Oleh: Nia Nurhayati
(Mahasiswa UMJ)

Mediaoposisi.com-Sepekan ini, sejak tanggal 24 maret 2018 tepatnya pukul 00.00, harga bbm jenis pertalit kembali naik. Seperti kita ketahui bersama harga bbm pada tahun ini sudah mengalami 2 kali peningkatan. Hal ini menjadi keterkejutan rakyat ketika bangun di pagi hari.

Apalagi, kenaikannya seperti angin menenangkan pada malam hari ini, tanpa pemberitahuan tiba-tiba berubah menjadi topan, walaupun kenaikannya kecil ( Rp. 200) akan tetapi hal ini tidak sekecil ketika kita membeli permen, jika permen cukup dibeli satu untuk dimakan berdua, itu sah-sah saja.

Akan tetapi lain dengan yang satu ini, karena rakyat tidak membeli hanya 1 liter untuk memenuhi tangki motornya, apalagi jika kendaraannya diperuntukan untuk bekerja, bolak-balik mengangkut barang, jelas hal ini memberatkan. Walupun ada bbm bersubsidi yang diperuntukan pemerintah untuk rakyat bawah, kenyataanya sulit dicari disetiap pom bensin.

Kelangkaan bbm jenis premium ini, mengakibatkan rakyat beralih secara terpaksa ke jenis pertalit, yang akhir-akhir ini sedang eksis menjadi perbincangan. Bbm yang sekarang menjadi bahan baku rakyat kenaikannya senantiasa memicu kenaikan bahan pokok lainnya apalagi transportasi... Maka banyaklah abang-abang angkot yang menaikan harga.

Bahan pokok seharusnya diperhatiak penguasa, karena itu semua menjadi kebutuhan rakyatnya, dan setiap kebutuhan rakyat wajib dipenuhi oleh pemimpinnya.

Ketidak tahuan penguasa akan naiknya harga bbm ini menunjukan sikap kepeduliannya terhadap rakyat, sehingga semua dibebankan pada rakyat, padahal pendapatan negara sendiri dari rakyat (pajak), seharusnya penguasa mengambil kebijakan atas naiknya harga bbm apalagi dampak yang akan disebarkannya, terkait dampak ini sebetulnya jelas sekali kita lihat pada momen adanya kenaikan bbm pasti berdampak pada naiknya harga pangan. 

Walaupun naikya harga bbm dipengaruhi oleh naiknya harga minyak dunia dan merosotnya nilai mata uang, akan tetapi itu bukanlah alasan. Karena penguasa bisa memperdiksi hal itu sebelumnya, degan banyaknya pengalanan kenaikan harga minyak dunia, yang memang akan berdampak pada halanya harga bbm.

Sejatinya kedzalim ini akan terus ada, jika penguasnya sendiri tidak peka terhadap rakyat, tidak mau tau keadaannya, tidak percaya pada rakyat, maka kebijakan yang diambilpun akan jauh dari upaya mengurusi rakyat. Padahal ketika penguasa tidak percaya rakyatnya maka rakyatpun tidak akan percaya padanya.

Ketika rakyat tidak sejalan dengan penguasanya maka yang ada hanyalah kebencian dalam diri rakyat dan penguasa. Islam sendiri menjelaskan bahwa penguasa adalah seorang yang mengurusi urusan umatnya, sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah dan para sahabat dulu. Mereka selalu menjadi pelindungnya dan mencukupi kebutuhannya. Sehingga lahirlah rasa cinta mereka terhadao penguasanya, maka benarlah hadis Rasulullah SAW:

" sebaik-baiknya pemimpin kalian adalah para pemimpin yang kalian cintai dan merekapun mencintai kalian. Kalian mendoakan mereka dan merekapun mendoakan kalian. Adapun seburuk-buruknya pemimpin adalah para pemimpin yang kalian benci dan merekapun membenci kalian. Kalian melaknat mereka dan merkapun melaknat kalian" (HR. Muslim, at-Turmudzi, dan ad-Darimi).

Oleh karenanya tidak akan terjadi keberkahan dalam negeri sebagiman firman Allah SWT dalam al-qur'an QS. Al-Anbiya: 107. Jika meraka mengurusi rakyat tidak dengan menggunakan perintah Allah dan aturannya. [MO/sr]





Oleh: R. Nugrahani, S.Pd.

