Oleh: Mochamad Efendi
(Pengamat el-Harokah Research Center)


Mediaoposisi.com- 155 buku agama akan dirombak oleh menteri agama karena kontennya bermasalah, tidak sesuai dengan keinginan penguasa rezim. Salah satu konten bermasalah adalah tentang khilafah. 

Jika khilafah adalah ajaran Islam, harusnya tidak masalah diajarkan pada pelajaran agama Islam. Kita tidak boleh memilih hanya ajaran yang disukai saja. Dalam Islam, kita diajari untuk berislam secara kaffah dan itu adalah perintah Allah.

Islam adalah ajaran sempurna yang tidak mungkin bermasalah bahkan jika diterapkan secara kaffah akan membentuk tatanan masyarakat ideal yang Islami. 

Lalu siapa yang bermasalah? Tentunya pemikiran manusia yang lemah dan banyak keterbatasannya sering bermasalah oleh karena itu kita butuh aturan ideal dari yang menciptakan manusia agar segala permasalahan bisa diselesaikan dengan benar, tepat dan tuntas.  

Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi mengatakan kebijakan perombakan materi buku pelajaran agama Islam yang mengandung konten bermasalah, termasuk khilafah sudah dilakukan sejak periode Menag terdahulu. Namun dia tak menyebut siapa Menag sebelumnya yang ia maksud. 

"(Saya) belum secara teknis, tapi kelompok kerja sudah disusun dan sudah mulai bekerja sebelum saya masuk," kata Fachrul saat ditemui usai menghadiri Indonesia Sharia Economic Festival di JCC Senayan, Jakarta, Selasa (12/11). (http://kumbanews.com/155-buku-agama-sd-hingga-sma-dirombak-kemenag-termasuk-soal-khilafah/)

Harusnya Islam diajarkan apa adanya utuh tanpa harus dikurangi maupun ditambah. Jika ada yang tidak sesuai dengan pemikiran kita, pasti ada yang salah bukan pada ajaran Islam tapi pada pemikiran manusia yang lemah yang terkadang tidak mampu melihat kebenaran. 

Kita harus menerima apapun yang berasal dari ajaran Islam jika dalilnya kuat bersumber dari hukum Islam, meskipun hati kita tidak sepakat. Itulah bukti keimanan kita.

Bukan khilafah yang bermasalah tapi isu radikalisme yang merupakan agenda barat yang bermasalah. Kebencian terhadap Islam dan phobia akan tegaknya Khilafah membuat barat menghembuskan isu radikalisme. Deredikalisasi adalah bukan produk Indonesia dan pasti tidak tepat jika diterapkan di negeri yang mayoritas Muslim.

Radikalisme bermasalah karena menghembuskan benih-benih kebencian pada umat Islam. Diakui atau tidak bahwa radikalisme telah membangun framing buruk terhadap Islam. Yang mengibarkan bendera tauhid diinvestigasi dan dikriminalkan. Khilafah dianggap ajaran radikal. 

Cadar dan celana cingkrang dilarang dan dianggap menyebarkan benih-benih radikalisme. Bahkan seorang anak SD kelas 5 yang mengatur dirinya dengan sistem pergaulan Islam dianggap memiliki virus-virus jahat yang akan tumbuh menjadi benih redikalisme.

Fakta menunjukkan semua yang berbau Islam kaffah dan militansi terhadap keyakinan dianggap radikalisme. Padahal, seorang Muslim harus memiliki keyakinan kuat pada agamanya, Islam agar tidak mudah dipengaruhi dan diwarnai oleh kebiasaan buruk yang merusak generasi.

Seorang muslim yang bangga dengan agamanya jangan dituduh menyimpan benih radikalisme. Jangan kaitkan militansi  dalam beragama dengan aksi teror yang merusak. Dalam Islam perbuatan terorisme sangat dikutuk keras. Jika muslim punya kayakinan kuat terhadap agamanya, dia tidak akan melakukan tindakan terorisme.

Tapi umat Islam jangan selalu dipojokan dan dianggap menyebarkan radikalisme. Radikalime bisa muncul karena rezim yang burbuat dzalim. Perlakuan tidak adil pada umat bisa menjadi penyebab aksi teror yang merusak.

