Oleh: Tawati

Mediaoposisi.com-"Orang miskin dilarang sekolah!" Ungkapan ini nampaknya masih berlaku hingga hari ini. Sebagaimana Riset yang dilakukan Haruka Evolusi Digital Utama (HarukaEDU) di 2018 menyebutkan, 79% lulusan SMA/SMK yang sudah bekerja tertarik untuk melanjutkan kuliah lagi.  Namun 66% responden di antaranya urung kuliah karena mengaku terkendala biaya.

Salah satu kendala yang banyak ditemui oleh para lulusan SMA dan SMK untuk langsung melanjutkan ke perguruan tinggi di antaranya adalah persoalan biaya. 

Bahkan persoalan biaya juga masih membayangi para lulusan SMA/SMK tersebut, meskipun mereka telah bekerja dan memiliki penghasilan (24/12/2018).

Pendidikan Era Kapitalis

Ironi yang sering terjadi di dunia pendidikan. Kualitas pendidikan ditentukan oleh kekuatan modal. Yang punya uang bisa masuk sekolah unggulan dengan kualitas pendidikan optimal; sarananya juga serba lengkap (mulai dari komputer berikut fasilitas internet, perpustakaan, laboratorium, hingga gedung yang full AC).

Yang tidak punya uang harus siap-siap dengan mutu pendidikan yang serba kurang. Jangan mimpi untuk bisa bersekolah tinggi. Makin tinggi sekolah, makin mahal biayanya. Padahal bagi yang miskin, jangankan pendidikan yang mahal, untuk makan saja susah.

Diskriminasi pendidikan pada gilirannya akan menimbulkan konflik sosial. Orang kaya dengan pendidikan yang bagus tentu memiliki peluang kerja yang lebih baik dengan penghasilan yang tinggi.

Sebaliknya, yang miskin, karena SDM-nya kurang baik, akan lebih sulit mencari pekerjaan dengan gaji yang layak. Jadilah di tengah masyarakat muncul polarisasi antara mereka yang miskin dan yang kaya. Kesenjangan ini akan menjadi potensi konflik sosial yang tinggi.

Pendidikan yang diskriminatif ini juga akan memperlemah negara. Negara akan gagal menciptakan generasi muda yang berkepribadian dan berkualitas.

Mahalnya biaya pendidikan adalah buah rezim kapitalis. Sekolah dalam pandangan kapitalis tidak lebih dari pabrikan yang akan menghasilkan manusia-manusia dengan SDM yang murah dan mudah dieksploitasi.

Biaya pendidikan yang mahal bagi masyarakat memaksa berbagai perguruan untuk membuka "program khusus" untuk menghasilkan tenaga kerja "siap pakai".

Sekolah tidak lebih dari produsen tenaga kerja pesanan pasar. Lembaga pendidikan akhirnya lebih berorientasi pada bagaimana menjadikan anak-anak didiknya tenaga terampil, sementara faktor pembinaan kepribadian mereka cenderung terabaikan.

Orientasi pendidikan peserta didik pun tidak lebih dari: cepat lulus, segera mendapatkan pekerjaan yang layak, kawin, dan sesegera mungkin mengembalikan modal orangtua--walaupun dalam realitasnya tidak sesederhana yang dibayangkan.

Kenyataan justru berbicara lain. Lulusan dari beberapa perguruan tinggi semakin menambah jumlah pengangguran.

Pendidikan Era Islam

Sejarah Islam mencatat kebijakan para Khalifah yang menyediakan pendidikan gratis bagi rakyatnya. Sejak abad IV H para Khalifah membangun berbagai perguruan tinggi dan berusaha melengkapinya dengan berbagai sarana dan prasarananya seperti perpustakaan.

Setiap perguruan tinggi itu dilengkapi dengan "iwan" (auditorium), asrama mahasiswa, juga perumahan dosen dan ulama. Selain itu, perguruan tinggi tersebut juga dilengkapi taman rekreasi, kamar mandi, dapur dan ruang makan (Khalid, 1994).

