Oleh : Lesa Mirzani, S.Pd

Mediaoposisi.com-Dalam kurun waktu 9 tahun dari 2011 sampai 2019, KPAI mencatat ada 37.381 pengaduan. Untuk Bullying baik di pendidikan maupun sosial media mencapai 2.473 laporan. Bahkan Januari sampai Februari 2020, setiap hari publik kerap disuguhi berita fenomena kekerasan anak hingga mengakibatkan kematian.

Seperti siswa yang jarinya harus diamputasi, siswa yang ditemukan meninggal di gorong-gorong  sekolah kemudian siswa yang ditendang lalu meninggal serta siswa yang melakukan bunuh diri akibat tidak kuatnya menahan bullying dari teman-teman dilingkungan sekolahnya.“ Tentunya ini sangat disadari dan menjadi keprihatinan bersama. Kalau melihat skala dampak dari peristiwa diatas, memperlihatkan gangguan perilaku yang dialami anak.

Gangguan perilaku tersebut perlu diantisipasi sejak awal,” kata Komisioner KPAI Bidang Hak Sipil dan Partisipasi Anak, Jasra Putra, Sabtu (8/2/2020). Pemicu Bullying sangat banyak diantaranya, tontonan kekerasan secara langsung maupun tidak langsung dari media elektronik seperti Televisi maupun media sosial, dampak negatif dari gawai, penghakiman media sosial oleh para masyarakat pengguna sosial media tersebut yang cenderung lebih agresif dalam menghakimi.

Dalam islam sendiri sangat melarang keras dan sangat tidak menganjurkan perilaku Bullying/ perundungan ini. Hal ini sebagaimana penjelasan dalam sebuah firman Allah Subahanahu Wa Ta’ala:  “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka yang (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain, (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olokkan) lebih baik dari perempuan yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barang siapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim”. (Q.S Al-Hujarat :11).

Tindakan perundungan atau Bullying adalah penggunaan kekerasan, ancaman atau paksaan untuk menyalahgunakan atau mengintimidasi orang lain. Sumber (Wikipedia.com). Bullying seringkali terjadi di lingkungan institusi pendidikan seperti sekolah ataupun perguruan tinggi serta dalam berbagai media cetak, elektronik, ataupun media sosial.

Tindakan Bullying sendiri mencakup: Pertama, bullying emosional yaitu bullying yang bertujuan untuk menolak dan memutuskan hubungan korban dengan orang lain seperti menyebarkan rumor, mempermalukan seseorang dan lain-lain. Kedua, bullying fisik yaitu jenis bullying yang melibatkan kontak fisik antara pelaku dan korban seperti memukul, menendang, mendorong dan lain-lain. Ketiga, bullying verbal yaitu bullying yang menggunakan bahasa verbal yang tujuannya yaitu menyakiti hati seseorang seperti mengejek, memberi nama julukan jelek, memfitnah dan lain-lain. Keempat, bullying cyber merupakan bentuk bullying yang dilakukan melalui media elektronik/online seperti handphone, komputer, website dan lain-lain. Namun yang paling besar tanggung jawabanya dalam menjaga generasi adalah Negara.

Negara adalah benteng utama dalam dalam menjaga generasi dari kerusakan, hal ini dikarenakan Negara adalah pemegang kebijakan diseluruh aspek kehidupan baik ekonomi, politik, sosial, budaya, dan termasuk pendidikan. Hanya saja sistem kapitalisme yang diterapkan di negeri ini dengan asasnya sekularisme yaitu pemisahan agama dari kehidupan, menjadikan pendidikan saat ini minim dalam menanamkan nilai-nilai aqidah dan ketakwaan bahkan melalui pendidikan agama sekalipun. Pendidikan agama sudah lama diabaikan dalam sistem ini, kalaupun ada pendidikan agama, sistem kapitalisme ini telah mengebiri ajaran agama (Islam) sebatas ibadah ritual saja.