Ajaran Islam tidak bermasalah. Pihak yang selalu berfikir buruk terhadap Islam yang bermasalah. Mereka yang membenci Islam yang menyebarkan virus radikalisme yang bisa memicu tindakan kekerasan. Jadi siapa sebenarnya yang bermasalah?



Oleh : Zulfa Rasyida
(Pengemban Dakwah, Pemerhati Sosial)

Mediaoposisi.com-  Kebutuhan manusia dibagi menjadi tiga, kebutuhan primer, sekunder, dan tersier. Dalam hal ini, pakaian adalah salah satu kebutuhan primer. Semua manusia memerlukan pakaian.

Jenis pakaiannya seperti apa adalah pilihan masing-masing individu. Membuka atau menutup aurat adalah jalan yang masing-masing orang pilih.

Bicara soal pakaian, ada yang sedang viral diperbincangkan dan dipermasalahkan. Cadar dan celana cingkrang. Ada apa dengan keduanya? Mari kita selami.

Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi mengatakan berencana melarang pengguna niqab atau cadar untuk masuk ke instansi milik pemerintah. Hal itu ia katakan karena alasan keamanan usai penusukan mantan Menkopolhukam Wiranto.

Fachrul mengatakan rencana itu masih dalam kajian. Namun aturan itu sangat mungkin direkomendasikan Kemenag atas dasar alasan keamanan.

"Memang nantinya bisa saja ada langkah-langkah lebih jauh, tapi kita tidak melarang niqab, tapi melarang untuk masuk instansi-instansi pemerintah, demi alasan keamanan. Apalagi kejadian Pak Wiranto yang lalu," kata Fachrul dalam Lokakarya Peningkatan Peran dan Fungsi Imam Tetap Masjid di Hotel Best Western, Jakarta, Rabu (30/10).

Melarang niqab masuk ke instansi-instansi pemerintah dengan alasan 'keamanan' sepertinya kurang masuk akal. Katanya dalam demokrasi bebas berpakaian macam apapun, sepertinya multi fungsi.

Alasannya adalah karena cadar dan celana cingkrang merupakan ciri dari 'teroris' dan orang-orang 'radikal'. Benarkah pernyataan tersebut?

Disini penulis tidak akan membahas lebih rinci pada kata 'teroris' namun akan lebih mengulas tentang 'radikal'.

Apa itu radikal?

Jika kita kembalikan pada KBBI artinya kurang lebih adalah secara mendasar (sampai kepada hal yang prinsip) atau maju dalam berpikir dan bertindak.

Sepertinya tidak ada yang salah bukan dengan makna radikal itu sendiri? Lantas, apa masalahnya?

Ternyata saat ini, kata radikal adalah diartikan amat keras menuntut perubahan (undang-undang dan pemerintahan). Dampaknya kepada kelompok-kelompok atau ormas-ormas yang dianggap menuntut perubahan UU dan pemerintahan akan dicabut badan izinnya.

Kelompok atau ormas yang dianggap radikal oleh pemerintah adalah kelompok atau ormas yang mengkritik pemerintah, menuntut perubahan peraturan, dan tidak sesuai ideologi bangsa.

Ciri dari kelompok atau ormas tersebut selalu diidentikkan dengan ciri-ciri muslim. Termasuk wanita bercadar dan lelaki bercelana cingkrang. Mengapa demikian?

Sudah cukup lama dan bisa dibilang basi sebenarnya isu-isu tindak kejahatan yang pelakunya selalu dicirikan sebagai seorang muslim. Mulai dari kejadian 11 September 2001 yakni pembajakan pesawat jet penumpang yang dilakukan oleh suatu kelompok.

Kejadian yang diduga kelompok Islam al-Waeda yang dipimpin Osama bin Laden ini sempat viral dan membuat masyarakat New York saat itu bertanya-tanya apa itu Islam dan bagaimana Islam.

Ketika melihat ciri dan organisasi mana mereka bergabung justru isu Islam adalah teroris tidak logis. Berbondong-bondong non kafir saat itu menjadi muallaf.

Kasus bom bali, bom panci, bom Paris, dan pembomban di dunia selalu ditemukan pelakunya adalah seorang muslim. Memakai pakaian khas muslim dan mengatasnamakan jihad fisabilillah.

