini sudah seperti perang paragrek, perang puputan, perang salib, jihad suci, bahkan ini sudah diujung 'ARMAGEDON'. Jika terjadi tsunami politik yang meluluhlantakkan bangunan klan Jokowi, maka itu sama saja kiamat bagi Jokowi n the gank.

Sekali lagi, ini bukan persoalan kecil, bukan perkara sepele. Ini perubahan besar, untuk memastikan rezim tercerabut dari akarnya. Saat itulah, pembalasan dimulai.

Setiap kezaliman wajib di Qisos, tidak menunggu di akherat tetapi didunia wajib segera ditunaikan. Anda bersenda gurau, jika menganggap kejatuhan rezim dapat ditempuh dengan modal 'cengengesan'. Ini serius Bung, ini persoalan antara 'the end' atau 'to began'. [MO/ge]]


Mediaoposisi.com-Bukan rahasia umum lagi memang, indonesia dengan kekayaan alamnya yang melimpah banyak menarik perhatian banyak orang untuk berinvestasi. Bahkan di era Jokowi-JK jumlah investasi mengalami peningkatan. Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Thomas Trikasih Lembong mengklaim tiga tahun pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Jusuf Kalla investasi Indonesia mengalami kenaikan signifikan.

“Kenaikannya 46 persen dari sebelumnya Rp463 triliun menjadi Rp678 triliun," kata Tom di kantor Staf Kepresidenan, Jakarta Pusat, Selasa (17/10/2017), (suara.com, Selasa, 17 Oktober 2017).
Di era Jokowi-JK walaupun naik turun, namun investasi asing terus tumbuh di era Jokowi-JK, (CNBC Indonesia, 28 Oktober 2018).

Tidak seperti di era sebelumnya, angka investasi asing yang masuk masih tergolong rendah, ternyata hal tsb dikarenakan rumitnya perizinan bagi investor asing.

Namun, di era Jokowi-JK perizinan tidak akan serumit di era sebelumnya, salah satu contoh dan yang paling diminati investor adalah layanan izin investasi 3 jam.
Belum lama, Jokowi mengeluarkan kebijakan bahwa investor asing bisa memiliki saham 100 persen di 54 bidang usaha, (TEMPO.CO, 17 November 2018).

Menurut pengamatan penulis dengan kebijakan ini, tentu saja semakin banyak serbuan investor asing yang berlomba-lomba menanamkan modalnya di Indonesia.

Lalu dengan banyaknya investor asing apakah akan semakin menguntungkan bagi Indonesia?
Alih-alih investasi, sebenarnya investasi adalah kedok para kafir penjajah untuk menguasai SDA negara lain. Berbicara tentang penjajahan, di Indonesia sendiri sudah terjadi sejak zaman kerajaan, namun karena pada saat itu, terjadi gejolak hingga peperangan di tengah-tengah masyarakat Indonesia, maka mereka saat ini mulai belajar dari pengalaman nenek moyang mereka.

Tidak akan bisa menguasai SDA negara lain dengan cara terang-terangan karena mereka paham betul pasti akan terjadi gejolak, maka dari itu mereka membuat strategi baru untuk mengeruk dan mengua-sai SDA negara lain yaitu dengan investasi.

Investasi asing atau Penanaman Modal Asing (PMA) merupakan bagian tak terpisahkan dari konspirasi untuk mengeksploitasi kekayaan kaum muslimin, dan ini termasuk cara keji untuk merampas kekayaan kaum muslimin. Begitupun dengan yang terjadi di Indonesia, mereka sedang mengeruk kekayaan alam negeri ini.

Dengan berlindung dibalik "topeng" investasi mereka dengan leluasa mengeruk kekayaan Indonesia. Apalagi ditambah dengan kebijakan pemerintah yang semakin liberal yang semakin memuluskan konspirasi jahat mereka untuk menguasai SDA negeri ini.

Dengan dalih memperbaiki pembangunan dan perekonomian, pemerintah membuka kran investasi selebar-lebarnya tanpa memikirkan dampak buruk yang ditimbulkan. No free lunch (tidak ada makan siang gratis), para pemodal tidak begitu saja yang menanamkan modalnya di negeri ini. Semua ada syarat-syarat yang harus dipenuhi yang tentu saja akan merugikan negara dan rakyatnya, apalagi penanaman modal asing berupa hutang dengan ribanya.

Lalu bagaimana pandangan islam tentang investasi asing atau penanaman modal asing? Untuk menilai baik buruknya sesuatu seyogyanya dengan standar syariah. Termasuk juga untuk menilai investasi atau penanaman modal asing (PMA).

Islam tidak melarang investasi, selama tidak bertentangan dengan hukum syara', dalam islam investasi harus berpedoman pada halal dan haram bukan asas manfaat. Namun, karena adanya arus globalisasi dan liberalisasi SDA di segala bidang ditambah dengan kebijakan pemerintah yang semakin liberal membuat investasi hanya berdasarkan asas manfaat, selama itu menguntungkan dan mendatangkan maslahat bagi kedua belah pihak, halal dan haram pun tidak diindahkan.