Karenanya arah tujuan pendidikan pun bukan lagi untuk meningkatkan intelektualitas dan mewujudkan kepribadian Islam yang mulia, namun lebih mengarah pada memenuhi tuntunan pasar/kapitalis yakni tersedianya tenaga buruh. Tidak hanya itu sering bergantinya kurikulum pendidikan dan kurangnya tenaga pengajar yang mumpuni menjadikan dunia pendidikan saat ini tidak mampu mencetak produk pendidikan yang sesuai dengan gambaran generasi pemimpin harapan umat. Selain itu Negara pun memiliki kebijakan dalam pengaturan media baik cetak maupun elektronik.

Pasalnya media memiliki pengaruh yang cukup besar dalam membentuk karakter remaja. KPAI menyatakan media sosial termasuk Instagram dan Facebook serta game online membawa pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan kasus bullying dikalangan remaja. Seharusnya Negara dengan kekuasaannya bisa saja mengawasi media yang beredar di tengah-tengah masyarakat bahkan menutup situs-situs yang bisa merusak generasi seperti situs kekerasan, porno, game online dan lain-lain. Namun Negara gagal, Negara tidak sanggup membendung sebaran budaya kafir yang rusak dan merusak generasi hingga terpaparlah mereka dengan pemahaman-pemahaman keliru yang merusak pola pikir dan pola sikap.

Oleh karena itu untuk memutus siklus bullying pada remaja dibutuhkan sinergitas antara keluarga, lingkungan masyarakan dan Negara. Karena baik keluarga, lingkungan masyarakat maupun Negara memiliki tanggung jawab dalam membentuk karakter remaja. Hanya saja untuk mewujudkan sinergi ini akan sulit diwujudkan jika tatanan kehidupan sekuler dibawah pemerintahan demokrasi yang telah nyata-nyata gagal dalam menjaga generasi.

Karenanya perlu mengembalikan tatanan kehidupan yang sesuai aturan sang Pencipta dan sang Pengatur kehidupan, yakni dengan menerapkan syariat islam secara kaffah (keseluruhan) dalam bingkai khilafah. Karena Islam adalah agama yang tidak hanya mencakup keimanan dan ibadah, namun memiliki tata aturan dan syariat yang begitu sempurna  dalam penjagaan jiwa, akal dan kehidupan. [Mo.db]

Oleh : Novida Balqis

Mediaoposisi.com-“Terowongan Silahturahmi” adalah istilah yang diberikan Jokowi terhadap rencana pembangunan berupa terowongan yang menghubungkan antara Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral. Pembangunan terowongan ini bertujuan untuk menjadi ikon toleransi dan kerukunan antar umat beragama di Indonesia.