Mediaoposisi.com-Kasus produk ikan makarel kaleng yang mengandung cacing menjadi viral semenjak pertama kali ditemukan di Pekanbaru, Riau, pada Selasa, 20 Maret 2018. Pada tanggal 28 Maret 2018, BPOM mengumumkan bahwa ada 27 merek yang terdiri dari 138 bets ikan makerel kalengan yang positif mengandung parasit cacing. “16 merek di antaranya merupakan impor dan 11 lainnya merupakan produk lokal,” ujar Kepala BPOM Penny Lukito.

Penemuan tersebut merupakan hasil dari pengujian terhadap 541 sampel ikan dalam kemasan kaleng yang terdiri dari 66 merek yang beredar di seluruh Indonesia. BPOM pun telah menginstruksikan pemberhentian proses impor sementara terhadap produk-produk itu sampai ada audit dan pengujian sampel yang lebih besar lagi.

Sementara untuk produk dalam negeri, Penny menyebut BPOM menghentikan sementara bahan baku yang diimpor dari luar negeri untuk produksi ikan makerel kalengan tersebut.

Pihak BPOM pun telah mengeluarkan instruksi kepada produsen dan importir untuk melakukan penarikan seluruh produk mereka dari pasar. Kerjasama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan pun dilakukan untuk menginformasikan pemerintah Cina ihwal kasus tersebut.

Ke depannya,  BPOM akan melakukan pemantauan terhadap penarikan serta pemusnahan produk ikan makarel kaleng yang telah dinyatakan positif mengandung cacing parasit. Uji laboratorium juga akan terus dilakukan dengan meningkatkan jumlah sampel terhadap bets produk ikan dalam kaleng lainnya. (tempo.co)

Produk pangan memang merupakan kebutuhan pokok manusia yang tidak dapat dihilangkan dalam kehidupan sehari-hari. Masalah pangan menyangkut pula kepada keamanan, keselamatan dan kesehatan manusia. Bagi pemeluk agama Islam, maka masalah kehalalan akan menjadi priorotas utama selain mutu pangan yang bagus.

Kasus di atas terjadi karena asal usul makarel kaleng yang mengandung parasit cacing umumnya adalah ikan makarel dari impor dan kalau produksi dalam negeri adalah dari bahan baku yang diimpor. Karena memang ikan makarel tidak ada dalam perairan Indonesia dan secara natural memang mengandung parasit cacing.

Karena itulah pengawasan makanan impor yang semestinya dilakukan merupakan pengawasan yang dilaksanakan instansi pengawas untuk melindungi masyarakat dan menjamin agar makanan selama produksi, penanganan, penyimpanan, pengolahan dan peredaran aman, sehat, layak untuk dikonsumsi manusia, memenuhi persyaratan mutu dan keamanan sesuai peraturan-peraturan yang telah ditetapkan.

Mengingat mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam, maka kehalalan produk pangan juga dijadikan pertimbangan ketika ada produk pangan yang beredar dipasaran. Baik produk itu berasal dari dalam negeri maupun produk pangan dari luar negeri (produk pangan impor).

Oleh karena itu masyarakat harus lebih cermat dan hati-hati dalam membeli produk pangan, terutama produk impor. Jangan lupa untuk memperhatikan kemasan, label, ijin edar hingga masa kadaluarsa. Baca informasi pada label, pastikan produk tersebut memiliki ijin edar dari BPOM RI dan tidak melewati kadaluarsa. Namun, yang terpenting adalah adanya label halal yang tertera dalam produk tersebut.

Kasus-kasus semacam ini pun bisa jadi akan muncul kembali di kemudian hari, apabila pemerintah tidak melakukan tindakan tegas semisal memberikan sanksi bila ada pelanggaran. Penegakan hukum perlindungan konsumen memang sangat dibutuhkan untuk menghidarkan konsumen dari kerugian akibat ulah pelaku usaha.

Namun penegakan hukum perlindungan konsumen, bukan berarti secara serta merta dapat dikatakan bahwa konsumen telah terlindungi sepenuhnya, karena masih ada hal lain yang perlu mendapat perhatian, khususnya konsumen muslim,  di mana konsumen muslim tidak hanya membutuhkan produk yang terbebas dari
yang haram, baik haram karena zatnya maupun yang haram karena prosesnya.

Perlindungan secara utuh tidak akan bisa dirasakan oleh kaum muslimin apabila hukum Islam tidak ditegakkan secara sempurna. Islam sebagai agama yang lengkap akan mampu menyelesaikan setiap persoalan yang ada ditengah-tengah masyarakat.