Pada era Khilafah Utsmaniyah. Sultan [Khalifah] Muhammad al-Fatih (w. 1481 M) juga menyediakan pendidikan secara gratis. Di Konstantinopel (Istanbul) Sultan membangun delapan sekolah.

Di sekolah-sekolah ini dibangun asrama siswa, lengkap dengan ruang tidur dan ruang makan. Sultan memberikan beasiswa  bulanan untuk para siswa. Dibangun pula sebuah perpustakaan khusus yang dikelola oleh pustakawan yang cakap dan berilmu (Shalabi, 2004).

Namun, perlu dicatat, meski pembiayaan pendidikan adalah tanggung jawab negara, Islam tidak melarang inisiatif rakyatnya, khususnya mereka yang kaya, untuk berperan serta dalam pendidikan.

Melalui wakaf yang disyariatkan, sejarah mencatat banyak orang kaya yang membangun sekolah dan universitas. Hampir di setiap kota besar seperti Damaskus, Baghdad, Kairo, Asfahan, dan lain-lain terdapat lembaga pendidikan dan perpustakaan yang berasal dari wakaf (Qahaf, 2005).

Dengan Islam rakyat akan memperoleh pendidikan formal yang gratis dari negara. Adapun melalui inisiatif wakaf dari anggota masyarakat yang kaya, rakyat akan memperoleh pendidikan non-formal yang juga gratis atau murah bagi rakyat.

Karena pendidikan adalah tanggung jawab negara. Sudah seharusnya memberikan penyediaan fasilitas dan biaya pendidikan yang murah bahkan gratis untuk semua warga negara tanpa membedakan kaya atau miskin.

Walhasil, kapitalisme harus segera ditinggalkan, dan kita segera kembali ke sistem Islam. Ketika umat Islam diatur berdasarkan syariah Islam di bawah naungan Khilafah Islam, umat Islam mengalami masa keemasan pendidikannya.[MO/ad]

Oleh: Sri Wahyuni, S.Pd

Mediaoposisi.com-Runtuhnya khilafah pada 3 Maret 1924 menyisakan pilu mendalam bagi umat muslim. Betapa tidak, kejadian yang sudah berlalu 95 tahun, namun dampaknya masih terus kita rasakan hingga hari ini.

Kaum muslim hidup terlunta-lunta, keadilan begitu sulit didapatkan, nyawa mereka tak lagi berharga. Disana, di China kaum muslim tak diberi kebebasan bahkan hanya untuk sekedar memenuhi hajat ke kamar mandi. Mereka tak diizinkan menunaikan sholat dan aktivitas ibadah lainnya.

Mereka pun harus pasrah ditempatkan di kamp-kamp sempit tanpa alas dan bantal empuk. Jika mereka melawan maka berbagai senjata tajam siap melukai tubuh mereka bahkan menghilangkan nyawa mereka sekalipun.

Hal yang tak jauh berbeda terjadi di Myanmar, kaum muslim disana diburu bak hewan buruan. Begitu pun yang terjadi di Palestina, telah sejak lama mereka mendapat perlakuan yang tak manusiawi, rumah-rumah mereka dihancurkan, nyaris tak ada tempat aman bagi mereka untuk berlindung.

Di negeri ini pun kaum muslim sulit mendapatkan keadilan, hanya karena ujaran “Ideot” seorang Ahmad Dhani harus berurusan dengan hukum.

Padahal di lain sisi Victor Laiskodat dapat bebas dari hukum meski terbukti telah menista agama Islam. Dalam kasus lain, seorang muslim yang baru terduga teroris harus kembali kepada keluarganya dalam kondisi tak bernyawa.

Kehinaan dialami pula oleh kaum perempuan pasca runtuhnya Khilafah. Perempuan menjadi obyek pemuas nafsu kapitalis. Mereka dijadikan sebagai komoditas murahan dan obyek kesenangan kaum lelaki. Parahnya hal tersebut tak banyak disadari oleh kaum perempuan.