“Terowongan itu nanti bisa jadi ikon toleransi di Indonesia,” kata Wakil Kepala Humas Masjid Istiqlal Abu Hurairah pada hari Jumat. (republika.co.id, 7/2/2020)
Rencana pembangunan terowongan ini tentu menjadi pertanyaan bagi kita sebagai umat muslim. Apakah harus dengan cara membangun terowongan silaturahmi, untuk menjaga toleransi umat beragama? Bagaimana toleransi beragama menurut Islam? Apakah membangun terowongan silaturahmi adalah bentuk toleransi yang diperbolehkan dalam Islam? Berikut pembahasannya.
Bicara mengenai toleransi, Rasulullah SAW telah mengajarkan kepada umatnya agar berbuat baik kepada non muslim dan toleransi terhadap non muslim. Akan tetapi, Islam mempunyai cara tersendiri dalam bertoleransi. Sehingga sebagai umat Muslim, kita dilarang untuk berlebihan atau kebablasan dalam bertoleransi. Berikut hadits mengenai berbuat baik kepada tetangga meskipun ia adalah non muslim (kafir) yang dikisahkan dari Abdullah bin ‘Amr Al Ash :
أَنَّهُ ذُبِحَتْ لَهُ شَاةٌ، فَجَعَلَ يقول لغلامه: أهديت لجارنا اليهوي؟ أَهْدَيْتَ لِجَارِنَا الْيَهُودِيِّ؟ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: ” مَا زَالَ جِبْرِيلُ يُوصِينِي بالجارحتى ظننت أنه سيورثه
“Beliau menyembelih seekor kambing. Beliau lalu berkata kepada seorang pemuda, ‘Akan aku hadiahkan sebagian untuk tetangga kita yang orang Yahudi’. Pemuda tadi berkata, ‘Hah? Engkau hadiahkan kepada tetangga kita orang Yahudi?’. Aku mendengar Rasulullah Shallalahu ‘alaihi Wasallam bersabda, ‘Jibril senantiasa menasehatiku tentang tetangga, hingga aku mengira bahwa tetangga itu akan mendapat bagian harta waris’.” (HR. Al Bukhari dalam Al Adabul Mufrad 78/105, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih Adabil Mufrad)
Islam juga mengajarkan agar selalu berbakti kepada orang tua meskipun ia non muslim, sebagaimana firman Allah berikut ini :
وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا
Artinya :
“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik,” (QS. Luqman: 15)
Selain itu, di zaman nabi ada beberapa orang kafir Quraisy yang menawarkan toleransi kebablasan kepada nabi SAW, mereka berkata :
“Wahai Muhammad, bagaimana jika kami beribadah kepada Tuhanmu dan kalian (muslim) juga beribadah kepada Tuhan kami. Kita bertoleransi dalam segala permasalahan agama kita. Apabila ada sebagian dari ajaran agamamu yang lebih baik (menurut kami) dari tuntunan agama kami, maka kami akan amalkan hal itu. Sebaliknya, apabila ada dari ajaran kami yang lebih baik dari tuntunan agamamu, engkau juga harus mengamalkannya.”
Kemudian turunlah ayat (firman Allah) yang menolak keras toleransi kebablasan semacam ini, berikut firman Allah berikut ini :
قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ. لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ. وَلَا أَنتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ. وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَّا عَبَدتُّمْ. وَلَا أَنتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ. لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ
Artinya : “Katakanlah (wahai Muhammad kepada orang-orang kafir), “Hai orang-orang yang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu, dan untukkulah agamaku.” (QS. Al-Kafirun: 1-6)
