Oleh: Fardila Indrianti, S.Pd
"The Voice Of Muslimah Papua Barat dan Anggota Akademi Menulis Kreatif"

Mediaoposisi.com-Bulan agustus adalah momen yang dinanti bangsa Indonesia, saat dimana perayaan kemerdekaan negara yang menjadi penanda lahirnya bangsa yang merdeka dan terbebas dari penjajahan bangsa asing. Euforia menyambut hari kemerdekaan ini disambut oleh segala lapisan masyarakat, baik anak-anak, muda atau tua.

Perayaannya pun beragam, mulai dari tarik tambang, panjat pinang, makan kerupuk, balap karung, dan lain sebagainya. Namun lebih dari sekedar perayaan semu belaka, apakah kita telah benar-benar merdeka?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, merdeka artinya bebas dari penghambaan, penjajahan, dll; berdiri sendiri; tidak terkena atau lepas dari tuntutan; tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu; atau leluasa.

Merdeka berarti bebas dari penjajahan, bebas dari tahanan, bebas dari kekuasaan, bebas intimidasi, bebas tekanan, dari nilai dan budaya yang mengungkung diri kita.

Secara kasat mata negara ini telah merasakan kemerdekaan selama 73 tahun, namun tanpa disadari hal ini masih jauh dari kata merdeka. Perayaan tahunan yang dilakukan dinilai mampu membangkitkan rasa nasionalisme seluruh rakyat Indonesia.

Namun kenyataannya, peringatan kemerdekaan hanya menjadi acara seremonial belaka, tidak membekas kedalam jiwa-jiwa rakyat Indonesia.

Anggapan bahwa kemerdekaan ini mampu memberikan semangat kepada rakyat sehingga patut disyukuri dan dirayakan, namun tanpa disadari justru memalingkan kita dari berbagai fakta yang ada bahwa sampai saat ini rakyat masih terkungkung dalam penjajahan dalam bentuk dan cara yang lain.

Sangat disayangkan, kenyataan bahwa sistem sekularisme dan nasionalisme dijadikan sebagai landasan berdirinya negara Indonesia dengan harapan dapat membawa kemajuan meningkatkan martabat bangsa.

Namun hal ini justru menjadi bumerang bagi bangsa ini, keterpurukan dan kesengsaraan masih dirasakan rakyat dengan permainan data statistik yang jauh dari kenyataan di lapangan.

Para pemuda bangsa saat ini misalnya, yang justru dengan bangga menjadi generasi pembebek budaya asing tanpa jati diri tanpa memikirkan masa depan bangsanya.

Lihatlah bagaimana perilaku dan gaya hidup hedonisme yang diadopsi generasi bangsa ini, hingga muncul julukan “kids jaman now” yang cenderung dimaknai secara negatif baik dari segi pergaulan maupun gaya hidup.

Kaum muda tanpa malu melakukan berbagai tindakan yang jauh dari agama dan norma-norma di dalam masyarakat, pergaulan bebas yang berujung pada tindak aborsi, merokok, tawuran, geng motor, pengedaran narkoba, dan lain sebagainya. Tidak dapat ditampikkan bahwa sebagian para pemuda mampu menjadi teladan dan kebanggaan bangsa, namun presentasenya sangat kecil bila dibandingkan dengan para pemuda pembebek bangsa asing.

 Disisi lain kebijakan ekonomi negara pun masih berada dalam campur tangan pihak swasta dan asing. Sebut saja BUMN yang sejatinya dapat menjadi sumber pemasukan yang besar bagi negara jika pengelolaan dan pengawasannya dilakukan dengan baik.

Namun yang terjadi adalah semakin banyak BUMN yang diserahkan kepada pihak asing. Presiden Joko Widodo dalam acara Musrenbang Nasional 2017 di Hotel Bidakara, Jakarta Pusat, Rabu (26/4/2017) memerintahkan BUMN untuk menjual proyek infrastrutktur yang sudah rampung dibangun kepada swasta. Pola itu dilakukan supaya BUMN mendapatkan dana segar untuk bisa membangun proyek infrastruktur lainnya dengan cepat. (Kompas.com/26/4/2017)

Pencapaian dalam bidang pendidikan pun dinilai masih rendah. Pemilihan sistem negara yang telah rusak sejak awal juga mempengaruhi sistem pendidikan yang ada. Para pemuda dididik sejak awal untuk menjadi alat produksi hidup bagi para pengusa. Tanggung jawab yang diemban para pendidik bangsa berbanding terbalik dengan penghargaan yang diberikan negara.