Materi dianggap sebagai tolak ukur kebahagiaan, sementara itu nilai-nilai agama tak lagi dipedulikan. Demi memiliki kehidupan mewah apapun pekerjaan dilakoni, dari jual suara hingga jual diri menjadi pemandangan yang seolah harus dimaklumi. Rasa malu tak lagi dimiliki, bahkan bergoyang dengan pakaian mini dianggap seni.

Di lain sisi, mereka yang masih memegang teguh nilai-nilai agama harus turut menjadi korban. Tak jarang demi mencukupi kebutuhan mereka harus banting tulang, bekerja berjam jam lamanya, bahkan terkadang harus keluar dari fitrahnya sebagai “Ummu Wa Rabbatul bait” yang seharusnya menemani tumbuh kembang putra-putrinya, mempersiapkan mereka menjadi generasi emas pengukir peradaban Islam. Namun  peran mulia tersebut harus rela ditanggalkan.

Sementara itu di masa keemasan Islam, kedudukan perempuan sangat dimuliakan, begitu mulianya kaum perempuan, Allah abadikan mereka dalam salah satu surat Al-qur’an yaitu surat An-nisa.

Kehormatan mereka pun terlindungi, seperti di masa Khalifah al-Mu’tashim Billah, tatkala seorang wanita dilecehkan kehormatannya, Sang Khalifah bersegera mempersiapkan pasukannya untuk menyelamatkan wanita tersebut.

Hal serupa ditunjukkan oleh sultan al-Hajib al-Manshur, salah seorang pemimpin daulah Amiriyah di Andalusia yang menggerakkan pasukan besar untuk menyelamatkan tiga wanita yang menjadi tawanan kerajaan Navarre.

Tak hanya itu perempuan memiliki peran yang sangat strategis dalam berkontribusi membangun sebuah peradaban yang agung. Sebut saja khadijah ra, Istri tercinta rosulullah yang menjadi sumber kekuatan beliau dalam mengemban risalah Islam dan pendukung setia beliau dalam berdakwah.

Ada pula sosok Fatimah Al Fihri pendiri universitas pertama di dunia yang kiprahnya di dunia pendidikan tak diragukan lagi.

Mariam al asturlabi penemu astrolab yang dibuat seperti GPS, dengan alat tersebut dapat digunakan untuk menentukan arah kiblat dengan benar, ketepatan waktu serta astronomi. Dan masih banyak lagi perempuan-perempuan lain yang menorehkan tinta emas dalam sejarah peradaban Islam.

Hilangnya perisai umat membuat kaum muslimin khususnya perempuan kehilangan peranannya yang mulia sebagai seorang ibu, istri, dan sekaligus pengukir peradaban.

Tak ada lagi pelindung yang mampu melindungi kaum perempuan sebagaimana yang pernah terjadi di masa kejayaan Islam. Kini saatnya kaum perempuan berjuang bersama umat untuk memperjuangkan kembali tegaknya khilafah agar kemuliaan tersebut segera terwujud.[MO/ad]

Oleh: Ernadaa Rasyidah
(Penulis Bela Islam)

Mediaoposisi.com-Khilafah, ungkapan yang dulu asing, kini mulai terdengar nyaring, dibahas hampir disemua lini. Mulai akademisi, aktivis, pejabat, hingga penikmat warung kopi, menjadikannya topik hangat yang sayang dilewatkan. Mulai dari kota-kota, menjalar hingga ke pelosok desa.

Bagi seorang muslim tentu kita yakin, tegaknya Khilafah adalah keniscayaan dari janji Allah dan kabar gembira dari Rasulullah. Sebaliknya bagi para pendengki, isu khilafah adalah ancaman bagi eksistensi, hingga tak jarang mereka jadikan kambing hitam untuk cari sensasi.

Isu khilafah begitu seksi dan menarik untuk dibahas, terlepas dari pihak yang yang pro maupun yang kontra, boomingnya istilah khilafah tidak bisa dipungkiri adalah buah dakwah dan peran pengembannya.