Lucunya, semua pelaku tindak kriminal yang mengatasnamakan dirinya muslim selalu membawa data dirinya. Mulai dari KTP hingga KK. Pertanyaannya, Buat apa?

Jika kita pikirkan secara rasional, pelaku tindak kriminal apapun tidak akan sempat membawa data diri selengkap itu untuk melakukan tindak kriminal. Mereka hanya akan fokus bagaimana cara menyalurkan 'bakat' kriminalitasnya kepada para korbannya.
Kenapa selalu dicirikan sebagai seorang muslim? Benarkah mereka muslim? Ada apa dibalik semua ini?
Harusnya pertanyaan-pertanyaan semacam ini sudah sering muncul di kepala kita dan, harusnya juga kita mencari tahu jawaban yang paling tepat. Mengapa muslim yang menjadi tersangka?

Umat Islam pernah berjaya, masa keemasannya pernah tertancap, dan wilayah kekuasaannya adalah 2/3 dunia. Bisa dibayangkan betapa agungnya peradaban saat itu.

Saat dimana Eropa kumuh, kotor, dan bodoh, adalah zaman gemilangnya emas di puncak kejayaan. Saat Eropa gelap dan becek, Daulah Islam terang benderang dan jalanan beraspal.

Pernahakah kita mendengar hal ini? The Dark Age mungkin pernah kita dapatkan dalam sejarah, tapi dibali The Dark Age itu ada The Golden Age yang disembunyikan.

Bangkitnya Islam adalah momok terbesar bagi negeri-negeri Barat. Mereka percaya bahwa setelah runtuhnya kekhilafahan Turki Utsmani saat itu maka akan tegak kembali khilafah di masa mendatang.

Berbagai macam propaganda dan tren mereka viralkan. Mulai dari dijauhkannya bahasa Arab dikalangan kaum muslimin, hingga pakaian yang mengikuti mode.

Food, Fun, and Fashion adalah satu dari sekian banyaknya metode yang mereka pakai guna menjauhkan umat Islam dengan Islamnya sendiri. Menyebar virus-virus Islampobia agar Barat menjadi kiblat peradaban.

Tentu saja tujuan mereka agar umat Islam lupa dengan Islam mereka. Sehingga kebangkitan Islam itu bisa delay lebih lama lagi.

Meski berbagai cara apapun mereka memerangi umat Islam dengan pemikiran asing dan hudaya Barat, tetap saja mereka tidak akan mampu membohongi diri mereka bahwa Islam pasti tegak.

Mereka saja percaya, bagaimana dengan kita?

Akankah kita termakan oleh berbagai isu yang dilontarkan sedangkan mereka menutupi kebiadaban mereka terhadap saudara-saudara kita di Palestina, Suriah, Myanmar, Aleppo, Uyghur, dan lainnya, atau kita mau membuka mata betapa kejamnya mereka.

Harusnya kita lebih yakin dengan akan bangkitnya umat Islam karena kita punya harapan disisi Allah yang mereka tidak punya. Orang-orang kafir itu bisa memetik bunga namun tidak bisa menunda musim semi untuk datang. Teruslah berjuang para penggenggam bara Islam, bagimu adalah hujjah dihadapan Illahi Rabbi.


Oleh : Sukma Oktaviani
Mediaoposisi-Peran ayah dalam keluarga memang sangat penting. Sosok ayah seharusnya mampu menjadi teladan bagi anak-anaknya. Terutama, bagi setiap anak perempuan ayah merupakan cinta pertamanya. Apabila peran ayah menghilang, atau kegagalan peran ayah terjadi maka sangat berimbas sekali pada perilaku anak-anaknya. 

Namun begitu mirisnya dizaman ini peran ayah sungguh tergerus oleh virus-virus perusak pemikiran. Beberapa kasus perihal pelecehan ayah terhadap anak perempuannya sudah bukan lagi momok yang aneh dan menakutkan ditelinga kita bukan? Sebagai bukti beberapa waktu belakangan ini terjadi hal yang sangat memilukan.

Ayah bernama Munirul (36) asal Gedangan, Kabupaten Malang tega mencabuli putri kandungnya sendiri berinisial AG (16). 