Kesejahteraan yang diberikan kepada guru honorer saja misalnya, bahkan jauh dari Upah Minimum Rata-rata. Hal ini dibenarkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy. Muhajir mengakui kesejahteraan guru honorer saat ini masih memprihatinkan. Menurutnya, guru honorer belum mendapatkan upah layak sebagai tenaga pengajar. (detik.com/3/5/2018)
Senada dengan hal tersebut, Bank Dunia (World Bank) menyebut bahwa kualitas pendidikan di Indonesia masih rendah, meski perluasan akses pendidikan untuk masyarakat dianggap sudah meningkat cukup signifikan.

Kepala Perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia, Rodrigo Chaves mengatakan kualitas pendidikan yang rendah tercermin dari peringkat Indonesia yang masih berada di posisi tertinggi dari negara-negara tetangga. (Cnnindonesia.com/7/6/2018).

Menurut Badan Pusat Statistik sebanyak 128,06 juta penduduk Indonesia adalah angkatan kerja, jumlahnya bertambah 2,62 juta orang dari Agustus 2016. Sejalan dengan itu, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) juga meningkat 0,33 poin. Pada tahun 2017, pengangguran bertambah 10 ribu orang, sementara TPT turun sebesar 0,11 poin. (www.bps.go.id/6/11/2017)

Dari segi ekonomi terjadi permasalahan yang tidak kalah hebat. Disaat para petani mencoba menopang kebutuhan negara, pemerintah justru mendatangkan kebutuhan-kebutuhan tersebut dari negara luar.

Rakyat tercekik dengan peningkatan berbagai harga kebutuhan dasar, BBM, bahkan tarif dasar listrik, hal ini justru bertolak belakang dengan solusi yang ditawarkan pemerintah yang dinilai cacat logika.

Hal ini sempat menghebohkan media sosial perihal cuitan netizen tentang Keong Sawah. Menteri Pertanian RI, Andi Amran di sela inspeksi dadakan Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta. Terkait harga daging yang mahal dipasaran, Menpan menyarakan agar masyarakat beralih ke komoditas lain yang proteinnya sama dengan daging yakni tutut atau keong sawah. (Tribunnews.com/6/12/2017)


Secara politik, Indonesia belum mampu melepaskan diri dari cengkraman hegemoni negara-negara adikuasa. Arah kebijakan negara telah disetir oleh pihak asing dan aseng sehingga tidak jarang banyak kebijakan yang diambil negara menguntungkan para pemodal, misalnya peran IMF dan World Bank dalam menentukan kebijakan Indonesia.

Atas nama demokrasi, toleransi, HAM dan pluralisme negara diserang dari berbagai sisi. Penjajahan gaya baru, tanpa senjata, tanpa kekerasan, dilakukan secara halus namun sangat berbahaya sehingga tanpa disadari kita telah dijajah. Setiap tahun kita merayakan hari kemerdekaan dengan kegembiraan namun tanpa sadar kekayaan kita telah dikuasai dan diekspolitasi oleh bangsa asing atas nama kerja sama. Sebut saja tambang emas, minyak bumi, gas dan berbagai sumber daya lainnya yang sejak lama telah dikuasai oleh PT Freeport, Newmont, dan lain-lain yang dimuluskan melalui perundang-undangan negara ini. Ironis bukan?

Momok yang tanpa disadari makin menggerogoti bangsa ini bersumber dari neo liberalisme dan neo imperialisme. Kelompok neo liberal ini telah menempatkan agen-agennya dalam bangku pemerintahan sehingga mampu menguasai aset dan sumber daya alam yang kita miliki lewat undang-undang yang dibuat dan disahkan oleh para wakil rakyat. Tanpa senjata, tanpa pasukan yang harus menyerang dan menguasai negara ini, cukup mempengaruhi dan menyetir kebijakan-kebijakan pemerintah.