Karenanya marilah kembali kepada aturan Islam. Sebab, penerapan Islam secara kaffah akan memberikan kemuliaan kepada manusia. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al-Anbiya ayat 107:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

"Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam."[MO/sr]














Oleh: Mulyaningsih, S.Pt

Mediaoposisi.com- Tak terasa, sudah sepekan lamanya pelaksanaan “Haul Guru” dilaksanakan. Sungguh luar biasa, jumlah jamaah yang hadir pada haul kali ini melebii dari tahun-tahun sebelumnya. Dilansir dari media lokal Kalsel, jemaah yang hadir mencapai 1,3 juta orang. Angka yang tidak sedikit.

Ditambah lagi, pada haul sekarang orang nomor satu di negeri ini hadir di tengah-tengah jamaah. Bersama-sama melaksanakan hajatan tahunan yang kudu bin wajib dilaksanakan. Lantas kadang kita bertnya-tanya mengapa orang nomor satu tersebut datang diacara kedaerahan? Padaha ditahun-tahun sebelumnya beliau absen.

Jamaah tidak memperdulikan lagi apakah sebenarnya ada muatan politik atau tidak? Mau melanggengkan pada putaran kedua atau tidak? Yang pasti para jamaah tersebut tumpah ruah di wilayah Sekumpul bertujuan ingin menghormati tuan guru mereka dan ingin mendapat barokah dari acara tersebut.

Dari sini dapat kita lihat bahwa begitu antusiasnya para jamaah yang pernah mengkaji Islam dengan Sang Ulama. Mereka rela mencurahkan segalanya, termasuk dana yang tak sedikit guna mengikuti hajatan besar ini. Rasa cinta yang begitu dalam terhadap sosok Guru Sekumpul sungguh mewarnai mereka. Hormat dan patuh juga pastilah tercermin dari aktivitas mereka.

Sungguh fenomena yang sangat luar biasa, menghormati ulama, mematuhinya serta menjadikan nya panutan dalam kehidupan begitulah adanya. Lain halnya sekarang, para ulama diperlakukan bak pencuri yang kedapatan membawa barang milik orang lain. Terjadi tindak kekerasan pada para  ulama, yaitu penyerangan yang terjadi di beberapa wilayah negeri ini.

Banyak ulama yang diserang oleh seseoarng yang terlihat gila. Tak hanya di pulau jawa, adegan itu merambah ke wilayah banua juga. Tak hanya satu dua atau tiga kasus. Melainkan belasan kasus yang terjadi. Ini adalah salah satu fakta yang membuktikan bahwa ulama sekarang dari segi keamanannya tidak dijaga.

Sebagai contoh adalah kasus penyerangan terhadap ulama yang pertama terjadi di Cicalengka, Kabupaten Bandung. Pimpinan Pesantren Al Hidayah yaitu KH. Umar Basri menjadi korban penganiayaan. Kejadiannya terjadi setelah sholat Subuh di masjid pada sabtu (27/1).

Kemudian Polisi menangkap pelaku penganiayaan tersebut. Dari hasil penyelidikan tampak bahwa pelaku adalah orang yang lemah ingatan. Kemudian kasus yang lain adalah dua pengasuh pondok pesantren Al Falah, Ploso, Kediri yaitu KH. Zainuddin Jazuli dan KH. Nurul Huda Jazuli. Beliau berdua disatroni oleh orang yang tidak dikenal. Orang tersebut membawa pisau sambil berteriak-teriak (Jawa Pos, 20/2).

Sungguh sangat jauh berbeda, saat dahulu ulama begitu dihormati, disanjung, dijaga dan dijadikan contoh. Namun yang terjadi zaman now adalah ulama di aniaya dan tidak mendapat perlindungan.

Pandangan Islam
Islam adalah agama yang sempurna, mengatur semua yang dibutuhkan oleh manusia. Pengaturannya tak hanya masalah ibadah saja, tetapi seluruh sektor kehidupan manusia. Baik ekonomi, perdagangan, politik, sosial, kebudayaan dan yang lainnya Islam lengkap mengaturnya. Seperti istilah bahwa islam mengatur mulai bangun tidur sampai tidur kembali. Begitu halnya dengan ulama, dalam islam ulama sangat penting keberadaannya.

Kedudukannya amat penting bagi manusia. Sebagaimana sabda Nabi SAW: “Sungguh perumpamaan para ulama di bumi seperti bintang-bintang di langit yang dengan cahayanya menerangi kegelapan di darat dan di laut "(HR Ahmad).

Dari hadist diatas didapatkan bahwa betapa pentingnya peran para ulama. Peran penting keberadaan ulama yang pertama adalah mereka ibarat bintang yang mampu menerangi di saat gelapnya malam baik di darat dan laut.