Menurut Kasatreskrim Polres Malang, AKP Tiksnarto Andaru Rahutomo, tersangka melakukan aksinya saat korban tengah tertidur di ruangan rumahnya di Gedangan, Kabupaten Malang.
"Tempat tinggal tersangka memang hanya ada satu ruangan, di rumah itulah yang selama ini menjadi tempat beristirahat sekaligus beraktivitas bagi tersangka, istri, dan anaknya (korban)," kata Andaru.

Pelaku mencabuli putri kandungnya saat korban tengah tidur di samping ibu kandungnya. "Aksi pencabulan ini dilakukan tersangka dengan cara mengerayangi organ vital korban," lanjut Andaru.
Korban sebenarnya bukan mau diperlakukan bejat tersebut, namun tersangka kerap kali melakukan perbuatan kasar terhadap korban dan ibunya yang juga istri tersangka sendiri.

"Korban pasrah diperlakukan begitu lantaran tersangka dikenal sebagai sosok yang tempramental. Selain sering berbuat kasar kepada istrinya, korban juga pernah dimarahi hingga dianiaya oleh MN," terangnya dilansir Okezone, Jumat (15/11/2019).

Ironis, orang tua yang terutama ayah sejatinya harus menjadi pelindung bagi keluarganya justru malah menjadi perusak masa depan anaknya. Kasus yang didasari akibat psikologi atau temperamental sang ayah ini menjadi bukti semakin tergerusnya fitrah seorang ayah.

Akar Permasalahan

Adanya problem di atas tidak lain dan tidak bukan itu semua akibat berlakunya sistem kapitalisme di negeri kita. Kapitalisme merupakan sebuah ideologi yang dimana dasarnya adalah pemisahan agama dari kehidupan, atas dasar itulah didalam sistem ini segala perbuatan menjadi bebas tanpa batas. Hukum-hukum Allah dianggap tidak penting.

Standar kebahagiaan yang diemban kapitalisme adalah terpenuhiya kebutuhan jasmani dan naluri mereka, sehingga mereka lebih mendahulukan nafsunya. Perzinahan dianggap biasa, pembunuhan dianggap sepele, dan semua kemaksiatan bukan lagi momok yang menakutkan. Hukuman yang diberikan sistem kapitalisme ini pun tak mampu memberi efek jera terhadap individu masyarakatnya.

Begitu rusaknya zaman ini bukan? Tatkala kapitalisme menjadi sistem kebanyakan negara di dunia
Akibat dari dasar dan standar kebahagiaan sistem kapitalisme ini, akhirnya mereka tak mampu mencetak individu-individu yang kuat imannya, taat kepada aturan Allah, dan takut akan adzab yang Allah berikan.

Mereka tak mampu mendidik generasinya, namun hanya mampu merusak generasinya, yang menjadi miris dan menjadi titik keprihatinan kita yakni generasi mayoritas negeri ini adalah Muslim. Selain dari sisi sistem yang tak mampu mendidik individu masyarakatnya, ada pula sisi dimana kapitalisme ini berperan dalam bidang ekonomi.

Ekonomi yang menggunakan sistem kapitalisme ini sangat mencekik rakyat-rakyat yang tak punya modal besar, sehingga para pemilik modal kecil, atau bahkan individu yang miskin, mereka akan tertindas sangat keji. Sehingga, tak aneh jika kini yang kaya semakin kaya, dan yang miskin semakin miskin.

Dari fakta sistem kapitalisme diatas, itulah yang menjadikan seorang ayah pun hilang fitrahnya. Keimanan yang tipis, akibat tidak ada pendidikan agama yang kuat dari negara, hal itu menjadikan dia lupa bahwa dia adalah sosok ayah yang seharusnya menjadi teladan bagi anaknya.

Selain itu, faktor psikologi pun sangat berpengaruh, tempramental yang terjadi pada fakta berita di penjelasan sebelumnya sangat mungkin terjadi akibat stresnya ia menghadapi kebutuhan yang semakin melejat sedang peluang pekerjaan begitu sedikit,

Miris bukan? Sebagai generasi muda yang terutama generasi muslim akankah kita diam saja?