Sejumlah undang-undangpun telah disahkan terkait hal ini, misalnya warga negara asing dapat memiliki properti di tanah air, kepemilikan asing atas sumber daya alam, kepemilikan pihak asing dalam menguasai fasilitas negara yang menyangkut hajat hidup orang banyak, seperti air, jalan, tol, bahkan pulau.
Kemerdekaan yang hakiki dapat kita raih apabila kita mampu membebaskan diri dari segala bentuk penghambaan kepada yang lainnya dan kembali kepada segala aturan yang bersumber dari Allah SWT, baik dalam hal ibadah, bermasyarakat sampai bernegara. Hal ini tidak akan mungkin terwujud selama sistem atau aturan yang dibuat berasal dari manusia, salah satunya sistem kapitalisme.[MO/an]


Oleh: Rini Suhud (Pemerhati Pendidikan)

Mediaoposisi.com-Baru-baru ini media digemparkan dengan berita tentang seorang remaja usia 15 tahun korban pemerkosaan dijadikan tersangka dalam kasus aborsi, karena melanggar undang-undang perlindungan anak. Baik media nasional dan internasionalpun tengah menyoroti kasus ini. Elemen masyarakat  menilai bahwa kasus ini tidak adil, karena korban perkosaan boleh melakukan aborsi. (https://www.kompas.tv/content/article, 12/8/2018).

Mari kita menelaah tentang permasalahan ini dengan cermat. Kasus-kasus tentang aborsi bukanlah sesuatu hal yang baru. Bahkan dalam tahun ini saja, sudah ada beberapa berita tentang kasus aborsi. Mengapa orang dengan sangat mudah melakukan aborsi? Mengapa mereka begitu tega menggugurkan calon jabang bayi yang tak berdosa ?

Kasus maraknya aborsi, sebenarnya lebih disebabkan oleh kehamilan yang tidak diinginkan (KTD). Umumnya, kehamilan yang tidak diinginkan (KTD) ini terjadi akibat perkosaan, pergaulan bebas atau incest seperti kasus tersebut di atas. Kenapa ini bisa terjadi? Inilah dampak negatif dari pergaulan bebas atau free seks yang memang diagung-agungkan dan digembar-gemborkan oleh para Liberalisme, berakibat pada kehamilan di luar nikah dan berakhir pada aborsi.

Terlebih lagi, lemahnya kontrol dari pemerintah dan peraturan pemerintah dalam tangani masalah ini terutama terkait dengan sanksi yang akan diberlakukan pada para pelaku maksiat.

Pemerintah membuka ruang kesempatan aborsi bagi sebagian kondisi kehamilan. Aturan yang melegalkan aborsi : PP No. 61 Tahun 2014 telah ditanda tangani Presiden SBY tanggal 21 Juli 2014. Pasal 31 ayat 2, PP No. 61/2014 disebutkan : tindakan aborsi akibat perkosaan hanya dapat dilakukan bila kehamilan paling lama berusia 40 hari dihitung sejak hari pertama haid terakhir.
(https://republika.co.id, 09/8/2014).

Dengan demikian, dengan terbitnya peraturan tersebut bukanlah menyelesaikan masalah tapi yang ada menambah masalah. Karena, berdampak pada penyesatan opini dalam upaya legalisasi pergaulan bebas atau free sex. Pergaulan bebas ini adalah wujud dari salah satu hak asasi manusia yang berasal dari paham sekulerisme yang sangat mengagungkan kebebasan manusia dalam bertingkah laku.
Bagaimana cara mengatasi masalah ini  dengan tuntas ? Yaitu dengan menerapkan aturan Islam

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

Artinya : “Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki? (Hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang meyakini (agamanya)?” QS. Al-Maidah [5] : 50.

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
Artinya : “Janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh perbuatan keji dan  dan suatu jalan yang buruk”(QS : Al-Isra[17]:32”).

Dari ayat ini, sudah menunjukkan bahwa apapun jenis perbuatan yang menghantarkan kepada zina tidak diperbolehkan. Seperti: pegangan tangan, cipika-cipiki pada yang bukan mahramnya, kissing (ciuman) atau yang lainnya yang bisa memancing ke arah perzinaan. Terus bagaimana agar hukum ini bisa terlaksana secara maksimal? Menurut pandangan Islam, ada 3 pilar yang sangat berperan dalam mengontrol masalah ini, agar tidak terjadi lagi kasus pemerkosaan yang berujung pada KTD dan aborsi, yaitu :

Kontrol negara

Negara harus  menerapkan peraturan pergaulan sesuai aturan Islam. Negara yang akan mengontrol dan mengawasi segala bentuk media dalam publikasinya, sehingga tidak berpontensi membangkitkan masalah seksual. Karena negaralah yang bertanggung jawab dan akan diminta pertanggung jawaban di hadapan Allah dalam mengurusi rakyatnya.