Sesungguhnya investasi asing merupakan uslub yang lahir dari fikroh kapitalisme, Dalam dunia kapitalis, nilai-nilai moral, kemanusiaan, apalagi agama tidak dijadikan perhitungan, bahkan tidak boleh dilirik. Moral, kemanusiaan, dan agama hanya dipakai jika dirasa menguntungkan. Jika tidak menguntungkan, buang!

Dimana pengusung dari uslub ini adalah Amerika. Ini merupakan salah satu cara AS untuk membuka pasar-pasar internasional bagi perusahaan-perusahaan multinasionalnya dan untuk mendominasi kekayaan dunia. Dan fenomena ini sudah ada sebelum runtuhnya Uni Soviet.

Dalam daulah islam, khalifah memiliki kebijakan dalam mengatur masalah investasi asing, Daulah akan menerapkan sistem ekonomi islam yang akan mengatur kepemilikan, pengelolaan kepemilikan, termasuk distribusi barang dan jasa ditengah-tengah masyarakat bukan itu saja negara juga memas-tikan berjalannya politik ekonomi dengan benar.

Adapun ketika negara mengalami situasi dimana harus membangun infrastruktur, baik karena ledakan penduduk, maupun keterbatasan sarana dan prasarana, maka negara memliki banyak pilihan.

Salahsatunya mengambil dana dari Baitul Mal, tanpa memungut dana masyarakat sepeserpun. Namun jika baitul mal tidak ada dana, maka harus dilihat apakah proyek infrastruktur tersebut  tersebut memang vital, karena satu-satunya fasilitas umum yang dibutuhkan,  maka negara mendorong partisipasi  public untuk berinfak.

Jika tidak cukup, maka kaum muslim laki-laki mampu dikenakan pajak khusus untuk membiayai proyek ini hingga terpenuhi. Dan pada saat yang sama, negara bisa mengajukan fasilias kredit, baik kepada negara maupun perusahaan asing, tapa bunga dan syarat yang bisa menjerat negara. Negara akan membayarnya dengan cash keras, setelah dana infak dan pajak tersebut terkumpul.

Namun, kebijakan ini ditempuh dalam kondisi yang sangat terdesak. Meski, kemungkinan ini sangat kecil.

Dengan adanya mekanisme pengelolaan yang benar dalam islam, kecil kemungkinan investor asing masuk dan menguasai SDA dalam negeri, tetapi bukan berarti pihak asing tidak boleh membuka usaha di dalam daulah, hanya saja ada batasannya.

Jika pihak asing yang ingin membuka usaha di dalam daulah islam adalah negara kafir harbi, maka jelas tidak boleh. Namun jika negara kafir mu'ahad dan hukman, negara memperbolehkannya dengan adanya izin dan syarat tertentu.

Dengan bersandar pada hukum syariah, mengelola kepentingan rakyat dan negara tidak ada yang dizalimi dan dirampas hak-haknya, justru sebaliknya segala kebutuhan rakyat akan terpenuhi.

Namun, semua itu tidak akan terwujud tanpa adanya peran negara yang menjalankan hukum syariah. Semua itu hanya diwujudkan dalam pemerintahan islam yaitu khilafah, dalam sistem khilafah peran kepala negara akan berfungsi sebagaimana mestinya yaitu melayani dan mengurus segala urusan umat.

حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الدِّمَشْقِيُّ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ حَمْزَةَ حَدَّثَنِي ابْنُ أَبِي مَرْيَمَ أَنَّ الْقَاسِمَ بْنَ مُخَيْمِرَةَ أَخْبَرَهُ أَنَّ أَبَا مَرْيَمَ الْأَزْدِيَّ أَخْبَرَهُ قَالَ دَخَلْتُ عَلَى مُعَاوِيَةَ فَقَالَ مَا أَنْعَمَنَا بِكَ أَبَا فُلَانٍ وَهِيَ كَلِمَةٌ تَقُولُهَا الْعَرَبُ فَقُلْتُ حَدِيثًا سَمِعْتُهُ أُخْبِرُكَ بِهِ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ وَلَّاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ شَيْئًا مِنْ أَمْرِ الْمُسْلِمِينَ فَاحْتَجَبَ دُونَ حَاجَتِهِمْ وَخَلَّتِهِمْ وَفَقْرِهِمْ احْتَجَبَ اللَّهُ عَنْهُ دُونَ حَاجَتِهِ وَخَلَّتِهِ وَفَقْرِهِ قَالَ فَجَعَلَ رَجُلًا عَلَى حَوَائِجِ النَّاسِ

Abu maryam al’ azdy r.a berkata kepada muawiyah: saya telah mendengar rasulullah saw bersabda: siapa yang diserahi oleh allah mengatur kepentingan kaum muslimin, yang kemdian ia sembunyi dari hajat kepentingan mereka, maka allah akan menolak hajat kepentingan dan kebutuhannya pada hari qiyamat. Maka kemudian muawiyah mengangkat seorang untuk melayani segala hajat kebutuhan orang-orang (rakyat). (abu dawud, attirmidzy).