Ayat diatas adalah teguran langsung dari Allah SWT agar kita tidak melakukan toleransi yang kebablasan. Selain itu, mengucapkan selamat terhadap hari raya agama lain juga merupakan toleransi kebablasan. Seperti mengucapkan selamat ketika hari natal, hari nyepi, dan hari raya serta tahun baru agama lain yang tidak disyariatkan dalam Islam juga merupakan toleransi kebablasan.
Itulah hadits dan firman Allah mengenai toleransi yang mestinya kita terapkan dan amalkan. Jangan sampai menabrak hukum syariat Islam. Karena hal itu sama saja dengan melanggar perintah dan larangan Allah SWT. Sehingga jelas, membangun terowongan silaturahmi yang dicanangkan oleh Jokowi juga merupakan toleransi kebablasan yang dilarang dalam syariat Islam. Dan alangkah lebih baik jika perencanaan pembangunan terowongan tersebut dibatalkan demi menjaga akidah umat Islam.
Bahaya Pluralisme dan Liberalisme
Terowongan silaturahmi yang menjadi ikon toleransi dapat menjadi kampanye pluralisme agama yang dapat membahayakan akidah umat. Karena perencanaan pembangunan terowongan ini bersamaan dengan maraknya isu pluralisme, yaitu ide yang menganggap bahwa semua agama sama. Padahal jelas, dalam firman Allah dalam Surah Al-Kafirun bahwa bagimu agamamu dan bagiku agamaku. Maknanya, agama satu dengan agama lainnya berbeda. Karena Tuhan dalam agama mereka berbeda dengan Tuhan umat Islam. 
Maka kita harus waspada dan hati-hati terhadap kebijakan pemerintah saat ini. Bagaimanapun, kebijakan ini juga merupakan bentuk dari dukungan pemerintah terhadap liberalisme. Yaitu suatu ide/paham yang menghendaki kebebasan pribadi, sehingga orang lain, bahkan agama tidak boleh turut ikut campur karena menghendaki kebebasan pribadi.
Liberalisme merupakan paham yang berbahaya bagi umat Islam. Karena bagaimanapun, manusia harus diatur oleh peraturan agar tidak salah dalam bertindak. Jika manusia tidak mau diatur dengan peraturan, maka apa bedanya dengan binatang atau hewan. Sudah bukan rahasia lagi, manusia yang sangat taat dan menjalankan amal shaleh akan lebih mulia dari malaikat. Sedangkan manusia yang penuh maksiat dan hilang moral akan lebih rendah derajatnya dari binatang/hewan.
Oleh karena itulah, sebagai manusia kita harus diatur oleh peraturan yang sempurna dan terdapat dalam seluruh aspek kehidupan. Bukan sekedar peraturan yang hanya menertibkan manusia saja. Akan tetapi, peraturan tersebut menjadikan manusia taat kepada Tuhannya dan terjaga akidahnya. Selain itu, peraturan yang diterapkan hendaknya menjadikan manusia takut untuk melanggarnya dan peraturan yang membuat jera para pelaku kejahatan. Dan juga tentunya peraturan yang melahirkan kebijakan yang adil dan sesuai syariat agama.
Solusi Dari Islam
Islam telah memberi solusi yang sempurna bagi kehidupan manusia saat ini. Allah telah memberikan peraturan yang paripurna pada manusia yang tertuang dalam Al-Qur’an maupun As-Sunnah. Peraturan dalam Islam dinamakan syariat Islam. Dan syariat Islam tidak dapat diterapkan dalam sistem demokrasi saat ini. Karena asas yang diterapkannya pun berbeda. 
Sistem demokrasi yang menuhankan kebebasan tidak cocok menerapkan syariat Islam. Sistem yang pas agar syariat Islam dapat diterapkan adalah dengan sistem Khilafah atau disebut dengan sistem Islam. Sistem Islamlah yang dapat menerapkan seluruh syariat Islam, sehingga sistem Islam tidak akan melahirkan kebijakan berupa terowongan silaturahmi yang mengkikis akidah umat Islam. [Mo.db]
Wallahu A’lam