Ditangan mereka pondasi keimanan dan kekuatan umat akan terbentuk. Ditambah juga dapat memusnahkan pemikiran sesat dan keraguan dalam hati serta jiwa manusia.
Yang kedua adalah bahwa ulama merupakan pewaris para Nabi. Darinya kita bisa belajar serta menimba ilmu.

Keberadaan ulama ini adalah satu nikmat yang Allah berikan dan wajib di syukuri atasnya. Sabda Nabi SAW:

Sungguh ulama itu adalah pewaris para nabi" (HR Abbu Dawud dan Baihaqi). Begitu pentingnya keberadaan ulama, samapi-sampai pelabelannya padanya adalah pewaris Nabi. Tentunya ada ketentuan-ketentuan, ulama yang seperti apa dapat dikatakan sebagai pewaris Nabi.

Ulama yang dikatakan sebagai pewaris Nabi adalah jika segala aktivitasnya membela dan menjaga Islam. Aktivitas itu berupa menyeru kepada penguasa agar tidak melakukan kedzoliman terhadap rakyatnya dan menerapkan Islam dalam kehidupan serta memperbaiki kekeliruan yang ada di masyarakat. Ditambah dengan akhlak yang sesuai dengan Nabi. Tercermin pula lewat tingkah lakunya dalam kehidupan sehari-hari.

Sehingga melihat begitu pentingnya peran para ulama ini, maka penguasa wajib untuk menjaga ulama. Termasuk menjaga keamanannya. Penguasa serta umat tidak boleh berdiam diri apabila ada kejadian yang menimpa pada para ulama.

Peristiwa yang terjadi sekarang mengisyaratkan adalah ujian bagi para ulama. Akan tetapi negara tak begitu saja menganggap peristiwa tersebut hanya penyeranagn belaka, kasus kriminal biasa. Karena kasus tersebut tidak hanya terjadi di pulau Jawa, tetapi sudah merambah ke pulau lain ditambah lagi tak hanya satu atau dua kasus melainkan belasan kasus. Ini yang tampak dipermukaan (tersiar dimedia).

Oleh sebab itu, sebenarnya bukan kasus penyerangan biasa. Sehingga negara berkewajiban mengusut tuntas kasus yang ada sekarang ditambah juga perlu adanya penjagaan yang mumpuni terhadap para ulama.

Lewat tangan negaralah keamanan bisa diciptakan. Tentunya hanya dengan penerapan sistem Islam secara sempurna yang mampu menyelesaikan seluruh permasalahan yang ada, temasuk didalamnya menjaga keamanan para ulama. Dengan begitu insya Allah kelanggsungan ulama akan terjaga dan penerang itu tetap masih bersinar.[MO/sr]





Oleh : Aruum Rumiatun, S.Pd. 
( Anggota Akademi Menulis Kreatif )

Mediaoposisi.com-Sepekan ini, masyarakat dikejutkan oleh  temuan BBPOM tentang adanya cacing dalam makanan kaleng impor. Seperti yang dirilis Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan Kota Pekanbaru   bahwa ada tiga produk impor ikan makarel kaleng yang terbukti mengandung cacing. "Ada tiga produk ikan makarel, yaitu merek IO, Farmer Jack, dan HOKI," kata Kepala Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Kota Pekanbaru, Muhammad Kashuri, di Pekanbaru, Riau, Rabu, 21 Maret 2018. (Bangkapos.com)

Dengan begitu, lembaga yang berada di bawah koordinasi Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) itu menyerukan produk impor ikan tersebut harus segera ditarik dari peredaran di masyarakat agar tidak mengonsumsinya. Hal ini dikarenakan berdasarkan temuan uji laboratorium terkonfirmasi bahwa ada kandungan cacing Anisakisspecies.

Adapun cacing Anisakis sp. merupakan  parasit yang dapat menimbulkan masalah pada ikan hingga pada manusia, sehingga bila dikonsumsi tanpa dimasak, atau dalam keadaan setengah masak, akan mengakibatkan penyakit.

Sebelumnya, kasus tentang beredarnya makanan atau produk yang dapat dikatakan membahayakan kesehatan masyarakat sudah seringkali kita jumpai. Beberapa temuan sidak mendadak oleh Satgas Pangan tentang banyaknya makanan yang tak layak jual di pasaran telah menunjukkan hal tersebut. Salah satu contohnya yang dilansir liputan6.com, Polres Jakarta menemukan gudang penyimpanan makanan kadaluwarsa di Blok C6, Komplek Pergudangan Angke Indah, Kapuk, Cengkareng Jakarta Barat.