Istilah khilafah sejatinya berkaitan dengan sistem pemerintahan Islam. Kepemimpinan yang dimaksud adalah pengganti kenabian dalam memelihara urusan agama ini, dan mengatur urusan dunia dengannya.
(Imam al-Mawardi)

Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, menjelaskan makna syar’i Khilafah yang digali dari nas-nas syar’i, bahwa Khilafah adalah kepemimpinan umum bagi seluruh kaum muslim di dunia, untuk menegakkan hukum-hukum syariah Islam dan mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia.

Tegaknya Khilafah adalah ancaman besar bagi peradaban kapitalis barat yang hari ini menjadi punggawa dunia. Hadirnya Ideologi Islam akan menjadi ancaman yang menakutkan sekaligus mematikan terhadap eksistensi penjajahan yang dikakukan oleh barat di negeri-negeri muslim.

Dewan Intelijen Nasional Amerika Serikat (National Inteligent Council/NIC) pada Desember 2004 telah merilis laporan dalam bentuk dokumen yang berjudul Mapping The Global Future.

Dokumen ini berisikan prediksi atau ramalan tentang masa depan dunia tahun 2020 yang salah satu poinnya berisi kebangkitan kembali khilafah Islam, yakni pemerintahan global Islam yang bakal mampu melawan dan menjadi tantangan nilai-nilai barat.

Karenanya, berbagai upaya dilakukan barat untuk menjegal jalan kebangkitan umat. Mulai dari monsterisasi Khilafah, mencitraburukkan Islam dengan aksi-aksi kekerasan, teror, barbar dan lainnya agar umat phobia pada Islam.

Mengkotak-kotakan Islam, bahkan dengan istilah-istilah yang tidak dikenal dalam ajaran Islam, misal dengan sebutan Islam fundamentalis dan Islam moderat.

Kemudian dilakukan politik belah bambu, mendukung satu pihak dan menjatuhkan pihak yang lain lalu membenturkannya. Hal ini dalam rangka melemahkan aqidah dan memecah belah persatuan umat.

Menggempur negeri-negeri kaum muslim dengan ide kebebasan, HAM, sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan), demokrasi, nasionalisme, hingga LGBT agar umat kehilangan jati dirinya sebagai muslim, agar umat berada dalam kontrol barat dalam segala tindakan dan pemikirannya.

Kemenangan Islam adalah Keniscayaan
Allah SWT berfirman:
"Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar (Islam), agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi."
(QS. Al-Fath 48: Ayat 28)

Rasulullah yang mulia melalui lisannya, telah menyampaikan kabar gembira akan hadirnya khilafah 'ala minhajinnubuwwah:

“Akan datang kepada kalian masa kenabian, dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Kemudian, Allah akan menghapusnya, jika Ia berkehendak menghapusnya.

Setelah itu, akan datang masa kekhilafahan ‘ala Minhaaj al-Nubuwwah; dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Lalu, Allah menghapusnya jika Ia berkehendak menghapusnya.

Setelah itu, akan datang kepada kalian, masa raja menggigit (raja yang dzalim), dan atas kehendak Allah masa itu akan datang.

Lalu, Allah menghapusnya, jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu, akan datang masa qraja diktator (pemaksa); dan atas kehendak Allah masa itu akan datang; lalu Allah akan menghapusnya jika berkehendak menghapusnya.

Kemudian, datanglah masa Khilafah ‘ala Minhaaj al-Nubuwwah (Khilafah yang berjalan di atas kenabian). Setelah itu, Beliau diam,”
(HR. Imam Ahmad).

Sudah saatnya umat mengenal jati dirinya sebagai khoiru ummah (umat terbaik), gelar yang Allah sematkan dalam diri kaum mukmin.

Perdaban barat sudah memasuki fase sekarat, yang dengan izin Allah sebentar lagi akan ditaklukkan dalam seruan jihad dibawah naungan panji-panji tauhid (al-liwa dan ar-roya).