Oleh : Muhammad Farid
(Pengajar Ilmu Sosial, STKIP Hatta-Sjahrir Banda Naira)

Mediaoposisi.com-"Words are loaded pistols."....arti bebasnya..."Kata-kata itu seperti pistol penuh peluru", begitu menurut Jean-Paul Sartre. Karena saat kata jadi bicara, lawan bisa saja tersungkur tak berdaya. Malu dan terhina. Tapi bukan untuk lawan yang berotak dan punya hati baja.
Sartre tidak sedang menasehati orang untuk jaga bicara. Karena dia sadar betul, bahwa manusia terlanjur "dikutuk bebas" (condemned to be free). Artinya, manusia bebas berkata apa saja. Boleh berbuat apapun.
Renungan filsafat Satre menemukan justifikasinya dalam iklim demokrasi. Semua orang bebas mengkritik. Berhak untuk tidak setuju dengan pikiran orang lain. Atau bahkan membuat "hinaan" dengan nada satire pada siapa saja, apalagi pejabat publik.
Di Amerika baru saja dihebohkan oleh seorang ketua DPR nya, Nancy Pelosi, yang nekad merobek-merobek pidato Presiden Donald Trump yang dianggapnya membual tentang kehebatan Amerika, persis setelah Trump selesai berpidato. Muncul kemudian meme dan video parody Trump yang sedang berpidato menggunakan topi sensor kebohongan yang setiap kali Trump mengeluarkan kata dan kalimat akan disergap bunyi "teet", tanda dia sedang berbohong. Di sebuah parade, para pendemo Trump bahkan berani mengarak boneka besar bewujud presiden mereka itu lengkap dengan "big ass" (bokong besar) nya sambil mempersilahkan para penonton untuk menendang “pantat Trump” sesuka hati.
Dalam iklim demokrasi, seorang pejabat publik tampaknya memang “dikutuk untuk dikritik”, dan sekaligus terlarang untuk emosi. Sebab dalam kritik publik tidak ada yang personal. Karena sasaran kritik, hinaan, atau apapun namanya, memang bukan ditujukan untuk menyerang pribadinya, melainkan untuk jabatan publiknya.
Maka idealnya, seorang pejabat publik harusnya sosok pribadi yang kuat menahan kritik. Otak dan hatinya musti terbuat dari titanium yang kebal peluru. Kuping nya musti setebal tembok baja agar bisa menahan hinaan dan cacian yang datang bertubi. Dan yang terpenting, jangan pernah kehabisan kata-kata. 
Dulu bung Karno pernah "diejek" serupa "kayu yang patah" setelah kalah adu cerdik politik dari sutan Sjahrir yang berhasil membentuk sistem parlementer. Tapi apa kata bung Karno; "seperti rotan, saya hanya bengkok tapi tidak patah". 
Haji Agus Salim lebih hebat lagi. Pernah disorak dengan suara "mbeeek, mbeeek" serupa kambing gegara jenggotnya yang panjang dalam sebuah forum pertmuan. Apa kata Agus Salim; "setahu saya ini forum manusia, kenapa ada kambing disini?!"
Sutan Sjahrir pernah diejek “kebarat-baratan” oleh bung Hatta. Sjahrir tahu itu setelah berbincang dengan anak-anak angkat nya saat di pembuangan Banda Naira. Ejekan kebarat-baratan bisa diartikan “tidak tahu aturan”, atau “kurang adab ketimuran”. Apa kata Sjahrir merespon; “apalagi Hatta, dia bermimpi saja dengan bahasa Belanda?!”
Para pendahulu bangsa ini punya cukup pikiran, karena itu mereka tidak pernah kehabisan kata-kata. Kritik, hinaan, cacian direspon sewajarnya. Kalaupun harus membalas maka dibalas lewat tangkisan kata-kata cerdas.
Dulu, di zaman SBY, para pendemo mengarak seekor sapi gemuk bertuliskan "sibuya". Hinaan satire itu pas banget karena memang kebijakan-kebijakan pak SBY saat itu terkesan lambat. Dia juga peragu. Untung saja mantan presiden itu punya cukup pikiran. Dia tampak lebih sadar diri bahwa resiko menjadi pejabat adalah dihina dan dikritik.
Sebaliknya, pejabat publik yang kurang kata-kata sudah tentu juga kurang isi kepalanya. Akibatnya, pribadinya sangat mudah goyah, rapuh seperti krupuk, melempem hanya gegara masuk angin. Pejabat yang pribadinya lemah akan mudah terjungkal. Gampang digulung emosi. Karena semua dianggapnya soal pribadi.
Dalam dunia medsos hari ini, hinaan dan cacian sudah jadi makanan harian. Kita sampai hafal apa arti “togog” yang maksudnya tolol dan goblog. Lalu “kadrun” atau kadal gurun. Muncul lagi “kodrun” atau kodok gurun. Julukan itu sudah pasti berbau hinaan. Tapi kita menerimanya sebagai fakta politik hari ini. Dan bisa saja ini menjadi vitamin untuk menambah tebal kesadaran berdemokrasi “civil society” di Indonesia.
Jika kesadaran berdemokrasi masyarakat sipil semakin kuat, akan lahir pemimpin-pemimpin kuat, yaitu mereka yang tidak kehabisan kata-kata saat dihina, apakah sebagai "joker”, “raja kodok", atau "kodok betina", dia tidak akan terburu emosi, apalagi sampai menuntut masuk bui. Sebaliknya, pemimpin yang kuat hanya akan tersenyum, dan sesekali perlu merespon dengan tangkisan kata-kata dan kerja-kerja cerdas. [Mo.db]


Oleh : Merli Ummu Khila
Kontributor Media, Pegiat Dakwah

Mediaoposisi.com-Perubahan adalah keniscayaan. Tidak seorang pun bisa menolak perubahan zaman. Saat ini kita akan memasuki era disrupsi. Memasuki era serba digital bisa menjadi ancaman jika gagap tekhnologi (gaptek). Jika tidak berinovasi maka konsekwensinya akan tersingkir.

Disrupsi merupakan inovasi yang menggantikan seluruh sistem lama dengan yang baru. Disrupsi berpotensi menggantikan teknologi lama yang serba fisik dengan teknologi digital yang menghasilkan sesuatu yang benar-benar baru dan lebih efisien.