Jika demikian, masyarakat harus cerdas dan lebih teliti dalam membeli dan mengonsumsi makanan yang dijual di pasaran. Tidak hanya itu, masyarakat juga akan merasa resah dengan ketidakamanan makanan yang beredar tersebut.

Merasa Tak Aman Makan di Rumah Sendiri
Sudah menjadi pemahaman umum bahwa makanan merupakan komponen terpenting penunjang kelangsungan hidup manusia. Dengan mengonsumsi makanan, tubuh manusia bisa memproduksi tenaga sehingga mempunyai kekuatan dan kemampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari.

DetikFood menyatakan bahwa menurut beberapa peneliti mengatakan manusia dapat bertahan tanpa makanan sampai dua bulan jika tetap mengkonsumsi cairan. Pendapat lain mengatakan jika ada air, waktu kelangsungan hidup manusia kemungkinan bisa lebih dari tujuh hari tanpa makanan. Sehingga jika manusia tidak bisa meemnuhi kebutuhan makannya dalam jangka yang lama akan menghantarkan pada kematian.

Namun, ketika kondisi peredaran makanan di masyarakat tak lagi aman akan timbul sebuah keresahan di masyarakat bahkan akan mengancam kesehatan masyarakat itu sendiri. Kita bisa mengetahui bahwa banyak sekali makanan-makanan yang tidak bersahabat dengan kesehatan masyarakat namun tersebar luas dipasaran.

Makanan tersebut dapat berupa makanan instan, makanan dengan campuran formalin dan bahan berbahaya lainnya. Akhirnya masyarakat merasa tak aman makan di rumah sendiri.

Padahal, Indonesia merupakan negara hukum. Sebagai negara hukum pastinya mempunyai aturan kaitannya dengan peredaran makanan di masyarakat. Setidaknya Pemerintah telah menyusun beberapa kebijakan umum mengenai Sistem Pangan Nasional yang dituangkan dalam bentuk Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, Keputusan Presiden, dan Keputusan Menteri.

Ada 8 Undang- Undang yang mengatur hal tersebut salah satunya Undang – Undang No. 7 tahun 1996 tentang Pangan. Adapun yang berkaitan dengan Peraturan Pemerintah ada 3 kebijakan, salah satunya Peraturan Pemerintah No. 28 tahun 2004 tentang Keamanan, Mutu dan Gizi Pangan.

Akan tetapi ketika banyak temuan makanan berbahaya beredar di masyarakat, salah satunya tentang makanan impor kaleng yang mengandung cacing tersebut  di atas, ini membuktikan bahwa  hukum yang ada tidak cukup efektif untuk mengatur peredaran makanan yang ada. Aturan yang  ada tidak cukup transparan untuk menjamin keamanan pangan nasional, salah satunya keamanan masuknya makanan impor.

Hal tersebut juga menunjukkan adanya praktik gelap pada podusen barang. Para produsen barang ini  jelas kurang mempertimbangkan kesehatan bagi konsumen. Tujuan dari mereka adalah bagaimana agar produk tetap terjual dan mendapatkan laba yang besar. Hal ini sejalan dengan prinsip ekonomi yang mengatakan bahwa dengan modal sekecil-kecilnya mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya. Akhirnya, hanya keuntungan yang sebebsar-besarnya lah yang menjadi fokus utama para produsen barang.

Selain itu, dalam kondisi ini nampak pula bahwa negara lalai dalam melindungi rakyatnya dalam mengkonsumsi makanan yang halal dan baik. Negara terlalu abai dalam memperhatikan kesehatan masyarakat. Padahal, salah satu tugas negara adalah melindungi warna negaranya dari segala mara bahaya, baik secara langsung maupun tidak dalam segala bentuk. Khususnya yang berkaitan dengan beredarnya produk-produk makanan di masyarakat.

Sesungguhnya, semua hal di atas tidak terlepas dari sistem ekonomi kapitalistik yang diterapkan di Indonesia. Ide dasar dari sistem ekonomi kapitalis adalah sekuler yakni pemisahan agama dari kehidupan. Sehingga, para produsen dalam membuat makanan tidak akan mempertimbangkan halal dan halal, kurang mempertimbagkan aspek  bahaya dan aman, yang ada dan utama  adalah keuntungan.

Pasalnya tolok ukur dalam pemahaman sistem ekonomi kapitalisme adalah manfaat. Manfaat ini dapat berupa materi yang sebanyak-banyaknya guna memuaskan keinginan yang dimiliki. Ditambah lagi, dalam sistem kapitalisme, fungsi negara hanya sebagai pengatur, bukan pelindung.