Terus lantangkan seruan Khilafah sebagai solusi atas semua problematika yang melanda penjuru negeri. Dengan izin Allah, ghiroh perjuangan dan kebangkitan akan terpancang kuat dalam diri kaum muslim, untuk menyongsong peradaban mulia, yang akan menerapkan Islam secara kaffah, dengan tegaknya Khilafah 'ala kinhajinnuwlbuwah.[MO/ad]

Oleh: Vivie Dihardjo

Mediaoposisi.com-Tak terhitung kegaduhan politik yang terjadi selama kontestasi pilpres dan pileg 2019. Media massa hingga media sosial gaduh dengan berbagai berita, campur aduk antara hoax, non hoax hingga opini terkait pileg dan pilpres.

Demokrasi menghadirkan kebebasan berekspresi. Membuka jalan bagi semua taktik dan intrik menuju kekuasaan. Tak perduli halal atau haram. Semua sah demi tercapainya tujuan yaitu singgasana kekuasaan.

Kegaduhan luar biasa medekati 17 April 2019 adalah mengenai DPT (Daftar Pemilih Tetap) salah satu kubu paslon mensinyalir terjadi penggelembungan suara lebih dari 17 juta hanya untuk wilayah Jawa saja (Hasjim Djoyohadikusumo, ILC, 12 Maret 2019).

Di media sosial diungkap bagaimana satu kartu keluarga bisa memuat ratusan anggota keluarga. Gaduh.

Demokrasi yang diunduh sebagai cara untuk menjalankan sistem politik ternyata hanya memobilisasi suara pemilih saja, kualitas dan kapabilitas paslon tidak teruji dengan ketat.

Fakta-fakta kekinian menggambarkan itu, visi misi calon tidak tergambarkan dengan jelas, namun kegaduhan demi kegaduhan muncul.  Ambil contoh, hoax Ratna Sarumpaet, kisi-kisi debat, hingga kisruh DPT. 

Jika DPT tidak dapat diterima karena dicurigai penuh rekayasa, bagaimana dengan hasil pemilu? Apakah akan bisa diterima oleh pihak yang kalah?

Pentingnya Kepemimpinan

Dalam perspektif islam, pemimpin adalah posisi terpenting dalam tatanan sosial, posisi tertinggi dalam sebuah bangunan bernama masyarakat. Bertanggung jawab atas terselenggaranya kemaslahatan dan tegaknya syariat Allah di muka bumi.

Al Mawardi dalam Al Ahkam As Sulthoniyyah menyatakan, "Kepemimpinan adalah pengganti tugas kenabian dalam menjaga agama dan mengatur urusan dunia dengannya"

Sementara syaikhul islam Ibnu Taimiyyah menyatakan, semua bentuk kekuasaan dalam islam tujuannya untuk menjadikan agama seluruhnya milik Alloh dan kalimat Allah saja yang tertinggi, karena Allah Ta'ala menciptakan makhluk tak lain adalah untuk tujuan ini.

Oleh karena tujuan inilah kitab-kitab suci diturunkan, para Rasul diutus, dan Rasulullah berserta para sahabatnya ikut berjihad (Ibnu Taimiyyah, Majmu Fatawa)

Bagaimana memilih Pemimpin Dalam Islam

Sangat pentingnya kepemimpinan, sehingga islam melarang adanya kekosongan kepemimpinan, bahkan hanya diberi waktu dua (2) hari sebagai waktu maksimal memilih pemimpin.

Merujuk pada peristiwa wafatnya Rasulullah Saw. Para sahabat tidak menyegerakan penyenggaraan jenazah yang mulia itu hingga terpilih Abu Bakar As Shiddiq yang meneruskan estafet kepemimpinan Rasulullah sebagai Khalifah.

Suksesi kepemimpinan adalah cara agar penyelenggaraan kemashalatan umat dan penjagaan terhadap agama (islam) berlangsung lestari (sustainable). Jika begitu maka kepemimpinan bukanlah tujuan tetapi sarana (wasilah) untuk menjalankan ketaatan kepada Allah.