Misalnya saja pergeseran sistem dalam perekonomian. Dampak perubahan sistem penjualan sudah dirasakan saat ini. Pengusaha retail yang mempertahankan cara lama akan terancam gulung tikar karena kalah bersaing dengan perusahaan daring. Seperti yang dialami salah satu supermarket di bawah PT Hero Supermarket Tbk yakni Giant menutup beberapa gerainya karena terancam bangkrut tergerus toko online.

Begitu juga dengan tenaga kerja, efek dari kecanggihan tekhnologi berimbas pada perampingan managemen. Di perusahaan sepatu misalnya, operator cutting material kini digantikan dengan mesin auto cutting. Sebuah inovasi yang mampu meningkatkan target dan menurunkan resiko reject.

Era disrupsi ini bisa jadi ancaman khususnya bagi pekerja atau buruh. Peralihan sistem kerja menjadi serba digital tentu akan terjadi pengurangan karyawan secara besar-besaran. Karena pengusaha selalu mengikuti hukum ekonomi yaitu menekan cost demi mendapat profit besar.

Seperti dilansir oleh pikiran-rakyat.com, 13 Oktober 2019. Laporan hasil riset yang dipublikasikan akhir bulan September lalu oleh McKinsey Global Institute bertajuk “Otomasi dan Masa Depan Pekerjaan di Indonesia: Pekerjaan yang Hilang, Muncul dan Berubah.”  memprediksi Indonesia di tahun 2030 telah memasuki era otomasi 16 persen aktivitas pekerjaan yang berimbas pada hilangnya pekerjaan bagi sekira 23 juta pekerja.

Sebuah hasil riset yang menakutkan bagi pekerja khususnya yang berhubungan dengan alat produksi manual.

Lalu bagaimana menghadapi era disrupsi ini?

Meskipun era disrupsi berimbas pada hilangnya jutaan pekerjaan namun, justru akan tercipta lapangan kerja baru yang jauh lebih luas. Karena meskipun banyak pekerjaan manual beralih ke mesin robotic atau otomasi, banyak juga pekerjaan yang harus dikerjakan oleh manusia.

Ada beberapa pekerjaan yang tidak bisa digantikan mesin yaitu sesuatu yang menyangkut interaksi dengan pemangku kepentingan serta mengelola dan mengembangkan karyawan.

Komunikasi menjadi hal yang krusial di era disrupsi. Mempersiapkan tenaga kerja yang siap menyambut era digitalisasi merupakan pekerjaan rumah bagi pemerintah. Harus ada upaya konkrit dalam menyiapkan tenaga kerja untuk menghadapi perubahan substansial dalam dunia kerja di masa mendatang.

Pada faktanya hari ini jumlah pengangguran semakin meningkat.
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) berdasarkan data resmi Badan Pusat Statistik (BPS) mencapai 7,05 juta orang per Agustus 2019, dimana mengalami peningkatan dari tahun lalu. (sindonews.com, 5 November 2019). Masuknya investor ternyata tidak menyerap tenaga kerja yang signifikan.

Berharap pada sistem ini hanya menjadi pesimis berkepanjangan. Nyatanya tidak ada kebijakan pemerintah yang bisa dirasakan manfaatnya secara lansung oleh rakyat. Alih-alih menyejahterakan, justru banyak kebijakan yang semakin menyengsarakan. Jutaan kepala keluarga harus kerja serabutan demi memenuhi kebutuhan dasar.

Demokrasi hanyalah retorika kosong yang mengumbar janji kemakmuran. Pada faktanya kesejahteraan hanya di nikmati segelintir orang dari penguasa dan pengusaha. Kebijakan dibuat tidak lepas dari kepentingan atau intervensi pihak asing. Hegemoni Barat mencengkeram seluruh aspek kehidupan terutama perekonomian.

Islam mewajibkan setiap laki-laki untuk bekerja menafkahi keluarganya. Namun kenyataannya mencari pekerjaan semakin sulit bagi laki-laki. Perusahaan yang hanya menerima karyawan dengan batasan umur tertentu dan lebih banyak lapangan kerja disiapkan untuk wanita.