Tugas perlindungan telah diambil alih oleh lembaga-lembaga individu atau swasta. Sehingga peran negara dalam menjaga dan melindungi masyarakat akan mudah terlepas begitu saja. Sehingga wajar jika dalam koridor negara hukumpun, peraturan yang ada tidak cukup efektif untuk mengatur apa yang harus diatur.

Jika makanan pun tak lagi aman, , apa yang harus dilakukan ? Masyarakat benar-benar tak aman makan di rumah sendiri. Setiap waktu harus merasa khawatir karena banyaknya makanan tak layak dimakan yang beredar di masyarakat.

Islam Menjaga Makanan Kita
Sesungguhnya setiap manusia memiliki potensi kehidupan yang sudah ada sejak lahir. Potensi kehidupan ini diberikan secara fitrah oleh Sang Pencipta, Allah SWT Dzat Sang Pencipta Hidup. Potensi kehidupan yang dimaksud adalah kebutuhan jasmani dan naluri. Adapun kebutuhan jasmani, salah satu pemenuhannya adalah dengan makanan.

Sehingga kebutuhan jasmani merupakan kebutuhan urgen yang harus segera dipenuhi karena berkaitan langsung dengan kelangsungan hidup manusia. Sedangkan naluri pembagiannya ada tiga jenis, yakni naluri mempertahankan diri (gharizah Baqa’), naluri beragama (gharizah tadayyun), dan naluri melestarikan jenis (gharizah nau’).

Masyarakat Indonesia mayoritas beragama Islam. Dan islam telah mengatur secara jelas tentang makanan bagi umat manusia. Dalam Al-Qur’an sebagai pedoman hidup, terdapat sebuah ayat yang menyatakan bahwa manusia diharuskan untuk memilih makanan yang halal dan baik. Halal menurut syari’ah juga mebawa kebaikan bagi kesehatan manusia. Hal tersebut tersebut dalam QS Al-Baqarah : 168 :

Wahai manusia ! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan . Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu
Pemerolehan makanan yang halal dan baik ini didukung oleh penerapan sistem pengaturan pangan yang tranparan.

Hal ini dicontohkan oleh Rasulullah SAW ketika melakukan sidak di pasar Madinah kala itu. Beliau SAW menegur salah seorang penjual kurma di pasar madinah yang menimbun kurma busuknya dibawah kurma yang bagus agar pembeli terkecoh. Namun, setelah Rasulullah mengetahui hal tersebut, secara langsung Beliau SAW meminta kurma busuk tersebut ditarik dari pasaran.

Fakta lain juga dikisahkan oleh Amirul Mukminin, Umar bin Al-Khattab ketika menjabat sebagai kepala negara. Beliau melakukan sidak secara langsung di pasar dan menemukan kecurangan penjualan. Dikisahkan seorang penjual susu mencampur susunya dengan air. Mengetahui hal tersebut, Amirul Mukminin menegur secara keras dan perbuatan tersebut termasuk hal yang dilarang dalam jual beli.

Di lain hari, beliau pun pernah mendengar secara langsung percakapan antara Ibu dan anak, di mana sang ibu meminta anaknya mencampurkan susu dengan air untuk dijual. Namun sang anak menolak karena hal tersebut di larang oleh Umar ra. Sebagai pemimpin saat itu.

Sang Ibu pun menimpali bahwa demi mendapatkan keuntungan besar hal itu harus dilakukannya, sedangkan Amirul Mukminin juga tidak mengetahui hal tersebut. Namun,cerdasnya sang anak menjawab bahwa jika Umar ra. tidak mengetahui, akan tetapi Tuhan Umar ra. Maha Mengetahui. Akhirnya, tercekatlah sang ibu oleh perkataan anaknya tersebut. Dan tidak jadilah susu itu dicampur dengan air.

Yang tidak kalah menariknya, ada seorang kepala negara mengantarkan makanan secara langsung kepada rakyatnya tanpa bantuan siapapun. Ia, lagi-lagi dialah Umar Bin Khattab ra. Beliau pernah secara langsung memanggulkan sekarung gandum untuk diberikan kepada rakyatnya yang sedang membutuhkan.

Beliau mengantarkannya secara langsung, bahkan di masak gandum tersebut sampai siap di makan rakyat tersebut. Ketika ditanya oleh ajudannya untuk dibantu memanggul gandum tersebut, Umar ra. mengatakan “ Tidak usah, karena apakah engkau juga akan mau memanggulkan dosaku dihadapan Allah karena hal ini ?”.