Solusi Fundamental

Dari kegagalan sistem kapitalisme yang kini sedang digaung-gaungkan seharusnya kita sadar bahwa tidak akan mampu sistem ciptaan manusia ini memberikan kesejahteraan, juga penyelesaian yang mengakar terhadap setiap permasalahan

Ketika Islam diterapkan dalam naungan khilafah, khilafah wajib memberikan pendidikan yang baik, terutama pendidikan agama dalam individu masyarakatnya. Tercatat dalam sejarah bagaimana tatkala Andalusia menjadi negeri yang gemilang akibat banyaknya ilmuan Islam disana, ilmuan yang pandai akan ilmu dunia dan akhirat.

Selain itu, khilafah juga wajib menyediakan lapangan pekerjaan bagi rakyatnya. Tercatat di sejarah ketika Rosulullah Saw memberikan uang kepada peminta-minta dengan pesan untuk menggunakan sebagian uang tersebut untuk membeli kapak. Kapak tersebut digunakan oleh sang peminta-minta untuk bekerja mencari kayu bakar dan menjualnya.

Begitu sejahteranya hidup dalam naungan khilafah, khilafah pun memperbolehkan warganya mengelola tanah untuk kebutuhannya. Dalam Islam sangat mengatur juga kepemilikan diantara manusia untuk pendistribusian kekayaan yang telah Allah anugrahkan. Sehingga tidak akan ada pemilik modal yang berkuasa, atau monopoli kekayaan oleh para pemilik modal besar. 
 
Dari kebijakan yang diberikan Islam terhadap hak-hak rakyatnya, maka tidak akan mungkin terjadi permasalahan seperti apa yang terjadi didalam sistem kapitalisme yang diterapkan di negara kita ini. Oleh karena itu, marilah kita berjuang untuk mengembalikan kejayaan Islam, agar segala problematika yang terjadi selesai secara tuntas. Wallahu ‘alam. [MO/SO]
 



Oleh : Zulfa Rasyida
(Aktivis dakwah dan Pemerhati Sosial)

Mediaoposisi.com- Alkisah disuatu hutan hiduplah seekor singa betina dan anaknya. Sang induk sangat menyayangi anaknya meskipun anaknya kurus dan sangat sulit untuk gemuk.

Induk singa betina itu tidak pernah mempermasalahkan anaknya yang kurus, hingga suatu hari induk singa jantan berkomentar bahwa anaknya terlalu kurus, sehingga tidak pantas menjadi penerusnya sebagai raja hutan.

Bagaimanakah respon induk singa betina? Marah? Sedih? Kesal? Pergi dari hutan membawa anaknya? Atau malah menggelonggong anaknya agar terlihat gemuk? Sepertinya mustahil.

Namun faktanya, manusia di zaman ini lebih kejam kepada anaknya daripada seekor induk singa itu.
Selain sapi yang digelonggong demi terjual di hari Qurban agar terlihat gemuk. Ternyata manusia sudah lupa bahwa anaknya juga manusia.

Islampos, Jakarta– Seorang ibu NP (21) menggelonggong anaknya ZNL (2,5) dengan air galon hingga tewas. NP mengaku menyiksa anaknya lantaran stres diancam akan diceraikan oleh sang suami.

“Istrinya stress diancam diceraikan apabila anaknya ini dalam kondisi kurus tidak bisa gemuk,” kata Kanit Reskrim Polsek Kebon Jeruk AKP Irwandhy Idrus kepada wartawan di kantornya, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Jumat (25/10/2019).

Ish.. ish.. ish.. Malangnya manusia. Lebih hewan dari hewan.

Bagaimana bisa seorang ibu dengan naluri keibuannya, naluri kasih sayangnya, nalurinya sebagai wanita, bisa membunuh anak kandungnya sendiri hanya lantaran stress diancam diceraikan oleh suaminya karena anaknya kurus.

Setingkat singa pun tidak mungkin akan melakukan hal keji dan biadab seperti itu bukan? Meskipun singa itu hewan buas dan disegani penghuni hutan, tetap saja pada anaknya ia sayang.

Sudah hilangkah naluri keibuan pada manusia hari ini? Coba kita telisik, apa yang menyebabkan hal ini terjadi.