Dalam sistem Islam, khalifah bertanggungjawab memampukan warga negaranya untuk memenuhi kebutuhan dasar dengan menyiapkan lapangan kerja yang luas. Serta menyediakan sarana kesehatan dan pendidikan yang menjadi hak warga negara tanpa terkecuali.

Rasulullah saw. bersabda, “Seorang imam adalah pemelihara dan pengatur urusan rakyat, dan ia akan diminta pertanggungjawaban terhadap rakyatnya.”(HR Bukhari-Muslim).[MO/s]

Waallahu a'lam bishshawaab



Oleh : Vega Rahmatika Fahra, SH
(Aktivis Dakwah dan Pegiat Literasi)

Mediaoposisi.com-"Gak ada habis-habisnya", mungkin kalimat itu cocok disematkan saat ini kepada ketua Yudian Wahyudi Kepala Badan Pembina Ideologi Pancasila (BPIP). Bagaimana tidak, setelah beberapa waktu yang lalu dia mengeluarkan argumen yang mengejutkan masyarakat yang menyatakan bahwa agama adalah musuh terbesar Pancasila.

Beberapa hari yang lalu  Yudian Wahyudi kembali berargumen dengan mengatakan bahwa pihaknya berencana menggunakan sejumlah platform media sosial (medsos) untuk menyosialisasikan Pancasila ke generasi muda. Platform media sosial yang akan digunakan mulai dari Youtube, Blog, hingga Tiktok.Yudian mengatakan langkah itu diambil untuk menjawab permintaan Presiden Joko Widodo yang ingin BPIP fokus kepada generasi milenial. (CNNIndonesia, 18/02/2020)

Direktur Eksekutif ICT Institute, Heru Sutadi mengaku TikTok kurang pas digunakan sebagai salah satu instrumen sosialisasi nilai Pancasila, sebab ia menilai aplikasi media sosial (medsos) itu identik dengan hiburan dan bahan tertawaan. Sehingga, ia khawatir menggunakan TikTok untuk sosialisasi malah membuat Pancasila menjadi bahan olokan.Pengamat Politik Dedy Kurnia Syah menilai rencana Kepala Badan Pembina Ideologi Pancasila (BPIP) Yudian Wahyudi yang akan menggunakan berbagai platform media sosial termasuk aplikasi TikTok dalam untuk sosialisasi Pancasila berlebihan.Pasalnya, ia mengatakan rencana tersebut seolah-olah ideologi bangsa menjadi barang mainan.

Siapa yang tak tahu dengan aplikasi Tik Tok, aplikasi yang sedang viral digunakan oleh netizen di dunia maya, mulai dari anak kecil hingga orangtua ikut serta dalam meramaikan fitur aplikasi ini.Penggunanya akan tertawa, bergoyang dalam video mengikuti musik yang disediakan dalam aplikasi.

Lalu apakah dengan aplikasi seperti ini dengan berjoget, tertawa, dan membuat video video heboh sila-sila dalam Pancasila mampu di terapkan dan di sadari oleh masyarakat terutama generasi milenial?Bahkan para wanita wanita yang seharusnya menjaga iffah dan izzahnyanampak sangat tergoda untuk meng-eksiskan dirinya dalam video videoTikTok tersebut. Inilah yang menyebabkan generasi zaman sekarang kehilangan identitas kemuslimannya. Gaya hidupnya mengikuti hukum hukumjahiliyah yang diterapkan.

Generasi milenial memang penyumbang populasi besar di Indonesia, dari data proyeksi penduduk tahun 2014, jumlah remaja mencapai sekitar 65 juta jiwa atau 25 persen dari 255 juta jiwa penduduk Indonesia (Bareskrim.com, 21/06/2015). 

Kaum milenial sudah seharusnya menjadi corong untuk menjadi agen perubahan untuk mensejahterakan kehidupan masyarakat kedepannya, sehingga memang generasi milenial menjadi sasaran untuk perbaikan negri,  lalu bagaimana keadaan negrikedepannya jika generasinya disibukkan dengan permainan TikTok yang nampak sangat unfaedah untuk pribadi apalagi untuk mengamalkan Pancasila.