MasyaAllah, benar-benar pemimpin yang sangat bertanggung jawab.
Sungguh rindunya hidup dalam kondisi yang demikian, aman dan mendamaikan di mana bahan pangan terbebas dari kecurangan dan terjamin kehalalannya. Tidakkah kita menginginkan yang demikian ? Maka, kembalilah kepada sistem islam untuk mengatur kehidupan.[MO/sr]






BIODATA




Nama : ARUM RUMIATUN, S.Pd.
Tempat/Tgl Lahir : Tuban, 28 Juni 1989
Alamat : Ds. Kayen, Dk. Ngula’an RT 011 RW 003, kec.Bancar-Tuban
Agama : Islam
Pekerjaan : Guru
HP : 085731299850









Oleh; Siti Rahmah

Mediaoposisi.com- Sontak booming, pernyataan Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto menyebut ramalan Indonesia bubar di tahun 2030. Apa yang di nyatakan oleh Ketua Umum Gerindra tersebut tentu menuai pro kontra, ada yang menyikapinya fositif tapi tidak sedikit yang nyinyir dengan pernyataan tersebut.

Apalagi ketika di sampaikan apa yang melatar belakangi pernyataan Mantan Panglima Kostrad  tersebut tentang ramalannya bahwa indonesia akan bubar di tahun 2030 yaitu kutipan dari sebuah karya fiksi ilmiah novel fiksi Ghost Fleet: a Novel of The Next World War, karya pengamat militer Petter W. Singer dan August Cole sebagai dasar ramalannya.

Ghost Feelt merupakan karya fiksi Ilmiah yang mengulas isu perang masa depan, termasuk isu perang Dunia III. Telaahan dalam novel tersebut di susun melalui hasil pengamatan dinamika politik, persaingan tekhnologi, termasuk isu spionase diantara ketiga negara:

Amerika Serikat, China dan Rusia. Sang penulis tidak lagi menyebut perang sebagai perebutan wilayah ataupun sumber daya alam, sebagai mana terjadi pada pertempuran - pertempuran besar sebelumnya.

Singer, di lansir dari San Diego Union Tribune menyebut, "Perang akan berubah menjadi perebutan pengaruh yang melemahkan siapapun yang tidak sigap memantaunya". Jakarta, Liputan6.com. Benarkah negeri kita sedemikian genting dan terancam bubar sperti yang di katakan oleh Prabowo?

Kajian Kritis
Apa yang di sampaikan seorang pemimpin partai politik tentu bukan sekedar ungkapan yang tidak memiliki landasan dan tujuan. Sehingga wajar adanya ketika pro kontra pun terjadi dalam merespon ucapannya tersebut, seakan akan ungkapan tersebut sebagai test cash untuk mengetahui arus suara masyarakat sebagai bahan kajian demi di tindak lanjuti untuk persiapan menjelang pemilu 2019. Dan ternyata benar adanya munculah komentar - komentar dari para tokoh terkait ramalan Prabowo tersebut.

Seperti ungkapan Ketua Pusat Study dan Keamanan (PSPK) Universitas Padjadjaran, Muradi, yang memiliki pendapat berbeda dengan Prabowo. Muradi menyebut, "kegagalan Uni Soviet dan Yugoslovakia karena adanya sebab ancaman dari luar. Kalau yang mengancam (Indonesia) dari luar, siapa? ga ada kan?" kata Muradi kepada Liputan6.com, Jumat (23/3/2018).

Nada optimispun di sampaikan oleh Ketua Umum PBNU Said Aqil Sirodj dan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir yang menepis ramalan bubarnya Indonesia di tahun 2030.

Berbeda dengan pendapat tokoh - tokoh diatas, Mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo mengajak semua pihak merenungkan pernyataan Ketua Umum Partai Gerinda Indonesia tentang Indonesia Bubar tahun 2030. " soal ancaman Indonesia bubar 2030 bahkan bisa lebih cepat tapi ada apabinya" kata Gatot saat berkunjung ke redaksi CNN Indonesia. Kamis, 22/3. 

Hal senada di sampaikan  Wakil Ketua DPR Fadhli Zon yang mengungkapkan "apa yang di sampaikan Prabowo intinya mengingatkan masyarakat agar tidak lengah lantaran semua itu bisa saja terjadi". TribunNews.com

Begitupun dengan pernyataan Calon Presiden dari PKS Anis Matta menilai bahwa "polemik novel "Ghost Feelt" positif dan menjadi alarm bagi Indonesia. Yang lebih penting apa yang harus kita lakukan mulai dari sekarang? jika keadaan berjalan linear,  dan kita tidak melakukan apa - apa, maka kita akan menjadi pelanduk yang terinjak - injak diantara dua gajah yang bertarung", ujar anis Matta, Tribunnews.com Minggu 23/3/2030. 