Sang ibu melahirkan anak kembar yang ternyata salah satunya sulit untuk gemuk. Hingga lama-kelamaan pihak keluarga bahkan suaminya sendiri mempermasalahkannya dan menganggap ia tidak becus mengurus anak-anaknya.

Sebagai wanita, mungkin mendengar ocehan dan kicauan para tetangga atau orang lain dianggapnya sebagai angin lalu saja. Namun lain halnya apabila keluarga sendiri yang menyudutkannya.

Keluarga yang seharusnya menjadi bahu dan telinga mereka berkeluh kesah, justru menjadi bumerang bagi mereka. Seolah memperbaiki nyatanya melukai sendiri.

Dalam hal ini bukan naluri si ibu yang hilang, namun kesadarannya lah yang terkikis. Rasionalnya sudah mati akibat cacian, makian, hingga ancaman yang dilontarkan keluarga tersayang terutama suaminya sendiri.

Dalam keadaan yang tertekan tentunya dan syetan yang berjaya menguasai hati dan pikirannya, ibu itu telah tega menghabisi buah hatinya.

Tentu saja bukan hanya satu kasus yang terjadi, berbagai macam cara pembunuhan dan variasi alasan menjadi faktor terjadinya banyak kasus kriminalitas saat ini. Terutama karena masalah ekonomi dan sosial.

Bukan hanya ibu yang membunuh anaknya, bahkan anak membunuh ayah kandungnya sendiri pun ada di negeri ini.

Betapa seringnya kita mendapatkan berita setiap hari akan adanya pencurian, perampokan, begal, dan semacamnya. Hal yang mendasari pelaku-pelaku kriminal ini adalah masalah ekonomi yang mengerdilkan akal sehat mereka.

Detiknews.com, Depok- Polres Depok mengungkap 17 kasus kejahatan konvensional yang terjadi di kota Depok selama kurun waktu satu bulan terakhir. Total ada 25 tersangka ditangkap.

Ada 17 kasus yang diungkap selama periode bulan Oktober 2019, yakni satu kasus pencurian dengan kekerasan, delapan kasus pencurian dengan pemberatan, enam kasus pencurian kendaraan bermotor, satu kasus pembunuhan, dan satu kasus penggunaan senjata tajam.

Itu baru satu daerah dan yang tertangkap mata. Bagaimana dengan daerah lain? Sepertinya negeri ini memang tidak pernah aman. Tidak pantas lagi kita lanjutkan demokrasi yang tidak rasional ini. Kebebasan yang dijunjung tinggi menjadikan manusianya tidak layak disebut manusia.

Lantas, aturan apa yang seharusnya dipakai untuk mengatur kehidupan manusia?

Tentunya sebagai makhluk, kita harus dan wajib melaksanakan aturan dari Pencipta kita. Aturan Allah Yang Maha Sempurna, Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Dalam masalah ekonomi, Islam mengatur sedemikian rupa agar masyarakatnya makmur. Dengan adanya pos-pos kepemilikan dalam kehidupan akan melahirkan kesejahteraan.

Kepemilikan individu adalah segala sesuatu yang dimiliki oleh individu. Seperti halnya rumah, mobil, pakaian, dan sebagainya. Kepemilikan umum adalah air, api, dan padang rumput yang menjadi hak milik seluruh masyarakat. Kepemilikan negara adalah tanah dan harta rampasan perang sebagai kas negara.

Ketika pos-pos kepemilikan ini diterapkan, tentunya masyarakat tidak perlu lagi memusingkan masalah ekonomi, tidak akan bingung tempat bernaung, dan tidak akan saling membunuh.

Air, api, dan padang rumput adalah kepemilikan masyarakat yang dikelola oleh pemerintah atau masyarakat itu sendiri dan akan diberikan kepada masyarakat secara gratis. Ketika air, gas atau bahan bakar, dan tanah gratis, tentu tidak perlu risau masalah ekonomi.

Selain masalah ekonomi, yang salah dari sistem saat ini adalah sistem pendidikannya. Sistem pendidikan yang mengabaikan fitrah manusia tidak patut untuk dipertahankan. Pendidikan yang hanya berorientasi pada menjadi pekerja, sangat tidak membangun peradaban manusia.