Maka bisa dibayangkan, jika memang wacana ketua BPIP diterapkan, maka dalam 10 atau 20 tahun ke depan, betapa makin rusak dan ambyarnya kehidupan generasi milenial jika sistem sekuler ini terus dipertahankan dan Syariah Islam tidak segera diterapkan.Tabiatnya sistem ini memisahkan agama dari kehidupan serta pemuasan asas manfaat dengan meraup untung sebanyak banyaknya. Pemuda menjadi sasaran empuk sebab pemuda merupakan tonggak perubahan suatu bangsa. Apabila pemudanya telah dirusak, maka dapat dipastikan nasib suatu bangsa akan buram.

Generasi Harapan Islam
Sangat berbeda dengan generasi  diterapkannya pada masa kejayaan Islam. Pemudanya tak sibuk dengan ketenaran dunia, justru benar benar bijak menyikapi godaan dunia dan berusaha memaksimalkan potensi dirinya untuk kebangkitan Islam.

Seperti Muhammad Al-Fatih yang mampu menaklukkan konstantinopel pada usia yang masih muda, 21 tahun. Imam syafi’i, salah satu Imam madzhab yang mampu menghafal Al Qur’an pada usia tujuh tahun dan mampu menghasilkan karya tulis yang bermanfaat untuk umat.

Dengan bekal ilmu dan pembentukan mental yang sehat dan kuat, ditopang dengan pembentukan sikap dan nafsiyah yang mantap, kehidupan pemuda di era khilafah jauh dari hura-hura, dugem dan kehidupan hedonistik, membuang buang waktu untuk hal unfaedah dan lainnya.

Produktivitas generasi muda di era khilafah ini pun luar biasa. Banyak karya ilmiah yang mereka hasilkan saat usia mereka masih muda. Begitu juga riset dan penemuan juga bisa mereka hasilkan ketika usia mereka masih sangat belia. Semuanya itu merupakan dampak dari kondusivitas kehidupan masyarakat di zamannya.

selain kehidupan masyarakat yang bersih, berbagai tayangan, tontonan atau acara yang bisa menyibukkan masyarakat dalam kebatilan harus dihentikan. Mungkin awalnya mubah, tetapi lama-lama kemubahan tersebut melalaikan, bahkan menyibukkannya dalam kebatilan.

Karena itu Nabi SAW menitahkan, “Min husni Islami al-mar’itarkuhumalaya’nihi.” Di antara ciri baiknya keislaman seseorang, ketika dia bisa meninggalkan apa yang tidak ada manfaatnya bagi dirinya. Boleh jadi sesuatu yang tidak manfaat itu mubah, tetapi sia-sia. Waktu, tenaga, pikiran, bahkan harta yang digunakannya pun hilang percuma.

Agar masyarakat, khususnya generasi muda tidak terperosok dalam kesia-siaan, maka mereka harus disibukkan dengan ketaatan. Baik membaca, mendengar atau menghafal Alquran, hadits, kitab-kitab tsaqafah para ulama’, atau berdakwah di tengah-tengah umat dengan mengajar di masjid, kantor, tempat keramaian, dan sebagainya. Mereka juga bisa menyibukkan diri dengan melakukan perjalanan mencari ilmu, berjihad, atau yang lain.

Islam tidak dapat diterapkan secara keseluruhan apabila negara tidak menginginkannya. Perbaikan masalah generasi tidak bisa hanya menitik beratkan dalam keluarga, apalagi hanya dengan sebuah aplikasi, namun perlu diterapkan dalam kehidupan bernegara agar Islam dapat digunakan dalam seluruh sendi kehidupan.

Ketiadaan Islam menyebabkan manusia menutup mata dari akhirat dan berlomba dalam mengejar dunia sebab yang menjadi pijakan adalah hukum jahiliyah. Maka tidak ada alasan untuk menolak Islam, sebab dengan diterapkannya Islam secara kaffaah, permasalahan generasi akan tersolusi secara tuntas. [Mo/s]