Indonesia hari ini
Apa sebenarnya yang terjadi dengan Indonesia saat ini, sehingga ramalan Ketua Umum Gerindra tentang bubarnya Indonesia tahun 2030 di respon begitu besar. Bahkan sebagian tokoh dengan latar belakang berbeda menganggap lamaran tersebut sebagai sinyalemen, alarm dan peringatan penting yang harus di waspadai dari sekarang, sedemikian terpuruknyakah tanah air kita?

Walaupun ada sebagian tokoh yang menepis ramalan tersebut hanya saja kekuatan data sepertinya melemahkan keoptimisan tersebut jika layak di sebut optimis, mungkin lebih tepatnya menutup mata dari realita yang terjadi. Karena faktanya hari ini banyak permasalahan yang di hadapi Indonesia tanpa ada kepastian penyelesaiannya.

Misal dari sisi penegakan hukum sudah menjadi rahasia umum lemahnya  penegakan hukum di Indonesia, banyak kasus hukum yang menjerat aparatur negara tapi penanganan yang begitu lamban sedangkan ketika menyangkut rakyat jelata hukum begitu sigap dan tegas. atau ketikadilan yang mnjerat kaum muslimin dan ormas Islam dengan penanganan yang begitu serius tapi begitu lemah ketika di hadapkan dengan orang atau ormas pro pemerintah.

Belum lagi masalah ekonomi saat ini hutang Indonesia sudah mencapai lebih dari 4000 triliyun sehingga menjadi pemicu lesunya perekonomian dan merebaknya kesenjangan. Dari sisi kehidupan sosial sudah tidak di hitung lagi kasus - kasus sosial yang menimpa masyarakat yang tak kunjung usai. Kriminalisasi, kebobrokan moral pelajar, pembunuhan, perampokan, pemerkosaan seolah - olah menjadi bom waktu yang begitu menakutkan.

Disisi lain nya kekayaan alam Indonesia (SDA) yang di miliki Indonesia sudah di kuasai asing dan aseng  bahkan penguasaan yang tidak hanya dari sektor hullu saja tapi sampai sektor hilir bahkan sampai yang terkecil asing sudah berperan sampai - sampai di tahun 2018  Presiden Jokowi meminta perizinan WNA di permudah.

Di sisi lain kualitas SDM yang begitu lemah di gempur dengan persaingan WNA yang membanjiri Indonesia menambah ruyam kemelut permaslahan yang hadapi. Melihat kenyataan seperti ini yakin Indonesia masih baik - baik aja?

Solusi Tuntas 
Apa yang terjadi dengan Indonesia memang begitu mengenaskan jika kita sebagai kaum muslim dan generasi anak negeri tidak segera mengambil peran dan misi penyelamatan. Berbagai masalah yang di hadapi jika tidak segera di selesaikan bukan tidak mungkin jika nantinya akan menghantarkan Indonesia ke jurang kehancuran.

Hanya saja penyelesaian yang harus di lakukan tentu bukan sekedar penyelesaian yang parsial, bukan hanya sekedar bongkar pasang pemimpin dan rezim yang berkuasa. Tapi penyelesaian yang harus di lakukan adalah penyelesaian yang fundamental penyelesaian yang menyeluruh, perubahan sisitem yang di terapkan.

Apalagi jika mengutip pernyata calon Presden dari PKS yang menggambarkan Indonesia di kangkangi dua gajah besar(negara adidaya) yang sedang bertarung maka dimana posisi Indonesia?
Sesungguhnya Indonesia bisa menjadi Gajah besar itu dan mampu melawan kekuatan negara - negara adidaya, seandainya Indonesia terbuka menerima kekuatan besar yang sudah bergejelok di tengah - tengah masyarakatnya, kekuatan besar itu adalah Idiologi Islam yang sudah banyak di sadari dan di perjuangkan oleh rakyat Indonesia.

Ketika Indonesia memberikan ruang untuk Idiologi ini berperan dalam menyelasaikan permasalahan dan melakukan perubahan maka bubarnya Indonesia hanya akan jadi sebuah fiksi belaka. Karena Islam akan menyelamatkan Indonesia bahkan akan mengambil peran dalam pertempuran  memperebutkan pengaruh dunia dan dengan penerapan idiologi Islam Indonesia akan memenangkan pertempuran tersebut dan lahirlah menjadi negara adidaya di dunia, InsyaAllah. [MO/sr]