Islam adalah solusi terbaik salah satunya dalam hal sistem pendidikannya. Pendidikan dalam Islam adalah bukan hanya soal karakter dan outputnya menjadi pekerja alias buruh. Sistem pendidikan dalam Islam memberikan penanaman akidah sebagai akar dalam manusia.

Akidah yang lahir dari pemikiran akan melekat dan bertahan lama. Dalam hal ini, unsur keimanan dikokohkan. Agar cendekiawannya lahir menjadi pribadi yang tidak hanya cerdas dalam disiplin ilmu dunia, tetapi juga memiliki ketaatan yang tak tertandingi.

Ketika ketaatan telah tertanam, maka karakter dan pola pemikiran manusianya akan positif. Tidak akan mudah tersulut emosinya dan berpikir kritis sebelum melakukan segala sesuatu.

Sangat berbanding terbalik dengan sistem kapitalis sekularisme yang tidak sesuai dengan fitrah manusia ini. Melahirkan manusia-manusia yang jauh dari kata bangkit dan sejahtera. Masihkah kita diam dengan kekacauan ini?

Sebelum negeri tercinta ini pada khususnya dan dunia pada umumnya semakin gila dengan sistem rancu buatan manusia. Buka mata kita untuk menjadikan Islam sebagai solusi fundamental dan jadilah para pejuangnya.



Oleh : Sukma Oktaviani
(Aktivis Dakwah, Mahasiswa)

Mediaoposisi.com- Generasi muda adalah aset yang mahal, dan ia tak ternilai harganya. Dalam sejarahnya kemajuan suatu bangsa adalah bagaimana kondisi pemudanya. 

Begitu pentingnya pemuda dalam suatu bangsa, kaum muda memiliki potensi yang luar biasa, kobaran semangat mereka sulit dipadamkan. Terlebih, jika kobaran semangat itu dibarengi dengan luasnya ilmu pengetahuan, suatu kepastian suatu bangsa akan mengalami perubahan.

Dalam hal ini, bagaimana jika suatu bangsa pemudanya miskin akan ilmu, dan terutama rusak adabnya? Adakah perubahan dimasa depan? Mungkin ada, tapi perubahan itu mendekat pada kehancuran. Seperti negeri kita sekarang ini, banyak sekali kejadian-kejadian memilukan perihal pemuda.

Beberapa waktu lalu terdengar berita tentang seorang guru yang dikeroyok dan ditikam hingga tewas oleh muridnya.

Alexander Warupangkey (54), guru SMK Ichtus, Manado, Sulut, ternyata lebih dulu dikeroyok sebelum ditikam hingga tewas oleh muridnya. Pelaku pengeroyokan sudah ditangkap polisi.

"Dari hasil pemeriksaan 6 saksi yang saat kejadian ada di TKP (tempat kejadian perkara) kepolisian akhirnya menetapkan satu tersangka baru, yakni OU (17), yang ikut mengeroyok korban ketika pelaku FL melakukan aksi penikaman," ujar Kapolresta Manado Kombes Benny Bawensel saat dimintai konfirmasi, Sabtu (26/10/2019).

OU ditangkap polisi pada Jumat (25/10) di rumahnya, Desa Koka, Mapanget Barat. OU merupakan pelajar di SMK Ichtus.

Rencananya, polisi akan menggelar rekonstruksi ulang kasus penikaman guru SMK di Manado. Kondisi psikologis kedua tersangka juga akan diperiksa. (detiknews)

Beberapa data yang penulis baca pengeroyokan dan penikaman di atas terjadi karena murid marah akibat ditegur ketika sedang merokok. Miris bukan? Mau jadi apa negeri kita ini, jika permasalahan generasi muda terus terjadi. Sudah sering bukan kita mendengar berita semacam ini?

Langkah yang pemerintah kita ambil perihal permasalahan ini, smemang patut di apresiasi, terkait penangkapan dan pemeriksaan kondisi psikologis tersangka. Namun, apakah itu semua dapat menyelesaikan masalah generasi muda bangsa ini secara mengakar, hingga tak terjadi kejadian yang semacam ini lagi?

Akar Problematika Generasi
Jika kita amati, kondisi yang terjadi di negeri kita seperti rusaknya generasi muda, semua itu tidak lepas dari pengaruh paham-paham Barat yang memang bertujuan merusak generasi muda, terutama di negeri kita yang generasinya mayoritas muslim.