Di dalam sistem islam uslub (cara) memilih pemimpin diperbolehkan untuk disesuaikan dengan tuntutan dan perkembangan zaman selama tidak melanggar ketentuan di dalam syariat.

Pemilihan Umum yang selanjutnya dikenal dengan pemilu merupakan cara untuk mengimplementasikan kedaulatan rakyat, agar hak-hak rakyat dapat disalurkan.

Pemilu berdiri diatas landasan bahwa kedaulatan di tangan rakyat, sehingga rakyat berhak untuk membuat hukum untuk mengatur dirinya sendiri. Inilah yang nyata melanggar syariat, karena kedaulatan hanyalah di tangan Allah sebagai pembuat hukum. Allah berfirman,

 “Apakah hukum jahiliyah yang mereka cari? Dan siapakah yang lebih baik hukumnya daripada(hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin.” (QS. Al-Ma’idah: 50)

Suksesi kepemimpinan semestinya dihindarkan dari praktek-praktek pelanggaran syariat. Suksesi berbiaya besar dikarenakan ada praktek sogok-menyogok, "money politics".

Karena kekuasaan adalah tujuan. Jabatan bukan sebagai amanah tetapi barang yang bisa ditransaksikan, "wani piro".

Suksesi kepemimpinan di alam demokrasi tidak akan menyertakan komitmen untuk menerapkan syariat islam kafah dalam pengelolaan negara dan masyarakat, karena demokrasi adalah anak kandung kapitalisme.

Sementara mayoritas penduduk Indonesia adalah muslim, semestinya syariat islam kafah harus menjadi bagian tak terpisahkan dalam segala aspek kehidupan, termasuk kehidupan politik.

Jadi, sudahlah pemilu berbiaya fantastis, gaduh hingga membelah masyarakat dalam posisi berhadap-hadapan karena berbeda pilihan, juga berpotensi terjadinya sengketa karena ada pihak yang akan merasa dicurangi,  hasilnya, tidak menjamin para calon amanah dan berkomitmen menerapkan syariat islam kafah.

Oleh karena itu, kembali kepada sistem islam sebagai perangkat aturan yang dibuat oleh Allah adalah solusi terbaik menghadirkan suksesi kepemimpinan yang beradab dan diridhoi Allah.[MO/ad]


Oleh : Kasmirawanti, S.s
(Pemerhati Sosial)

Mediaoposisi.com-“Either you with us or you with terrorist”? Inilah pernyataan presiden Amerika kala itu Goerge W Bush, menyikapi peristiwa pasca pengeboman gedung WTC, masa itu tahun 2001, awal mula islam dan kaum muslimin menjadi bulan-bulanan dunia barat.

Melalui pernyataan tersebut, mereka telah berhasil menyematkan slogan kepada Islam adalah teroris dunia. Padahal tidak terbukti bahwa yang melakukan pengeboman itu adalah kaum muslimin, bahkan kala itu kelompok Usamah Bin Laden menjadi kelompok tertuduh dan terlarang.

Maka hasilnya adalah seluruh umat islam di mana saja berada di negeri-negeri islam mayoritas atau berada di negeri barat tetaplah terasing dan menjadi umat tertuduh. Kaum muslimin lagi-lagi kaum muslim menjadi korban.

Tepatnya Jum’at yang seharusnya menjadi hari raya istimewa bagi kaum muslimin, hari raya kedua bagi kaum muslimin, namun hari itu menjadi hari kelam saat sang teroris Brenton Tarrant menembak-kan senapan mesin otomatis yang menewaskan puluhan jamaah yang akan melaksanakan shalat jumat, tepatnya di Masjid Christchurch, New Zealand, Selandia Baru.

Ironisnya, si pelaku berdarah dingin merekam dan melakukan siaran langsung kejadian penembakan tragis yang dia lakukan. Biadab, kata ini sangat tepat untuk mewakili perasaan hati kaum muslimin yang terluka melihat saudara-saudara seaqidah lagi-lagi dibantai dengan sadis.