Kontrol masyarakat

Masyarakat yang bertakwa dan beriman kepada Allah SWT, berkewajiban  mengontrol dan mengoreksi negara dalam menjalankan roda pemerintahan. Apakah kebijakan-kebijakannya sudah sesuai dengan aturan Islam atau tidak ?

Individu rakyat yang bertakwa.

Individu-individu rakyat yang bertakwa, dimana mereka sebelum berbuat tentunya akan melakukan idrak sillah billah (setiap perbuatan akan diminta pertanggung jawaban di hadapan Allah SWT). Dengan kata lain, senantiasa mengharapkan ridlo Allah dengan melakukan amal perbuatan sesuai dengan syariat-Nya. Dengan sikap ini, individu-individu rakyat untuk  juga berperan dalam mengontrol masalah pergaulan dan aborsi.[MO/an]





Oleh : Lita ummu Bareeq

Mediaoposisi.com-Sudah menjadi pemandangan yang biasa ketika memasuki bulan agustus sang merah putih berkibar dimana-mana,itu menandakan bahwa bulan kemerdekaan sudah tiba.

Dimana masyarakat  lndonesia menyambut bulan kemerdekaan dengan digelarnya berbagai jenis acara yang katanya itu acara sebagai perayaan kemerdekaan Indonesia dalam melawan penjajah kala itu.Apakah benar demikian ?

Bangsa ini sudah menginjak usia yang ke 73 tahun Sejak pertama kali kemerdekaan di proklamirkan.

Sayangnya jika melihat kondisi bangsa sekarang  ini,  apa yang dicita-citakan para pejuang kemerdekaan belum sepenuhnya berhasil kita wujudkan. Amanah kemerdekaan yang seharusnya menjadi pupuk tumbuhnya generasi berkualitas masih jauh dari harapan.


Dalam bidang ekonomi misalnya, meskipun sumber daya alam kita melimpah ternyata bukan jaminan  kesejahteraan. Jika di masa sebelum kemerdekaan, kekayaan alam kita dikeruk penjajah di bawah tekanan fisik. Maka saat inipun itu masih terjadi.

Bedanya sumber daya alam yang melimpah saat ini banyak dikuasai asing atas nama investasi. Freeport contohnya, perusahaan asing itu telah mengeduk keuntungan yang melimpah , leluasa mengeksplorasi bijih emas, tembaga dan perak di bumi Papua.

Kekayaan mengalir pada asing dan segelintir orang saja, tanpa secara nyata mensejahterakan warga pribuminya sendiri.  Bencana kelaparan dan gizi buruk bahkan pernah terjadi, di tanah yang kaya emas ini.

Pembangunan sangat bergantung pada utang. Pinjaman  yang menyebabkan negara tidak bisa bebas bergerak menentukan kewenangan. Kemerdekaan mengendalikan negara harus terampas dibawah intervensi para kapitalis global.

Dominasi para pemilik modal juga telah membuat rakyat kehilangan kemerdekaan dalam berpolitik.

Di atas para pemilik kekuasaan dan uang, ternyata hukumpun dibuat tak berdaya. Kasus jual beli lapas yang dibuat sangat berkelas adalah fakta tak terbantahkan,  yang menunjukan peradilan negeri ini masih bisa dibeli. Hukum tumpul ke atas tajam ke bawah bukan hanya cerita. Lagi-lagi tatanan hukumpun gagal merdeka.  Bertekuk lutut di bawah kendali uang,  tak lagi teguh menjalankan aturannya.

Demi  kepentingan para pemilik modal pula, arus budaya tak terbendung. Tidak ada kebijakan yang fundamental yang bisa mencegah berkembangnya arus budaya permisif. Demi keuntungan dan rating, media-media minim edukasi, Sehingga nilai-nilai ketimuran bangsa yang sarat nilai keagamaan terus tergerus bahkan berangsur hilang terjajah budaya barat yang sarat kebebasan.[Mo/an]  



Oleh : Isromiyah SH
 (Pemerhati Generasi )

Mediaoposisi.com-Penggunaan media sosial saat ini semakin meningkat seiring dengan perkembangan zaman. Facebook, Twitter, Line, WhatsApp, Instagram, Path, Snapcat dan masih banyak lagi jenisnya.