Paham-paham yang mereka sebarkan, dengan skenario yang sudah mereka rancang, yakni paham liberalisme, sekularisme, dan isme-isme lain yang memang digunakan untuk menginfiltrasi pemikiran generasi muda yang terutama generasi muslim. Semua paham itu mereka sebarkan secara tersruktur dalam bentuk Negara, juga dalam mentuk media-media yang mereka kuasai.

Paham-paham tersebut mengajarkan generasi muda untuk hidup bebas, berbuat tanpa pertimbangan aturan agama. Semua paham itu membuat generasi muda akhirnya mencari kebahagiaan dunia yang sementara saja. Maka tidak heran generasi muda saat ini dengan bebas bisa merokok dilingkungan sekolah, atau bahkan berani membunuh gurunya sendiri karena nafsu nya.

Kondisi generasi muda ini harus menjadi perhatian untuk kita semua, baik masyarakat, orang tua, maupun Negara. Namun, sayangnya orang tua yang seharusnya menjadi rujukan pertama bagi anaknya, pendidik utama bagi anaknya, yang harus menanamkan keimanan, dan membangun ketaatan kepada agama (aturan Allah). Kini, kebanyakan dari mereka malah sibuk mencari materi, hingga banyak anak yang tidak terkontrol pergaulannya.

Meskipun ada sebagian orang tua yang peduli terhadap anaknya, tapi mereka juga hanya memperdulikan perihal kehidupan dunia, pendidikan dunia, dan lupa menanamkan ilmu agama di dalam diri anak-anaknya.

Selain orang tua, seharusnya Negara yang memiliki wewenang besar juga mampu mendidik generasi negeri ini, bahkan mendidik para orang tua agar mereka mampu mendidik anaknya. 

Mirisnya, pada saat ini sistem yang digunakan Negara ini pun adalah sistem yang rusak, sistem yang berjalan tanpa aturan Allah SWT, sistem inilah yang menyebabkan kurangnya perhatian keluarga, dan rendahnya ketakwaan individu.

Sistem di Negara kita ini pun yang telah membuat masyarakat acuh  terhadap kondisi yang rusak disekeliling mereka, karena mereka dituntut fokus pada kehidupan mereka dengan senantiasa mencari materi dan kebahagiaan dunia saja.

Islam Solusi Fundamental

Semua problematika yang sudah kita bahas di penjelasan sebelumnya, semua itu hanya bisa tuntas jika diterapkannya syariat Islam, yang jelas-jelas merupakan aturan yang turun dari pencipta alam semesta ini yakni Allah SWT.

Islam sebagai agama juga sistem kehidupan sudah terbukti selama 13 abad mampu melahirkan  para pejuang Islam, para ilmuan, dan cendekiawan yang hebat. Seperti Abu Qasim Al-Zahrawi atau yang dikenal Barat dengan nama Albucasis beliau adalah ulama dan ahli bedah terkemuka.

Selain itu, Muhammad Al-Fatih sang penakluk Konstantinovel atau Turki sekarang, beliau adalah pemuda hebat di zamannya, zaman dimana Islam menjadi peraturan dalam segala aspek kehidupan. Beliau adalah panglima perang, juga pemuda yang  taat akan syariat Islam.

Pemuda masa peradaban Islam adalah pemuda yang hidup dengan bekal ilmu dan pembentukan mental yang sehat dan kuat, ditopang dengan pembentukan sikap dan nafsiyah yang baik. Kehidupan pemuda di era kekuasaan Islam tidak penuh dengan leha-leha, dan hura-hura. Tetapi kebanyakan dari mereka saling berlomba-lomba dalam menuntut ilmu dan dalam kebaikan.

Tidakkah kita rindu akan peradaban yang menghsilkan generasi-generasi hebat ini? Peradaban yang seluruh aspek kehidupannya diatur oleh Allah SWT. Mari kita peduli akan masa depan generasi negeri kita ini, terutama generasi muslim. 

Marilah kita peduli dengan berjuang dan berkontribusi dalam mengembalikan peradaban Islam di tengah-tengah umat kembali. Wallahu ‘alam