Seluruh warga dunia memberikan empatinya, namun tak jua menghentak pemimpin dunia muslim, pun mengatakan bahwa ini adalah tindakan teroris. Perih melihat kaum muslimin berjatuhan bersimbah darah di rumah Allah.

Perbuatan bar-bar yang dilakukan sang teroris di lakukan di dua tempat Masjid di New Zealand, Selandia Baru. Tak ayal peristiwa tragis ini menarik perhatian dan empati seluruh warga Selandia Baru.

Padahal jika melihat data keselamatan dunia, Selandia Baru berada di urutan kedua negara teraman di dunia. Namun peristiwa Jum’at berdarah tersebut mengindikasikan bahwa kaum muslimin di mana saja keamanannya tetap terancam, sebab dunia barat telah menyematkan pada umat islam sebagai umat lemah, dan tak memiliki pelindung.

Sehingga kebencian mereka terhadap Islam yang diusung dengan ide Islamophobia menjadikan kaum muslimin tidak memiliki keamanan sama sekali di manapun berada.

Si teroris bernama Brenton Tarrant, usia 28 tahun asal Australia. Bukan tanpa alasan dia melakukan penembakan brutal pada hari itu. Aksi yang dilakukan di hari Jum’at berkah itu telah dia rencanakan sejak 2 tahun lalu.

Dia menargetkan masjid Al-Noor 3 bulan sebelumnya. Dari aksi penembakan atas 2 masjid di New Zealand menewaskan 49 orang. Salah satu alasannya melakukan aksi tersebut karena kebenciannya yang mendarah daging terhadap islam dan kaum muslimin yang disebutnya sebagai imigran putih yang menggempur masyarakat barat .

Seperti dilansir Reuters, Jumat (15/3/2019), Komisioner Kepolisian Selandia Baru, Mike Bush, dalam konferensi pers menyebut korban tewas dalam serangan teroris itu mencapai 49 orang.

Perdana Menteri (PM) Jacinda Ardern telah menyebut penembakan brutal ini sebagai 'serangan teroris' dan mengecamnya. Lebih lanjut, Bush menjelaskan bahwa 41 orang tewas dalam penembakan di Masjid Al Noor, Deans Ave kemudian tujuh orang lainnya tewas di sebuah masjid di pinggiran Linwood dan satu orang tewas saat dirawat di rumah sakit. Bush menyebut penembakan brutal itu 'direncanakan dengan sangat matang' oleh pelaku.(15/3)

Lemahnya Umat Islam Tanpa Perisai
Sedih melihat umat ini bagai buih di lautan namun inilah kenyataannya. Kaum muslimin di mana saja berada dihinakan, dibantai, ditindas dan tak ada satupun pemimpin di dunia islam memberikan pertolongan atas hak-hak hidup kaum muslimin.

Maka, dapat dipastikan tidak menutup kemungkinan akan bermunculan Brenton-Brenton lain yang akan melakukan tindakan yang sama. Selain adanya dukungan serta empati dari warga setempat namun ada juga yang beranggapan bahwa pembantaian sadis yang dilakukan oleh sang teroris adalah akibat dari melimpahnya imigran muslim datang ke Selandia Baru.

 Pernyataan kontroversial ini datang dari Senator Australia Fraser Anning menyalahkan imigran Muslim atas teror di Christchurch, New Zealand (Selandia Baru).

Teror tersebut menewaskan sebanyak 50 orang. Anning yang dikenal kontroversial menyebut penembakan massal yang dilakukan Brenton Tarrant dan sejumlah pelaku lain itu menyoroti meningkatnya ketakutan atas bertambahnya keberadaan Muslim.

Anning yang mewakili negara bagian Queensland di Senat Australia itu, berkomentar lewat serangkaian cuitan di Twitter. "Penyebab pertumpahan darah sesungguhnya di jalanan Selandia Baru hari ini adalah program imigrasi yang memungkinkan kaum Muslim fanatik untuk bermigrasi ke Selandia Baru," tulis Anning dalam salah satu cuitannya seperti dilansir dari The Telegraph, Jumat (15/3).