Belum lagi tambahan fitur-fiturnya  untuk foto bahkan video. Media sosialpun memiliki kekuatan untuk mempengaruhi pandangan publik .

Sebagaimana kasus seorang Pandu Darma Wicaksono, mantan presiden Green Generation Indonesia Balikpapan yang menjadi tersangka kasus predator anak atau pencabulan terhadap anak. Sejak tertangkap di Yogyakarta pada 16 Nopember 2017, kasus Pandu menjadi viral karena selain didakwa melakukan pelecehan seksual sesama jenis pada setidaknya 6 anak yang tersebar di berbagai kota di Indonesia, tersangka dikenal  sosok  cerdas dan tercatat sebagai mahasiswa UGM.

 Sidang lanjutan kasus Pandu yang berlangsung tertutup  pada 8 Agustus 2018 di Pengadilan Negeri Balikpapan menyisakan opini  tidak sehat di medsos.

Lambannya proses hukum  membangun opini di media sosial bahwa kasus Pandu itu direkayasa. Kuasa hukum Pandu yang terus memberikan pembelaan pernah menyebut ada kepentingan politik di balik kasus Pandu, karena sebelumnya ia menduduki banyak jabatan strategis (Balikpapan prokal,8/8/18). 


Opini yang terus dibangun di medsos, dianggap pegiat perempuan dan anak Helga Inneke Agustine Worotitjan, akan menggiring opini publik dan menjadi intimidasi bagi para korban kekerasan seksual.

“Upaya-upaya pembelaan diri pelaku pencabulan anak dengan menggiring opini publik bisa menjadi intimidasi bagi para korban. Menyikapi ini, masyarakat harus lebih jeli dan bersama-sama berada pada pihak korban sebagai bentuk solidaritas nyata,” jelas Helga. Helga yang juga survivor

pendamping para korban kekerasan perempuan dan anak ini mengatakan, memberi rasa aman pada korban merupakan bentuk nyata perlawanan terhadap pelaku kekerasan terhadap anak.

“Apalagi, dalam konteks kasus pencabulan anak yang tengah disidangkan, pelaku adalah fasilitator forum anak yang seharusnya melindungi anak-anak dari predator. Bukan malah membuat ruang berkarya dan berprestasi anak-anak menjadi ruang rentan dan berbahaya,” tegasnya.

Mengacu pada UU Perlindungan Anak Nomor 35/2014. Tersangka dikenakan Pasal 290 ayat 2e dan Pasal 292, serta Pasal 65 KUHP, karena ada indikasi perbuatan melawan hukum. Namun lambannya penanganan hukum pada kasus pencabulan anak ini mengindikasikan ketidakseriusan dan tebang pilih dalam penyelesaian hukum.

Sungguh peradilan yang miris. Padahal  dampak  pencabulan terhadap anak, baik dampak negatif jangka pendek maupun jangka panjang berupa dampak psikologis, emosional, fisik dan sosialnya, termasuk penyakit psikologis di kemudian hari bukanlah perkara yang ringan.

Islam telah memberikan solusi atas permasalahan ini, sifatnya mencegah, menghentikan pelaku sekaligus menyelesaikan permasalahan penyimpangan seksual.

Solusi pertama adalah pembinanan keimanan setiap individu, ini dilakukan oleh individu itu sendiri, masyarakat dan juga negara. Semuanya bertanggungjawab dalam membina dan menjaga keimanan, karena keimanan adalah benteng pertama yang bisa menghindarkan atas semua penyakit kemaksiatan.

Kedua, secara sistemik negara pun harus ikut campur untuk  menghilangkan pornografi dan pornoaksi yang melibatkan media cetak ataupun elektronik. Ketiga, pengadilan dalam pemerintahan Islam menerapkan hukuman sesuai hukum syara yang memberikan efek jera bagi pelaku dan mencegah bagi yang belum melakukan.

Hal ini didasarkan kepada hadits Rasulullah SAW. Rasulullah bersabda: ”Siapa saja yang kalian temukan melakukan perbuatan kaum Luth (liwath) maka hukum matilah baik yang melakukan maupun yang diperlakukannya” (HR. Al-Khomsah kecuali an-Nasa’i). 