Pernyataan kontroversial memicu aksi nekat seorang remaja berusia 17 tahun bernama Will Connolly. Connolly mengepruk kepala Anning yang sedang diwawancara media dengan menggunakan telur hingga telur tersebut pecah berantakan ke pakaian Anning.

Alhasil pada saat itu para penjaga keamanan menjauhkannya ke lantai, meski sempat di cekik namun akhirnya dia dilepaskan oleh kepolisian setelah diperiksa kepolisian setempat.

Sementara itu petisi untuk mencopot Anning, senator Australia yang menyebut Imigram Muslim penyebab teror di New Zealand, dibuat di change.org. Hingga saat ini hampir satu juta orang menandatangani petisi berjudul 'Remove Fraser Anning from parliament' itu.

Kaum muslimin benar-benar menjadi incaran di mana saja. Framing jahat terhadap islam telah berhasil membius dunia barat untuk berlaku apa saja terhadap islam dan kaum muslimin. Padahal islam sangat melarang kekerasan dan pembunuhan. Begitupun kaum muslimin tidak pernah sedikitpun menumpahkan darah orang-orang diluar dari aqidah islam.

Sehingga sangat tidak adil jika tuduhan-tuduhan rasis dan menebarkan kebencian terhadap islam adalah alasan membunuh ataupun membantai umat islam.

Umat islam selama 95 tahun tanpa pelindung, tanpa khilafah menjadi umat yang didzolimi di negeri manapun. Isu terorisme, radikalisme, dan lain sebagainya seolah melekat pada tubuh kaum muslimin. Sehingga kaum barat begitu mudah berlaku semaunya terhadap umat mulia ini. Benarlah kata baginda Nabi saw bahwa umatnya kelak bagaikan buih di lautan.

Rasulullah Saw, bersabda:
 “Nyaris orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian, seperti halnya orang-orang yang menyerbu makanan di atas piring.”

Seseorang berkata, “Apakah karena sedikitnya kami waktu itu?” Beliau bersabda, “Bahkan kalian waktu itu banyak sekali, tetapi kamu seperti buih di atas air. Dan Allah mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian serta menjangkitkan di dalam hatimu penyakit wahn.”

Seseorang bertanya, “Apakah wahn itu?” Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Ahmad, Al-Baihaqi, Abu Dawud)

Umat Islam mulia Dengan Khilafah
Selama 95 tahun umat islam hidup di bawah penindasan dan terdzolimi di seluruh belahan bumi ini, baik di negeri mayoritas muslim atupun di negeri minoritas seperti yang telah terjadi di New Zealand, Selandia Baru. Umat islam tanpa khilafah bagai anak ayam kehilangan induk.

Tak tau arah dan hidup dalam framing jahat serta menyesatkan yang dialamatkan kepada umat mulia, Rasulullah, saw. Harga darah kaum muslimin di negara dengan jumlah umat islam minoritas terasa begitu murah.

Padahal Al-Imam al-Jalil Syaikh Izuddin bin ‘Abdissalam yang dikenal dengan julukan Sulthan al-Ulama pernah mengatakan:

“Jika khilafah tiada, jalan-jalan takkan aman bagi kita. Orang lemah jadi santapan orang kuat di antara kita.”

Wajib atas kaum muslimin sedunia, termasuk yang ada di Indonesia, peduli kepada urusan kaum muslimin, melindungi mereka umat islam di belahan bumi lainnya; memelihara keimanan dan keislaman mereka sekaligus mencegah mereka dari kedzoliman para pembenci dan teroris.

Maka tak ada yang bisa melindungi umat mulia ini di mana saja, kecuali dengan hadirnya perisai (junnah) yang akan melindungi jiwa, harta dan kehormatan kaum muslimin yaitu tegaknya Khilafah Islamiyah di muka bumi ini dengan ijin Allah SWT.

Rasulullah SAW, bersabda:
“Sesungguhnya al-imam itu (laksana) perisai, dimana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan kekuasaannya.” (HR.Al-Bukhari&Muslim)