Ketika ini diterapkan maka tidak ada celah bagi pelaku untuk menghindar. Hanya saja, semua ini tidak bisa dilakukan jika hanya mengambil sebagian hukum Islam. Jika benar-benar peduli akan nasib para generasi penerus, maka sudah seharusnya menerapkan Islam  secara sempurna dalam setiap aspek kehidupan.[MO/an]








Oleh: Rima septiani

Mediaoposisi.com-Setelah beberapa waktu lalu viralnya sosok Bowo Alpenliebe remaja 13 tahun yang bernama asli Prabowo Mondardo yang mendadak terkenal bermodal aplikasi Tik Tok. Belakangan ini Para pegiat dunia maya mulai beralih pada ‘Keke Challenge’ sebuah goyangan yang diiringi lagu “In My Feelings” milik Drake.

Ada yang bergoyang mengikuti mobil yang sedang berjalan dangan pintu yang tetap terbuka, ada yang dijalan dan beragam versi. Faktanya banyak orang yang tersihir mengikuti Keke Challenge ini. Viralnya Keke Challege ini dipopulerkan oleh Shiggy seorang komedian yang menggunggah videonya pada 30 Juni 2018 yang kemudian disaksikan oleh 6 juta mata.

Tak hanya dalam negeri, Tarian Shiggy ini menjadi terkenal dimancanegara. Buktinya, aktor Will Smith juga mengikuti tarian itu. Pada 18 Juli 2018, Drake bertemu langsung sang pelopor Keke Challange yakni Shiggy untuk memberikan apresiasinya atas tariannya itu yang membuat lagu “In My Feelings” mendunia(www.idntimes.com).

Selain itu, ada juga Momo Challenge sebuah tantangan berbahaya yang diperuntukan untuk gadis berusia 12 tahun.

Tantangan ini mengajak sesorang untuk melakukan bunuh diri. Keke Challenge dan Momo Challenge sejatinya merupakan tantangan yang sangat digemari anak-anak, remaja bahkan dewasa yang sebenarnya ini sangat berbahaya untuk dilakukan. Dikutip pada www.okezone.com(12/8/2018)

Generasi Krisis identitas
Begitu prihatin dengan kondisi remaja Muslim dinegeri kita yang sejatinya kehilangan identitas sebagai Muslim sejati. Faktanya mereka lebih memilih menggunakan waktu emas dengan mengikuti arus kehidupan kaum sekularis yang sia-sia memuja dunia.

Memilih hidup tanpa aturan agama dan mencintai kebebasan tanpa standar Halal dan Haram. Mencicipi satu persatu produk sampah kaum barat menguatkan bukti bahwa kita adalah korban.

Pengabaian terhadap peran agama menimbulkan kegersangan spiritual yang melanda remaja Muslim sekarang. Berbagai kasus maraknya  pembunuhan, pemerkosaan, bunuh diri, Aborsi dll muncul dari rendahnya kadar keimanan pada Allah.

Parahnya lagi, terdapatnya stigma negatif yang ditanamakan pada sesorang bahwa ketika mengkaji Islam lebih dalam maka berpotensi menciptakan bibit-bibit teroris yang dibenci masyarakat dengan embel-embel ‘Islam fanatik’. Belajar islam yang biasa-biasa saja. Seolah-olah mengenal Allah dan Rasulnya adalah hal yang harus dibatasi, Cerita surga dan neraka bagaikan dongeng belaka.

Krisis moral yang sering kita saksikan sekarang merupakan salah satu efek dari pengabaian nilai spiritual dalam mendidik anak. Didukung dengan media yang menawarkan tontonan yang kurang mendidik, mengajak bermaksiat, lupa mati dan mengajarkan sifat Hedonis.

Perilaku Pacaran adalah hal yang wajar bagi remaja, saling pandang, pegangan tangan, berciuman sampai melakukan perzinahan merupakan kebiasaan yang menjadi tren sekarang. Naudzubillah.
Mengenalkan identitas ‘saya Muslim’ bukan sesuatu yang penting untuk dibanggakan lagi. Faktanya sekarang, Muslim malu dengan Islam yang diyakininya.

Yang paling banyak mengemis, mencuri, merokok, mengancam, dan memfitnah itu Muslim. Faktanya, julukan terbelakang, tertindas, dan terhina adalah  dari kalangan Muslim. Dimanakah predikat Bahwa kita adalah Umat terbaik? Kemanakah  Predikat Muslim Ideal itu?

Salah siapa?
Fenomena rusakanya generasi sekarang menjadi mimpi buruk, terlebih bagi orang tua. Sebagai madrasah pertama bagi anaknya orangtua dituntut untuk mempersiapkan ilmu yang layak dalam mendidik anak untuk mempersiapakan generasi terbaik nantinya.

Apalagi mendidik anak remaja ibarat mengukir diatas batu. Pengajaran yang paling penting adalah mulai mengenalkan nilai agama  pada anak-anak.

Mengajarkan anak  bagimana cara mengenal Tuhan dan segala kebesarannya ,bagiamana Rasul berakhlak, bagaimana seseorang menghormati orang lain dan memperkenalkan bagaimana Islam mengatur segala perbuatan dan meyakinkan bahwa kita adalah Umat yang terdepan dan terbaik. Sejatinya ini adalah tantangan terbesar orangtua dalam mendidik anak di era Zaman Now.

Orang tua wajib memilihkan teman bergaul anak dan bagaimana memilih pendidikan terbaik. Lingkungan  akan mencerminkan bagaimana kepribadian yang akan terbentuk. Pondasi Akidah Islam mengokohkan mereka bahwa segala perbuatan akan dimintai pertanggung jawaban.

Sehingga penghambaan kepada Allah SWT merupakan suatu yang mereka harus taati. Rasa takut terhadap perbuatan maksiat akan membuat mereka terkontrol dalam melakukan suatu perbuatan. Itulah pendidikan Islam.

Peran masyarakat juga tak kalah penting, fungsinya adalah sebagai kontrol sosial. Artinya apa, Masyarakat tidak mendiamkan wabah penyakit perusak generasi, menular dikehidupan sosial. Kontrol masyarakat juga memiliki peran untuk mencegah kemaksiatan dari segala aspek. Fakta yang terjadi sekarang adalah terdapatnya masyarakat yang cuek terhadap apa yang melanda kehidupan ini.

Mereka sudah terbiasa dihadapkan dengan kejadian yang berulang sehinnga membuat mereka merasa tidak ada andil pencegahan kecuali datang dari pribadi yang melakukan kesalahan agar mau sadar dengan perbuatannya itu, beginilah mind set yang terbentuk sekarang. Ini salah.
Peran negara sejatinya merupakan peran yang tak bisa diabaikan.

Kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh penguasa akan berefek kepada umat. Negara merupakan perlindungan pertama bagi suatu bangsa. Negara mengambil fungi untuk memfilter pemikiran-pemikiran asing yang berniat merusak generasi.

Seperti pemikiran sekuler yang menyebarluaskan sifat materialistik, hedonis dan individualistik. Namun yang terjadi sekarang adalah, negara tak lagi memeberikan perhatian  pada  keamanan generasi sekarang maupun mendatang.

Islam adalah solusi
Dalam islam , remaja begitu dimuliakan. Keberadaannya bagaikan bibit peradaban yang harus dijaga dan dikembangkan. Islam memfasilitasi bagaimana potensi remaja bisa berguna bagi umat kelak nantinya.

Kita bisa melihat bagaimana didikan Rasul kepada Ali saat remaja dan didikan seorang ulama sekaligus guru Muhammad Al-Fatih dalam mempersiapakan kematangan seorang pemuda yang akan meggoreskan tinta emas bagi kemajuan peradaban Islam.

Islam  mengajarkan kepada manusia seluruhnya bahwa tugasnya didunia adalah untuk menjadi hamba Allah SWT sepenuhnya. Mencari gelar terbaik sebagai seorang pejuang agama Allah dan berusaha menjadi karyawan Allah.

Umur yang dikaruniakan disyukuri dengan melakukan ketaatan kepada Allah, Potensi yang dimiliki harusnya disumbangkan untuk membangun kejayaan Islam kembali yang selama ini ditumbangkan. Menjadi umat terbaik adalah seharusnya mimpi setiap insan yang mengaku Muslim.

Dan hanya  penerapan sistem islam secara Kaffah yang mampu membuktikan semuanya itu, dengan melihat bukti bahwa islam sudah berjaya selama 1400 tahun lalu.

Firman Allah SWT dalam surat Ali Imran ayat 110 yang artinya, “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah."[MO/sr]